Gede Sutarya Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Over Tourism Menuju The Sacred Destination

Jbm.co.id-BANGLI | I Gede Sutarya dikukuhkan sebagai salah satu Guru Besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Minggu, 25 Mei 2025.
Selain Prof. Dr. I Gede Sutarya, SST.Par., M.Ag., Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., juga mengukuhkan empat orang Guru Besar lainnya atas nama Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA., Prof. Dr. Drs. I Ketut Wisarja, S.Ag., M.Hum., Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H., dan Prof. Dr. Made Sri Putri Purnamawati, S.Ag., MA., M.Erg.

Acara ini dihadiri oleh Prof. Dr. I Dewa Gede Palguna, S.H., M.Hum., Budayawan, Pengelana Global yang juga Alumni UGM dan Cornell University Putu Suasta, Advokat Senior, Ketut Ngastawa, Nyoman Wiratmaja dan Nyoman Baskara, Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha, Anggota DPRD Bali Dr. Somvir dan Ketua Prajaniti Hindu Indonesia (PHI) Bali Dr. I Wayan Sayoga.
Turut hadir, Direktur Pendidikan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Dr. Trimo, M.Pd , Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Perekonomian Dr. I Wayan Ekadina, S.E., M.Si, Rektor IAHN Gde Pudja Mataram, Rektor IAHN Tampung Penyang, Ketua STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ketua STAHN Jawa Dwipa Klaten Jawa Tengah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. Bali, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli, Ketua PHDI Prov. Bali, Ketua PHDI Kabupaten Bangli, Senat UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Begitu pula, acara ini dihadiri oleh Dr. V Ramesh Sastry, Ph.D, MS, MA, Dr. Drs. I Gusti Ketut Widana, M.Si, Drh. I. B. Windia Adnyana, Ph.D, Dr. Drs. I Wayan Mandra, M.Hum, Prof. Dr. Dr (HC) dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM.FINASIM, Gusti Ngurah Anom, Jero Gede Kehen I Putu Gede Astawa.
Hadir pula, seluruh Keluarga Besar Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA, Prof. Dr. I Ketut Wisarja, S.Ag.,M.Hum, Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag.,M.Fil.H, Prof. Dr. Made Sri Putri Purnamawati, S.Ag.,MA.,M.Erg, Prof. Dr. I Gede Sutarya, STT.Par.,M.Ag.
Dalam Orasi Ilmiahnya, Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par., M.Ag., menegaskan pada saat ini, pariwisata Bali sedang menghadapi gejala-gejala over-tourism. Gejala-gejala ini terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisman sampai 6,3 juta setahun yang menimbulkan mencuatnya masalah-masalah lingkungan, masalah sampah, masalah kemacetan dan masalah kriminalitas.
Kunjungan wisman 6,3 juta ini ditambah dengan dengan kunjungan wisnu yang juga terus meningkat menjadi sekitar 10 juta pada tahun 2024, membuat pulau kecil Bali ini hampir didatangi 20 juta penduduk luar Bali pada setiap tahunnya (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2025).
Hal ini menimbulkan masalah-masalah lingkungan yang merembet ke masalah-masalah sosial, seperti kemacetan dan kriminalitas.
“Masalah-masalah ini merupakan gejala-gejala over-tourism yang telah berada di depan mata kita,” kata Prof. Sutarya.
Menurutnya, gejala over-tourism ini seharusnya tidak terjadi, bila merunut perencanaan pariwisata Bali tahun 1971, sebab perencanaan itu berbasis perencanaan pariwisata budaya. Karena itulah maka ahli-ahli yang diundang untuk merencanakannya adalah ahli-ahli dari Perancis yang kental dengan pariwisata budaya.
Perencana-perencana ini menargetkan kunjungan wisman hanya sekitar 750 ribu (Picard, 2008). Target ini telah terpenuhi tahun 1993 dengan kunjungan wisman 885.156 (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2022).
Dengan terpenuhinya target tersebut, Bali justru berkeinginan terus mendatangkan wisman dengan kebijakan pengembangan kawasan wisata tanpa perencanaan yang lebih matang terhadap kapasitas Bali dalam menampung wisatawan.
Disebutkan, Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali menegaskan tujuan pembangunan pariwisata adalah untuk melestarikan budaya, melestarikan lingkungan dan pembangunan ekonomi masyarakat Bali (Pemerintah Provinsi Bali, 2012).
Penegasan Perda Provinsi Bali adalah bagian integral dari pembangunan Pariwisata Berkelanjutan yang menjadi isu utama dalam pembangunan pariwisata dunia (Font et al., 2023).
“Isu ini merupakan bagian dari kesadaran utama umat manusia seperti yang tercantum dalam tujuan-tujuan Veda, yaitu mendapatkan Amerta (kehidupan abadi) yang secara tafsir kekinian dapat diterjemahkan sebagai sustainablity (keberlangsungan hidup),” paparnya.
Hal ini pada tahun 1966, dirumuskan menjadi Tri Hita Karana oleh Mendiang Wayan Merta Suteja (Picard, 2008). Tri Hita Karana ini menjadi landasan utama dari pembangunan Bali dari awal Orde Baru sampai sekarang ini.
Akan tetapi, landasan utama ini hanya landasan yang ditinggalkan terbang oleh keinginan-keinginan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan besar.
Bhagavad Gita dan sastra-sastra Hindu selalu benar, bahwa keinginan-keinginan hanya akan menjerumuskan umat manusia, seperti keinginan keuntungan besar ini dalam pariwisata menjerumuskan usaha-usaha perlindungan terhadap budaya, lingkungan dan ekonomi lokal sehingga Pariwisata Budaya hanya menjadi utopia (Sutarya, 2021) atau dongeng pengantar tidur para generasi baru, karena pada realitasnya, pariwisata telah menumbuhkan gejala-gejala kerusakan lingkungan, komodifikasi budaya dan peminggiran masyarakat lokal Bali.
Gejala-gejala ini dapat dicegah, apabila kita sadar untuk melakukan rejuvenation (peremajaan) terhadap pariwisata Bali.
Meminjam Teori Tourists Area Life Cycle dari Buttler (Butler, 1980), bahwa apabila pariwisata budaya telah menemukan fase kejenuhannya (stagnasi) maka diperlukan langkah-langkah peremajaan atau pariwisata Bali akan mengalami penurunan (decline).
Indikator-indikator stagnasi itu adalah masalah-masalah lingkungan seperti sampah, masalah sosial, seperti kemacetan dan kriminalitas serta masalah ketimpangan ekonomi.
“Indikator-indikator ini telah tampak gambarannya di depan mata kita, sehingga sudah seharusnya disiapkan langkah-langkah peremajaan pariwisata Bali untuk mencegah penurunan pariwisata Bali. Hal ini yang menyebabkan studi-studi tentang peremajaan pariwisata Bali menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan pariwisata Bali,” urainya.
Pada berbagai studi, peremajaan pariwisata dilakukan dengan kebertahanan masyarakat lokal (Bec et al., 2016), pembaharuan manejemen (H. Q. Zhang & Yan, 2012), menjaga kepuasan wisatawan (Brau et al., 2009) dan pembaharuan kebijakan pariwisata (Collins-Kreiner, 2020).
Pilihan-pilihan itu bisa disarikan menjadi perubahan kebijakan untuk kebertahanan masyarakat lokal dan kepuasan wisatawan.
Kebijakan kebertahanan masyarakat lokal berkaitan dengan penghormatan terhadap budaya lokal, pelestarian lingkungan dan keuntungan ekonomi lokal. Kepuasan wisatawan berkaitan dengan kualitas pelayanan terhadap wisatawan.
Pilihan-pilihan ini merupakan perenungan kita bersama dalam membangun pariwisata Bali yang berkelanjutan, sebab ditengah meningkatnya kunjungan wisman ke Bali menjadi 6 juta lebih wisman, hotel-hotel mengaku Tingkat Penghunian Kamarnya (TPK) rendah (Pos Bali. 28 April 2025). Meski terus meningkat dari tahun 2021 sebesar 13 persen, 2022 sebesar 35,32 persen, 2023 sebesar 53,05 persen dan 2024 sebesar 62,23 persen (BPS Bali, 2025).
Peningkatan ini tidak sebanding dengan peningkatan kunjungan wisman yang melebihi 144 persen pasca Covid-19, pada tahun 2022 ke 2023, sehingga dipandang masih rendah.
Hal ini menunjukkan telah terjadi perubahan prilaku wisatawan dalam memilih akomodasi wisata sehingga diperlukan pilihan-pilihan baru kebijakan, perencanaan dan menejemen pariwisata Bali.
Kebijakan, perencanaan dan manejemen pariwisata Bali harus mengikuti perubahan prilaku wisatawan ini yang bergerak menuju pariwisata yang berbasis teknologi informasi.
Perubahan yang diakibatkan teknologi informasi ini menyebabkan wisatawan lebih mudah mendapatkan akses informasi mengenai segala hal yang berhubungan dengan Bali.
“Contohnya pada 10 tahun lalu, Home Stay mendapatkan kurang promosi dibandingkan hotel-hotel berbintang, tetapi kini (2025) home stay mendapatkan promosi yang sebanding dengan hotel-hotel berbintang,” sebutnya.
Hal ini sudah tampak pada masa-masa covid 19 di mana industri-industri pariwisata kecil mendapatkan kesempatan yang sama dengan industri besar dalam persaingan merebut pasar (Fuchs, 2022; Sutarya et al., 2023).
Kecenderungan ini menuntun perubahan kebijakan, perencanaan dan manajemen pariwisata Bali.
Perubahan-perubahan yang dilakukan harus mengembalikan basis pariwisata budaya yang berkomitmen melestarikan budaya, konservasi lingkungan dan perlindungan terhadap masyarakat Bali sesuai konsep Tri Hita Karana.
Perubahan-perubahan ke arah tersebut mendapatkan kesempatan pada perubahan prilaku wisatawan. Prilaku wisatawan pada era ini adalah menggali pengalaman sebanyak-banyaknya (Ngwira & Kankhuni, 2018; Ryan, 2000).
Perubahan prilaku ini telah mengubah peninggalan-peninggalan kebudayaan (heritage) menjadi tempat-tempat pilgrimage (Coleman & Bowman, 2019).
Hal itu juga menjadi kebijakan kementerian agama untuk mengubah heritage Prambanan menjadi destinasi tirtayatra.
Kebijakan ini seharusnya mempengaruhi perubahan kebijakan pariwisata Bali menjadi destinasi spiritual dan agama.
Destinasi spiritual dan agama menjadi trend dunia belakangan ini, karena diikuti wisatawan lintas agama. Bahkan, situs-situs agama menjadi tujuan wisatawan lintas agama. Contohnya adalah Camino De Santiago, Spanyol yang merupakan situs Kristen tetapi juga menjadi destinasi kalangan atheis (Farias et al., 2019).
Contoh lainnya adalah India yang telah menjadi destinasi lintas agama yang dikunjungi para pengikut yoga dunia dan gerakan New Age (Buzinde, 2020; Herrald, 2006; Wiltshier, 2018).
Contohnya paling menarik adalah situs-situs suku-suku Indian-Amerika juga menjadi destinasi spiritual lintas agama seperti Pegunungan Andian, Peru (Gómez-Barris, 2012).
“Hal ini membuktikan trend perkembangan destinasi spiritual dan agama di dunia, yang diikuti kalangan lintas agama yang lebih luas. Trend destinasi spiritual dan agama ini juga telah merambah Bali, karena perkembangan pengikut yoga di dunia,” urainya.
Contohnya adalah Pura Campuhan dan Pura Payogan telah menjadi destinasi perjalanan suci yoga, karena berkaitan dengan perjalanan suci guru yoga dari Bali (Sutarya, 2021).

Situs Hindu, Tampak Siring juga telah menjadi destinasi malukat dari kalangan lintas agama (1 Gede Sutarya & Widana, 2024).
Situs-situs Hindu lainnya juga telah berkembang menjadi destinasi spiritual lintas agama seperti situs-situs Hindu di Bali Utara (Pageh et al., 2022).
Hal ini membuktikan, bahwa trend pariwisata dunia tersebut telah berkembang di Bali.
Perkembangan ini belum diikuti perencanaan dan pengembangan pariwisata spiritual dan agama, sebab perkembangan ini masih dianggap hal baru.
Perda Nomor 2 Tahun 2012 telah menyebutkan jenis usaha wisata spiritual, tetapi belum menyebutkan pariwisata agama.
Padahal pariwisata spiritual dan agama merupakan dua hal berbeda. Pariwisata spiritual menyangkut pencarian spirit tanpa pedoman agama tertentu dan pariwisata agama menyangkut kunjungan pada tempat suci dengan pedoman agama tertentu.
Perkembangan jumlah wisman Hindu ke Bali seperti dari India, memerlukan perhatian untuk perencanaan dan pengembangan pariwisata tirtayatra ke Bali, selain pariwisata spiritual lintas agama. Karena jumlah wisman India terus meningkat dari 68.199 orang tahun 2020 menjadi 550.379 orang pada tahun 2024 (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2025).
Perkembangan ini akan menjadi lebih besar lagi, bila ditambahkan dengan kunjungan diaspora India dari seluruh dunia.
Perkembangan ini perlu diikuti perencanaan dan pengembangan pariwisata spiritual dan agama untuk mengantisipasi permintaan itu semakin kelihatan.
Destinasi-destinasi agama di dunia, seperti Yerusalem telah membangun perencanaan dan pengembangan holy city atau kota suci (Olsen, 2019).
India telah mencanangkan Rishikesh sebagai holy city of yoga atau Yoga Bhoomi Rishikesh (Mahalakshmi, 2019), tetapi Bali belum merencanakan satu pun kota suci.
Contohnya adalah Besakih yang merupakan kota para dewa, belum direncanakan menjadi kota suci, dengan berbagai daya dukungnya yang mencerminkan sebuah kota suci.
Contoh lainnya adalah Tampak Siring dengan DAS Pakerisan yang merupakan kota suci zaman Bali Kuno, belum direncanakan secara wajar sebagai holy city of Ancient Bali, sehingga perkembangan wisata malukat dan meditasi pada gua-gua pertapaan kuno pada DAS Pakerisan merupakan gerakan spontan wisatawan dan pelaku pariwisata.
Kecenderungan baru yang berkembang pada pariwisata dunia adalah terbangunnya holy village atau desa suci.
Contohnya adalah Nazaret yang merupakan tempat kelahiran Jesus Christ dikembang holy village (Rose, 2020). Desa-desa di Thailand yang menjadi tempat monestry tua juga dikembangkan menjadi holy village (Ashkenazi, 2014).
Bali memiliki Ubud, Taro dan yang lainnya yang bisa dikembangkan menjadi holy village, tetapi belum direncanakan dan dikembangkan secara baik. Karena itu, kecenderungan ini belum bisa dimanfaatkan dengan baik untuk merencanakan holy village atau holy city di Bali.
Holy village dan holy city adalah bagian utama dari pengembangan pariwisata budaya. Pariwisata budaya adalah pengembangan konsep dari Grand Tour, yang dilakukan para bangsawan dan kaum terdidik Inggris pada abad ke 16 Masehi (Hughes, 1996; Towner & Wall, 1991).
Grand tour adalah perjalanan ke pusat-pusat kebudayaan untuk belajar dan mendapatkan pengalaman dari kebudayaan besar masa lalu. Karena itu, pusat-pusat kebudayaan Eropa seperti Italia dan Prancis menjadi destinasi utama grand tour (Towner & Wall, 1991).
Pada perkembangannya, pusat-pusat kebudayaan dunia lainnya, seperti India juga menjadi destinasi grand tour ini (Lane, 2019). Perjalanan ke pusat-pusat kebudayaan dunia merupakan bagian yang paling idial dari pariwisata budaya yang dikembangkan di Indonesia dan Bali (Pemerintah Provinsi Bali, 2012).
Konsep pariwisata budaya yang seperti ini yang menyebabkan Pemerintah Indonesia mengundang ahli-ahli dari Prancis untuk mengembangkan pariwisata budaya Bali pada tahun 1971.
Ahli-ahli ini merancang resort-resort wisatawan dan rencana aksi pelestarian budaya Bali. Mereka menargetkan wisatawan-wisatawan Eropa dan elite lainnya dengan target 750 wisman (Picard, 2008).
Karena itu, pariwisata budaya Bali direncanakan untuk mengundang wisatawan-wisatawan berkelas, dengan pengeluaran besar untuk selera seni yang tinggi, seperti lukisan dan kerajinan tangan.
Tujuan menjadi destinasi berkualitas inilah yang menyebabkan pemerintah Indonesia mengundang ahli-ahli Prancis yang juga menjadi destinasi pariwisata budaya, dengan lukisan Monalisa dan Menara Condongnya.
Destinasi pariwisata budaya Bali ini mendapatkan tantangan hebat sejak tahun 1994, karena ambisi untuk meningkatkan kunjungan wisman ke angka 1,5 juta, 3 juta, dan kemudiaan terakhir 6 juta wisman. Pada tahun itu, investasi dibuka lebar-lebar di Bali, sampai mengganggu sensitivitas masyarakat Bali terhadap kawasan suci Tanah Lot (Sutarya, 2019).
Protes-protes terhadap perkembangan pariwisata Bali kemudian meluas pasca tahun 1994, sehingga pariwisata Bali memerlukan kajian-kajian ulang dalam memilih berbagai kebijakan pariwisata Bali.
“Pasca Covid-19 tahun 2022 sampai sekarang, seharusnya digunakan untuk melakukan kajian-kajian ulang tersebut, untuk melakukan peremajaan pariwisata Bali. Peremajaan pariwisata ke arah esensi pariwisata budaya terbuka peluangnya saat ini, sebah terjadinya pergeseran pasar pariwisata,” jelasnya.
Pasar pariwisata saat ini cenderung adalah pasar pariwisata yang bersifat individu untuk menggali pengalaman yang lebih banyak pada destinasi. Pergeseran pasar ini didukung perkembangan teknologi digital yang sedang melanda dunia (Munar & Ek, 2021).
Oleh karena itulah, wisatawan-wisatawan mandiri bermunculan di Bali. Mereka memiliki keleluasaan untuk memilih atraksi-atraksi wisata secara mandiri, sebab memiliki sumber-sumber informasi digital.
Atraksi-atraksi wisata yang dipilih mandiri itu sebagian adalah wisata spiritual dan agama, sebab pasar wisata spiritual wellness dan agama di dunia terus meningkat.
Data terbaru menunjukkan, pasar wisata agama senilai 227 Milliar Dollar Amerika pada tahun 2022 dan diprediksi tumbuh rata-rata 15,3 persen dari tahun 2024 sehingga akan menjadi 671 Milyar Dollar Amerika pada tahun 2030 (Grand View Research, 2025).
Pasar ini ditambah dengan pasar Pariwisata Wellness yang mencapai 923,6 Milliar Dollar Amerika pada tahun 2023 dan diprediksi mengalami pertumbuhan rata-rata 12,42 persen pertahun sehingga menjadi 2,1 Triliun Dollar Amerika pada tahun 2030 (Grand View Research, 2025).
Data-data ini menunjukkan permintaan terhadap pariwisata spiritual, agama dan welness terus meningkat, sehingga atraksi-atraksi tersebut menjadi pilihan mandiri wisman.
Pasar ini membesar juga karena kontribusi trend untuk mengikuti yoga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Di Amerika misalnya pengikut yoga hanya 5,1 persen pada tahun 2002, meningkat menjadi 13,7 persen tahun 2017 (Y. Zhang et al., 2021). Permintaan yoga ini juga mulai kelihatan di Bali sejak tahun 2000.
Hal itu dapat dilihat dari perkembangan jumlah wisman yang mengikuti yoga pada studio-studio yoga di Ubud yang terus meningkat.
Sebelum tahun 2000, wisman yang mengikuti yoga pada studio I Ketut Arsana adalah 1-10 orang perhari. Pada tahun 2000-2010 telah menjadi 20 orang perhari, dan setelah itu menjadi 30-40 orang perhari (Sutarya, 2018).
Hal ini meyakinkan kita bahwa pasar wisata spiritual dan agama terus meningkat pada masa-masa mendatang.
Peningkatan pasar ini mengajak kita untuk memikirkan kembali the sacred destination untuk Bali, sebab potensi Bali menjadi the sacred destination terlihat jelas dari narasi sebagai tempat moksha guru-guru spiritual penting seperti Rsi Markendya, memiliki pantangan-pantangan dalam memasuki wilayah suci dan umat pendukung Hindu yang melakukan ritual setiap hari. Narasi, pantangan dan urmat pendukung itu adalah syarat menjadi the sacred destination. Pura-pura tua di Ubud dan sekitarnya.
Misalnya, telah menjadi tujuan dari perjalanan yoga, karena memiliki syarat untuk menjadi tempat-tempat bermeditasi yaitu narasi, pantangan tertentu dan umat pendukung (Sutarya, 2021). Syarat-syarat tersebut penting pada setiap destinasi spiritual karena mempengaruhi aktivitas spiritual (1 Gede Sutarya, 2023).
Hal ini yang menyebabkan tempat-tempat tertentu seperti Besakih memenuhi syarat sebagai the holy city dan Ubud sebagai holy village. Desa-desa lainnya seperti Taro misalnya juga bisa dikembangkan menjadi the holy village.
Pengembangan holy village dan holy city nantinya akan membangun Bali sebagai the sacred destination.
“The sacred destination adalah jawaban dari persoalan-persoalan over-tourism di Bali, sebab pengembangan ini sangat ramah dengan usaha pelestarian budaya, lingkungan dan ekonomi lokal,” tegasnya.
The sacred destination memerlukan dukungan budaya, lingkungan dan masyarakat lokal. Dukungan budaya melalui ritual misalnya menambah kekhusukan laku-laku spiritual.
Dukungan lingkungan yang lestari mendukung usaha mencapai ketenangan serta dukungan masyarakat lokal membantu menciptakan suasana spiritual pada destinasi. Akan tetapi, usaha besar ini harus dimulai dari hal-hal kecil seperti pengembangan holy village atau holy city.
Untuk itu, Prof. Gede Sutarya mengharapkan dukungan civitas akademika UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar untuk mendukung usaha-usaha ini melalui penelitian dan pengabdian masyarakat.
“Demikian juga Dirjen Bimas Hindu sudah seharusnya mengembangkan pembinaan umat Hindu yang terintegrasi dengan pengembangan ekonomi umat yang searah dengan tujuan kehidupan beragama sehingga beragama Hindu adalah beragama dalam dunia mencapai Jagadhita dan dalam rohani mencapai Moksha. Pemerintah juga perlu mendukung usaha ini dalam mencapai amanat UU Nomer 10 tahun 2019 tentang Kepariwisataan yang berbasis budaya bangsa,” harapnya.
Patut diketahui, bahwa Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag., lahir di Penida Kaja, 8 November 1972, dari keluarga guru pasangan Mendiang Drs. I Nyoman Singgin Wikarman dengan Ni Ketut Kantun.
Mendiang ayahnya adalah Guru Agama Hindu, politisi dan sastrawan Bali klasik dengan penghargaan sebagai Shri Dharma Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali.
Inspirasi ayahnya menuntunnya menuju jalan Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, sebab I Gusti Bagus Sugriwa dan Pandit Sastri adalah guru ayahnya di PGAH Dwijendra pada tahun 1966-1969, yang kemudian menjadi cikal bakal PGAHN Denpasar kemudian Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Pada masa kini, tugas Universitas Hindu adalah mengintegrasikan ilmu agama kedalam ilmu-ilmu umum, sehingga membuatnya menekuni Bidang Ilmu Pariwisata.
Mulai menjadi dosen tetap pada tahun 2009, menjadi lektor kepala pada tahun 2018 dan mendapatkan jenjang jabatan Guru Besar mulai 1 April 2025.
Pendidikan Diploma 4 didapatkan pada Program Studi Pariwisata Universitas Udayana tahun 1997.
Magister Agama Hindu didapatkan pada Program Magister Brahma Widya IHDN Denpasar tahun 2007.
Doktor Pariwisata didapatkan dari Program Doktor Pariwisata, Universitas Udayana tahun 2016.
Menulis buku salah satunya adalah Pariwisata Spiritual Bali dan sejumlah artikel pada jurnal dalam dan luar negeri. (ace).


