BeritaDaerahEkonomiHukum dan KriminalNasionalOpiniPemerintahanPendidikanPolitikSosial

PAD Pacitan Tak Sampai 20 Persen, Ketergantungan pada Pusat Masih Mengakar

Pacitan,JBM.co.id-Kemandirian fiskal Kabupaten Pacitan masih menghadapi jalan terjal. Dari total target pendapatan daerah 2026 yang mencapai Rp1,53 triliun, Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya dipatok sekitar Rp256,26 miliar. Porsinya bahkan belum menembus 20 persen.

Angka tersebut menjadi gambaran betapa kuatnya ketergantungan keuangan daerah terhadap pemerintah pusat. Sebab, sebagian besar pendapatan yang menopang APBD Pacitan masih berasal dari sumber penerimaan di luar PAD.

Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Pacitan, Deni Cahyantoro, tak menampik kondisi tersebut. Ia menyebut potensi pendapatan daerah Pacitan hingga kini masih sangat bertopang pada pemerintah pusat.

“Memang potensi pendapatan daerah di Pacitan masih sangat bertopang pada pemerintah pusat. Mengingat, target PAD yang ditetapkan hanya di bawah 20 persen atau sekitar Rp256.267.479.297,” kata Deni, Jumat (2/10).

Di tengah waktu yang kian menipis, upaya mendongkrak PAD pun masih terus dilakukan. Hingga September 2026, realisasi pendapatan daerah baru mencapai Rp1.080.569.902.461,10, atau 70,41 persen dari target Rp1.534.700.739.370.

Sementara realisasi PAD tercatat Rp184.349.596.534,12, atau 71,94 persen dari target Rp256.267.479.297.

Artinya, masih ada sekitar Rp71,91 miliar PAD yang harus dikejar hingga penghujung tahun anggaran.

Persoalannya, waktu yang tersisa kurang dari tiga bulan. Ruang untuk mengejar target memang masih terbuka, tetapi Pemkab Pacitan sendiri tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi.

Deni mengakui, mencapai target PAD hingga 100 persen bukan perkara mudah.

“Kalau tercapai 100 persen itu kecil kemungkinan. Kita berharap terus ada peningkatan,” tegasnya.

Kondisi ini kembali menempatkan kemandirian fiskal sebagai pekerjaan rumah bagi Pacitan. Ketika porsi PAD masih berada di bawah seperlima total pendapatan daerah, kemampuan daerah menggali sumber-sumber pendapatan dari potensi ekonominya sendiri menjadi tantangan yang tak bisa diabaikan.

Bukan sekadar soal mengejar angka PAD setiap tahun, tetapi bagaimana Pacitan perlahan memperbesar ruang fiskalnya sendiri agar pembangunan daerah tidak terlalu bergantung pada aliran dana dari pemerintah pusat.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button