De Gadjah Turun ke Sawah Subak Brawantangi, Produktivitas Padi Organik Tembus Target 8-9 Ton per Hektar

Jbm.co.id-JEMBRANA | Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali, I Made Muliawan Arya atau De Gadjah turun langsung ke sawah saat panen raya padi organik di Subak Brawantangi, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Mengenakan atribut HKTI, De Gadjah ikut memanen padi varietas MRCL 219 di lahan demplot seluas 4 hektare yang dikelola 149 anggota Subak Brawantangi.
Kehadirannya dalam kegiatan tersebut disebut murni dalam kapasitas sebagai Ketua DPD HKTI Bali. Ia datang untuk memberikan dukungan kepada petani yang mulai menerapkan sistem pertanian organik dan berkelanjutan.
“Sebagai Ketua HKTI Bali, saya hadir untuk melihat langsung semangat petani kita. Saya hadir sebagai pelayan petani, peternak, dan nelayan,” kata De Gadjah.
Menurutnya, petani memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ia menyebut petani sebagai pejuang pangan sekaligus salah satu penopang utama bangsa.
De Gadjah juga mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai peran petani dan nelayan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Saya mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto, ‘Saya bangga dengan petani Indonesia. Terima kasih petani, nelayan Indonesia, engkaulah pahlawan yang sesungguhnya, engkau menghasilkan pangan untuk kita semua,” tambahnya.
Soroti Penurunan Lahan Panen di Bali
Dalam kesempatan tersebut, De Gadjah turut menyoroti kondisi sektor pertanian Bali. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), De Gadjah menyampaikan adanya penurunan luas lahan panen maupun produksi beras di Bali.
Luas lahan panen disebut mengalami penurunan dari 13.800,4 hektare pada 2024 menjadi 9.644 hektar pada 2025. Sementara produksi beras turun dari sekitar 640.000 ton pada 2024 menjadi 590.000 ton pada 2025.
Lebih lanjut, De Gadjah menyampaikan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena Bali menghadapi tekanan alih fungsi lahan yang dipicu berbagai faktor, mulai dari kebutuhan ekonomi hingga pembangunan perumahan dan vila.
De Gadjah mendorong adanya kolaborasi antara petani dan pemerintah untuk menjaga keberlanjutan lahan pertanian sekaligus meningkatkan produktivitas.
“Semoga model Subak Brawantangi bisa menjadi contoh bagi subak lain di Bali dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal,” harapnya.
De Gadjah menegaskan HKTI Bali ingin hadir sebagai mitra bagi petani, bukan sekadar organisasi yang memberikan dukungan secara administratif.
“Atas nama DPD HKTI Provinsi Bali, saya hadir hari ini di Subak Brawantangi bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai mitra petani. Kami melihat pertanian organik adalah masa depan. Dari lahan 4 hektar ini kita belajar bahwa dengan merawat tanah, hasilnya akan merawat kita kembali,” pungkasnya.
Pemkab Jembrana Dorong Modernisasi Pertanian
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jembrana, Putu Eka Arta, yang mewakili Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan, mengapresiasi pelaksanaan panen raya padi organik tersebut.
Menurutnya, panen raya tidak hanya menjadi momentum untuk menikmati hasil pertanian, tetapi juga menunjukkan kerja keras petani dan kolaborasi berbagai pihak dalam membangun sektor pertanian Jembrana.
“Momentum panen ini bukan sekadar memetik hasil, tetapi wujud syukur atas kerja keras petani dan simbol kolaborasi dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Jembrana,” ujarnya.
Putu Eka Arta menyebut pertanian merupakan salah satu kekuatan utama Jembrana karena sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan dari sektor tersebut.
Ia menilai sektor pertanian ke depan menghadapi sejumlah tantangan, antara lain perubahan iklim, efisiensi biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja, serta kebutuhan terhadap teknologi pertanian modern.
“Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja keras petani, pendampingan penyuluh, serta sinergi berbagai pihak. Tantangan ke depan adalah perubahan iklim, efisiensi biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja, hingga kebutuhan teknologi modern. Modernisasi dan inovasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas petani,” tegasnya.
Pupuk Organik Tingkatkan Produktivitas
Pendamping petani Subak Brawantangi dari Yayasan Dibia Amerta, Kade Sudiana, mengatakan panen raya tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan pertanian organik di Bali.
Ia juga memperkenalkan akronim PETANI sebagai Pertahanan Ekonomi Tanah Air Negara Indonesia.
Menurutnya, petani memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan pangan.
“PETANI adalah pilar bangsa dalam mendukung swasembada dan ketahanan pangan,” ujarnya.
Berdasarkan hasil ubinan, produktivitas gabah di lahan Subak Brawantangi mengalami peningkatan setelah penggunaan pupuk organik.
Sebelum menggunakan pupuk organik, produktivitas berada pada kisaran 6,5-7 ton per hektare. Setelah menerapkan pupuk organik dengan perbandingan 50:50, target produktivitas meningkat menjadi 8-9 ton per hektar.
“Peningkatan ini terjadi karena kami fokus memperbaiki unsur hara tanah yang sebelumnya rusak akibat penggunaan pupuk non-organik dalam jangka panjang,” tambahnya.
Selain peningkatan produktivitas, Kade Sudiana berharap Bank Tani dapat segera diwujudkan di Kabupaten Jembrana. Lembaga tersebut diharapkan mampu membantu petani dalam berbagai tahapan usaha tani, mulai dari pengolahan tanah hingga pasca panen.
Kade Sudiana menilai keberadaan Bank Tani juga berpotensi mendorong generasi muda kembali tertarik menggeluti sektor pertanian.
Bank Tani diharapkan dapat memfasilitasi petani mulai dari pengolahan tanah hingga pasca panen, terangnya.
Ia meyakini dengan adanya Bank Tani generasi muda yang dulunya enggan menjadi petani akam kembali tertarik menggarap sawah.
Panen raya di Subak Brawantangi menjadi gambaran bahwa penerapan pertanian organik dapat berjalan berdampingan dengan upaya meningkatkan produktivitas.
“Ditengah tekanan alih fungsi lahan, kolaborasi petani, pemerintah, pendamping dan organisasi pertanian dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor pangan di Bali,” tutupnya. (ace).




