
Jbm.co.id-DENPASAR | Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Bali, I Made Sada menegaskan Partai Demokrat Bali tidak boleh takut menghadapi dinamika politik ditengah kuatnya dominasi PDI Perjuangan yang selama ini menjadikan Bali dikenal sebagai “Kandang Banteng”.
Pernyataan tersebut disampaikan Made Sada menyikapi wacana pemisahan pemilu nasional dan pemilu daerah.
Berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), pemilu nasional dan pemilu daerah akan digelar secara terpisah.
Dengan demikian, Pemilu 2029 menjadi pemilu nasional, sedangkan Pilkada kemungkinan berlangsung pada 2031.
Made Sada mengatakan kondisi tersebut justru menjadi tantangan bagi Partai Demokrat untuk terus membangun kekuatan dan mendekatkan diri kepada masyarakat.
Menurutnya, dalam demokrasi tidak mungkin seluruh masyarakat Bali memilih satu warna politik. Dinamika dan perbedaan pilihan politik akan selalu ada di tengah masyarakat.
“Namanya demokrasi, dari sekian banyak masyarakat, tidak mungkin semua masyarakat Bali memilih satu warna saja, tapi dipastikan ada riak-riak dinamika politik,” kata Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Bali, I Made Sada, saat DPD Partai Demokrat Bali menggelar aksi donor darah di Sekretariat DPD Partai Demokrat Provinsi Bali, Jalan Ir. H. Juanda Nomor 4, Renon, Denpasar, Sabtu (5/9/2026).
Made Sada menyebut kelompok masyarakat yang tidak menginginkan satu warna politik menjadi salah satu sasaran Demokrat Bali untuk terus didekati rakyat.
Made Sada menilai keberadaan sejumlah partai politik di Bali membuktikan bahwa pilihan masyarakat tidak sepenuhnya tunggal. Selain PDI Perjuangan, terdapat Partai Gerindra, Golkar, Demokrat, NasDem hingga PSI yang tetap memiliki basis dukungan di Bali. “Oleh karena itu, Demokrat Bali harus tetap semangat,” tegasnya.
Dalam menghadapi kontestasi politik mendatang, Made Sada mengingatkan kader Demokrat agar tidak hanya memikirkan persoalan ongkos politik atau biaya pemilu.
Menurutnya, kiprah dan rekam jejak tokoh-tokoh partai juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Made Sada mengatakan kader harus aktif turun ke masyarakat, membangun empati dan simpati. Dengan begitu, ketika tokoh-tokoh Demokrat maju dalam pilkada maupun pileg, masyarakat sudah memiliki kedekatan dan penilaian positif.
“Dalam konteks pemilu, Demokrat Bali tidak boleh hanya berpikir tentang ongkos atau biaya, tetapi juga tentang kiprah tokoh-tokoh partai politik,” ujarnya.
Jika tokoh partai konsisten hadir di tengah masyarakat, lanjut Made Sada, hal tersebut dapat menjadi modal politik ketika memasuki momentum pemilu.
“Contohnya saya sendiri. Ditengah kuatnya dominasi salah satu partai, kita tetap bisa berkiprah dan akhirnya terpilih,” kata Made Sada.
AHY Masuk Bursa Cawapres
Selain membahas strategi Demokrat Bali menghadapi Pemilu 2029, Made Sada juga menanggapi masuknya nama Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam bursa Calon Wakil Presiden (Cawapres).
Made Sada memaknai positif hasil survei yang menunjukkan AHY mendapat dukungan cukup kuat, termasuk di Bali. Menurutnya, masyarakat Bali sudah mengetahui rekam jejak kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 10 tahun.
“Usaha masyarakat jalan, jualan laku keras, dan selalu berhasil dengan baik. Situasi ekonomi serta kepercayaan dari luar negeri sangat bagus. Pencapaian Pak SBY tersebut berdampak positif pada Partai Demokrat. Sekarang popularitas Mas AHY juga sangat baik. Cara beliau berbicara sangat bagus,” kata Made Sada.
Made Sada juga menilai kinerja AHY ketika menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) di era Presiden Joko Widodo cukup sukses.
Saat ini, AHY menjabat Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dalam Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, AHY merupakan sosok yang cekatan dalam mengambil tindakan. Oleh karena itu, Demokrat Bali melihat adanya peluang politik bagi partai tersebut pada Pemilu 2029.
Meski demikian, Made Sada mengingatkan hasil survei tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keterpilihan seseorang.
Mengenai hasil survei yang menempatkan Mas AHY di posisi lima besar, Made Sada menegaskan hal itu tergantung siapa yang mengadakan survei dan siapa yang memiliki tim survei tersebut.
“Angka survei belum tentu menjadi ukuran pasti keterpilihan seseorang. Namun yang pasti, kami yakin Mas AHY memiliki nama dan citra yang sangat baik saat ini,” terangnya.
Donor Darah Jadi Aksi Nyata Demokrat Bali
Ditengah persiapan menghadapi dinamika politik, Demokrat Bali juga terus menjalankan kegiatan sosial. Salah satunya melalui aksi donor darah bertajuk “Donor Darah: Setetes Darah Anda, Nyawa bagi Sesama” dalam rangkaian HUT ke-25 Partai Demokrat.
Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat umum. Made Sada mengatakan respons masyarakat terhadap kegiatan sosial Demokrat Bali selama ini cukup positif.
Menurutnya, masyarakat selalu proaktif dan tergerak untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan yang digelar Demokrat.
“Contohnya, pada kegiatan di Kantor DPC Badung tanggal 8 Agustus lalu, responsnya sangat luar biasa. Dari target 50 kantong darah, banyak masyarakat yang ingin mendaftar. Meskipun ada persyaratan donor yang ketat, target kita tetap berhasil tercapai. Mudah-mudahan kegiatan hari ini juga berjalan lancar dan mencapai target,” kata Made Sada.
Selain donor darah, Demokrat Bali juga merencanakan kunjungan ke panti asuhan di wilayah Denpasar Selatan dan Denpasar Timur sebagai bagian dari rangkaian aksi sosial.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap masyarakat dapat menilai bahwa Demokrat hadir untuk membantu dan memberdayakan sesama yang membutuhkan,” kata Made Sada.
Sementara itu, puncak peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat akan dipusatkan di Jakarta sesuai instruksi DPP Partai Demokrat.
“Seluruh anggota DPRD, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, diundang untuk hadir di Jakarta sekaligus mengikuti bimtek pada tanggal 7-10 September 2026. Pada tanggal 9 September, kita sekalian menghadiri acara puncak Hari Ulang Tahun Partai Demokrat ke-25,” tutupnya.
Reporter: Ace Wiguna
Redaktur: Putu Wiguna



