BaliBeritaDaerahPendidikanTabanan

Hari Danau Sedunia, Prof Luh Kartini Ingatkan Krisis Air Bali: Uang Tidak Bisa Kembalikan Ekosistem Jaga Hutan dan Lima Danau Utama

Jbm.co.id-DENPASAR | Krisis ketersediaan air di Bali menjadi perhatian dalam Forum Group Discussion (FGD) Hari Danau Sedunia di Denpasar, 26 Agustus 2026.

Forum tersebut mengingatkan bahwa kerusakan ekosistem tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan ekonomi.

Gambaran sederhana seperti keran air rumah yang mati, sawah yang retak, hingga danau yang surut menjadi pengingat bahwa uang tidak selalu mampu memulihkan alam yang telah rusak.

FGD yang digagas Yayasan Bali Organic Association bersama Paiketan Kerama Bali, Bali Mula, Bumi Organik, dan BOI tersebut mengangkat tema “Ketersediaan Air di Bali dalam Konteks El Nino-La Nina, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim”.

Guru Besar Pertanian Organik Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, MS., menegaskan Bali merupakan satu kesatuan ekosistem Nyagara-Gunung yang diikat oleh konsep Tri Hita Karana, Sad Kerthi, dan Bhisama Batur Kelawasan.

Ia menegaskan sesungguhnya, Hutan merupakan ibunya air, sedangkan danau adalah tower-nya Bali.

Ia menegaskan, subak dan sawah sejatinya adalah “danau-danau kecil” didalamnya ada kearifan lokal, seperti ngayah, gotong royong, menyama braya.

Menurutnya, lima danau utama Bali yang selama ini menopang kebutuhan air, yakni Danau Batur, Beratan, Buyan, Tamblingan, dan Yeh Malet, kini menghadapi persoalan sedimentasi dan pencemaran.

Selain itu, ribuan hektar sawah dan danau-danau kecil disebut telah hilang akibat alih fungsi lahan untuk perumahan, kegiatan ekonomi, hingga pembangunan vila.

“Jika hutan rusak dan danau tercemar, maka secara tidak langsung ketersediaan air untuk pertanian dan pariwisata Bali terancam. Menjaga hutan dan danau berarti menjaga masa depan air, pangan, dan pariwisata Bali,” ujarnya.

Bali Hadapi Ancaman Defisit Air

Data BWS Bali Penida 2019 dan P3E 2021 yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan kondisi ketersediaan air Bali yang perlu mendapat perhatian serius.

Bali diprediksi mengalami defisit air sebesar 1.051,91 liter per detik pada 2025 untuk memenuhi kebutuhan air minum dan industri.

Sejumlah wilayah bahkan disebut mengalami defisit lebih besar. Badung tercatat mengalami defisit 4.354,4 liter per detik, Gianyar 3.418,4 liter per detik, dan Denpasar 1.032,44 liter per detik. Kondisi serupa juga ditemukan di Buleleng, Jembrana, dan Bangli.

Disisi lain, Bangli memiliki potensi air mencapai 7.368,2 liter per detik dari ekosistem alami. Potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Persoalan juga berkaitan dengan tutupan hutan.

Berdasarkan data KLHK 2020 yang disampaikan dalam FGD, tutupan hutan Bali berada di angka 16,9 persen, jauh dari angka ideal 30 persen.

Ancaman lingkungan semakin kompleks dengan emisi karbon dan metana dari sektor pertanian serta persoalan mikroplastik yang masuk ke rantai makanan manusia.

Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan Jadi Perhatian

Prof. Luh Kartini menyebut terdapat sejumlah akar persoalan yang menyebabkan tekanan terhadap lingkungan dan ketersediaan air, diantaranya deforestasi, alih fungsi lahan, hingga pola pikir Revolusi Hijau sejak 1970 yang dinilai lebih menekankan tanah untuk terus menghasilkan tanpa diimbangi dengan upaya memulihkan kesuburannya.

Ia juga menilai terdapat keselarasan antara ilmu pengetahuan modern dengan pesan kearifan lokal Bali.

Secara ilmiah, siklus air melalui evaporasi, kondensasi, dan presipitasi sangat berkaitan dengan keberadaan hutan. Hutan juga memiliki fungsi penting dalam menyimpan air dan membantu menjaga suhu lingkungan.

Sementara dalam Lontar Bhisama Batur Kelawasan terdapat pesan: jagalah kelestarian gunung dan laut. Jangan hidup senang dari merusak alam.

Konsep Kaja-Tengah-Kelod juga dinilai memiliki keterkaitan dengan tata ruang dan keseimbangan lingkungan.

Peringatan lain yang disampaikan dalam forum tersebut kembali menegaskan bahwa ketika alam rusak, kekayaan materi tidak akan mampu menggantikan fungsi ekosistem.

Biogas dan Pertanian Terpadu Jadi Alternatif Solusi

Ditengah ancaman krisis air dan perubahan iklim, FGD juga membahas solusi yang dapat diterapkan dari tingkat rumah tangga dan komunitas. Salah satunya pemanfaatan limbah ternak menjadi energi dan pupuk organik melalui biogas.

Reaktor biogas berkapasitas empat meter kubik dapat memanfaatkan limbah dari sekitar 3-4 ekor sapi, delapan ekor babi, atau 2.000 ekor ayam.

Sistem tersebut disebut mampu menghasilkan energi untuk memasak hingga empat jam sekaligus menghasilkan sekitar 30 kilogram pupuk organik per hari.

Pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas dinilai dapat menghemat penggunaan elpiji, menciptakan dapur yang lebih bersih, sekaligus mengurangi emisi.

Konsep tersebut kemudian dikembangkan melalui sistem SaBiCaITaLA, yakni sistem pertanian terpadu yang menghubungkan Sapi, Biogas, Cacing, Ikan, Tanaman, Lebah, hingga Agrowisata.

Konsep tersebut diarahkan menjadi sistem tertutup yang memanfaatkan kembali hasil samping dari setiap proses sehingga limbah dapat ditekan.

Agar sistem berjalan berkelanjutan, dibutuhkan lima rantai utama, yakni sumber daya manusia, pelestarian, produksi, pascapanen, dan pasar yang adil.

Kolaborasi Jadi Kunci Menjaga Air Bali

FGD Hari Danau Sedunia juga mencatat adanya peningkatan minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Tren tersebut didorong oleh meningkatnya kesadaran lingkungan, peluang bisnis produk organik, perkembangan teknologi, serta tumbuhnya komunitas.

Prof. Luh Kartini menegaskan pentingnya menjaga hutan sebagai sumber air sekaligus membangun sistem pertanian yang berkelanjutan.

“Hutan ibunya air. SaBiCaITaLA ibunya solusi. Jaga keduanya, maka Bali selamat,” pungkas Prof. Luh Kartini.

Para ahli mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan desa adat. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui reboisasi, perlindungan daerah resapan air, penguatan kearifan lokal, serta optimalisasi potensi air di wilayah hulu seperti Bangli.

Pesan yang mengemuka dalam forum tersebut, krisis lingkungan bukan semata-mata takdir, melainkan hasil dari pilihan manusia. Pilihannya adalah mempertahankan pola eksploitasi atau beralih pada pola hidup yang menjaga ekosistem.

Mulai dari pemanfaatan biogas di dapur, penggunaan pupuk organik di kebun, hingga penanaman kembali lahan kritis, langkah kecil dinilai penting untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.

“Karena ketika air habis, uang tidak akan mampu menumbuhkan kembali setetes pun air. Pesan Lontar: “Jaga Alam”. Pesan Kita: Uang Tidak Bisa Dimakan,” tutupnya. (ranu/red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button