BeritaDaerahPemerintahanPendidikan

Menjelang Purna Tugas Di 2027, Sekda Pacitan Titip Pesan tentang Sosok Pengganti

"Birokrasi itu seperti mesin. Jika satu bagian terganggu, semuanya ikut melambat"

Pacitan,JBM.co.id-Di ruang kerjanya yang tak pernah sepi tumpukan berkas, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro tampak tenang.

Namun ada sorot mata yang tak bisa disembunyikan, tatapan seseorang yang sedang menghitung waktu. Hitungan yang kian menuju babak akhir pengabdian sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan.

Waktu terasa cepat berlalu. Enam tahun lebih Heru memikul tanggung jawab sebagai top manager birokrasi kabupaten ujung barat daya Jawa Timur itu.

Dalam waktu satu tahun lebih sekian bulan ke depan, ia harus menanggalkan identitas kedinasan yang melekat lebih dari seperempat hidupnya sebagai seorang birokrat.

Baginya, setiap keputusan yang diambil selama ini bukan sekadar urusan administrasi pemerintahan. Di baliknya ada amanah besar, menjaga stabilitas dan ritme pembangunan daerah.

“Birokrasi itu seperti mesin. Jika satu bagian terganggu, semuanya ikut melambat,” ujarnya pelan ketika ditemui usai rapat koordinasi, belum lama ini.

Heru berbicara dengan runtut, rapi, seolah-olah kata-katanya sudah tertata sedari tadi. Ia tahu benar bahwa pergantian pucuk pimpinan birokrasi akan membawa dinamika baru. Karena itu, soal pengganti dirinya kelak, ia mulai memberi catatan kecil.

Menurut Heru, sosok calon Sekda ke depan harus memiliki prinsip yang selama ini menjadi pedoman hidup para pejabat Jawa: “mikul dhuwur mendhem jero”.

“Siapapun nanti yang ditunjuk, dia harus mampu menjunjung tinggi marwah pimpinan, sekaligus memendam rapat kekurangan yang ada. Pemerintahan ke depan akan menghadapi tantangan yang tidak mudah,” ungkapnya.

Prinsip itu bukan sekadar simbol Jawa. Di tengah tekanan publik, percepatan layanan digital, hingga tuntutan transparansi anggaran, Sekda menjadi tumpuan stabilitas mesin birokrasi.

Heru paham benar, jabatan yang akan ia tinggalkan bukan sekadar kursi formalitas. Di dalamnya tersimpan ratusan keputusan penting dan negosiasi tak terlihat. Jabatan itu menuntut kecakapan diplomasi birokrasi, kemampuan manajemen konflik, serta etika yang kokoh.

Meski masa purna tugas masih menghitung bulan, Heru memberi sinyal akan tetap mengawal estafet kepemimpinan birokrasi agar transisi berjalan mulus. Ia percaya regenerasi kepemimpinan bukan soal siapa, melainkan bagaimana amanah itu dilanjutkan.

“Semoga nanti bisa muncul figur yang mumpuni, berintegritas, dan mampu meneruskan arah pembangunan daerah,” tutupnya.

Kini, di balik pintu ruang rapat tempat ia biasa memimpin arah kebijakan, waktu terus berjalan. Dan Pacitan akan menyaksikan satu babak penting: melepas seorang penjaga ritme birokrasi, sekaligus menyambut harapan baru penggantinya.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button