Gula Pasir di Tengah Gaya Hidup Modern: Antara Kebutuhan Energi dan Ancaman Penyakit
"Gula pasir tidak dapat serta-merta dianggap sebagai penyebab utama berbagai penyakit. Faktor risiko kesehatan umumnya dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga gaya hidup secara keseluruhan"

Pacitan,JBM.co.id- Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat, konsumsi gula pasir kini menjadi salah satu perhatian utama. Beragam informasi mengenai risiko penyakit yang berkaitan dengan asupan gula berlebih membuat sebagian masyarakat mulai mengurangi, bahkan mereduksi konsumsi gula dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini sejalan dengan munculnya berbagai penyakit tidak menular yang kian banyak ditemukan di era modern, seperti diabetes melitus, obesitas, penyakit jantung, hingga gangguan metabolisme lainnya. Namun di sisi lain, gula pasir masih menjadi komoditas yang diproduksi dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat.
Lalu, seberapa besar sebenarnya dampak konsumsi gula pasir terhadap kesehatan? Dan jika dinilai berisiko, mengapa produksi gula pasir masih terus berjalan hingga saat ini?
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, menjelaskan bahwa gula pada dasarnya merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan tubuh. Permasalahan muncul ketika konsumsi gula dilakukan secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan pola hidup sehat.
Menurutnya, tubuh manusia tetap memerlukan asupan gula dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Karena itu, gula pasir tidak dapat serta-merta dianggap sebagai penyebab utama berbagai penyakit. Faktor risiko kesehatan umumnya dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga gaya hidup secara keseluruhan.
“Yang perlu dipahami masyarakat adalah bukan sekadar menghindari gula, melainkan mengendalikan konsumsinya. Jika dikonsumsi sesuai anjuran dan kebutuhan tubuh, gula tetap memiliki manfaat sebagai sumber energi,” jelas dr. Daru, Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan, produksi gula pasir masih terus berjalan karena komoditas tersebut merupakan salah satu kebutuhan pangan masyarakat dan bahan baku berbagai produk makanan maupun minuman. Pemerintah pun mengatur standar produksi serta mendorong edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsinya.
Dinas Kesehatan Pacitan terus mengajak masyarakat untuk menerapkan pola makan seimbang dengan memperhatikan batas konsumsi gula harian, memperbanyak aktivitas fisik, serta rutin memeriksakan kesehatan. Langkah tersebut dinilai lebih efektif dalam mencegah penyakit dibandingkan hanya berfokus pada satu jenis bahan pangan.
Di era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, kesadaran untuk hidup sehat menjadi kunci utama. Bukan dengan menghilangkan gula sepenuhnya, melainkan dengan memahami fungsi, manfaat, serta risiko yang dapat muncul apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam menjaga kesehatan, sehingga kebutuhan energi tubuh tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kualitas hidup di masa depan.(Red/yun).




