BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Mengenang Almarhum Hadi Suwarno, Sosok yang Mengabdi Tanpa Pernah Meminta Balas. Gagarin: “Saya sangat kehilangan”

"Suaranya pernah menjadi suara Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Radio Komunikasi Pemerintah Daerah (RKPD) kala itu"

Pacitan,JBM.co.id-Waktu boleh terus berjalan, tetapi tidak semua kepergian mampu segera diterima. Tujuh hari sudah Hadi Suwarno berpulang menghadap Sang Khalik. Namun bagi keluarga, sahabat, rekan seperjuangan, hingga mereka yang pernah mengenalnya, kehadiran pria yang akrab disapa Nano itu masih terasa begitu dekat.

Ia pergi meninggalkan jejak yang tidak dibangun dari gemerlap jabatan ataupun kemewahan, melainkan dari ketulusan, pengabdian, dan keikhlasan yang selama puluhan tahun ia persembahkan untuk masyarakat dan tanah kelahirannya, Pacitan.

Nano bukan sekadar pengusaha optik yang dikenal luas. Ia juga bukan hanya Wakil Ketua Bidang Komunikasi Media, Penggalangan Opini, Ormas, dan Kerja Sama Antar Lembaga DPD Partai Golkar Pacitan. Jauh sebelum itu, hidupnya telah ditempa oleh panjangnya perjalanan sebagai aparatur sipil negara.

Karier pengabdiannya dimulai dari ruang-ruang pemerintahan. Di masa Orde Baru, ia dipercaya menjadi bagian dari protokoler bupati pada tiga periode kepemimpinan daerah. Dengan pembawaan yang tenang, tutur kata yang santun, serta kemampuan public speaking yang mumpuni, Nano menjadi sosok yang akrab di berbagai agenda resmi pemerintah.

Suaranya pernah menjadi suara Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Radio Komunikasi Pemerintah Daerah (RKPD) kala itu.

Ia juga kerap dipercaya menjadi master of ceremony dalam berbagai kegiatan pemerintahan. Sebuah peran yang hanya diberikan kepada mereka yang mampu menjaga wibawa sekaligus menghadirkan kehangatan.

Menjelang akhir masa pengabdiannya sebagai ASN, Nano bertugas di Satpol PP hingga akhirnya memasuki masa purnabakti. Namun pensiun ternyata bukan akhir dari pengabdian. Justru dari sanalah semangatnya menemukan jalan baru.

Ia memilih tetap berada di tengah masyarakat. Dunia politik menjadi ladang pengabdian berikutnya. Sempat mengikuti penjaringan calon wakil bupati melalui Partai Demokrat, perjalanan politiknya kemudian berlabuh di Partai Golkar.

Di partai berlambang pohon beringin itu, Nano bukan tipe politikus yang mengejar sorotan. Ia bekerja dalam senyap, menghubungkan komunikasi, membangun jejaring, menggalang opini, serta memperkuat soliditas organisasi. Baginya, politik bukan semata soal kekuasaan, melainkan tentang menjaga kepercayaan dan merawat kebersamaan.

Wabup Pacitan, Gagarin.
Wabup Pacitan, Gagarin.
Tak heran jika hubungan emosionalnya dengan Wakil Bupati Pacitan, Gagarin, begitu erat. Bagi Gagarin, Nano adalah sahabat perjuangan yang sulit tergantikan.

“Beliau tidak pernah mengeluh setiap kali saya ajak turun ke lapangan. Bahkan sering mengeluarkan biaya pribadi demi kelancaran kegiatan tanpa pernah sedikit pun meminta penggantian,” kenang Gagarin, Selasa (7/7/2026).

Di mata Gagarin, ada satu keistimewaan yang membuat Nano berbeda dari banyak orang.

Ia adalah “ensiklopedia hidup” tentang Pacitan.

Setiap perjalanan menyusuri pelosok desa selalu diwarnai cerita-cerita yang keluar dari ingatannya. Nano hafal sejarah kampung-kampung, mengenal silsilah keluarga para tokoh, memahami asal-usul masyarakat, bahkan mampu menghubungkan setiap peristiwa dengan perjalanan panjang daerah yang dicintainya.

“Beliau sangat paham sejarah dan asal-usul tokoh-tokoh di Pacitan. Itu yang paling membuat saya kagum,” ujar Gagarin.

Yang lebih membekas lagi, kedekatan Nano dengan wakil kepala daerah tak pernah ia manfaatkan untuk kepentingan pribadi. Ia tetap menjaga etika, memegang teguh budaya ketimuran, dan memahami batas antara hubungan pribadi dengan amanah organisasi.

“Beliau dekat dengan saya, tetapi tidak pernah sekalipun meminta jabatan, proyek, ataupun kepentingan pribadi. Justru beliau lebih banyak memberi daripada meminta,” tambah Gagarin.

Kesan serupa datang dari Ketua DPRD Pacitan, Arif Setia Budi. Menurut politikus yang akrab disapa ASB itu, persahabatan yang baru mulai terjalin harus terputus oleh takdir yang tidak pernah bisa ditolak.

“Beliau orang baik. Belum lama ini komunikasi kami semakin dekat, tetapi Allah lebih dulu memanggil beliau,” ucap ASB dengan nada penuh kehilangan.

Kini, Nano memang telah tiada. Namun orang-orang baik sejatinya tidak pernah benar-benar pergi.

Mereka hidup dalam cerita yang terus dikenang, dalam keteladanan yang diwariskan, dan dalam jejak-jejak pengabdian yang tak lekang oleh waktu.

Bagi Partai Golkar Pacitan, kehilangan Nano bukan sekadar kehilangan seorang pengurus. Bagi pemerintah daerah, ia adalah sosok yang pernah mengabdikan hidupnya dengan penuh loyalitas. Bagi sahabat-sahabatnya, ia adalah teman seperjalanan yang selalu hadir tanpa pamrih.

Dan bagi masyarakat Pacitan, Hadi Suwarno telah membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan dari panggung utama. Terkadang, justru mereka yang bekerja dalam diamlah yang meninggalkan warisan paling panjang.

Selamat jalan, Pak Nano.

Semoga Allah SWT melapangkan alam kuburmu, menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Sebab sejatinya, manusia terbaik bukanlah mereka yang paling banyak dipuji ketika hidup, melainkan mereka yang paling banyak dikenang karena kebaikannya ketika telah tiada.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button