BeritaDaerahLingkungan HidupPemerintahanPendidikanSosial

Sampah Tak Bisa Diselesaikan Sendirian, Kolaborasi Jadi Kunci Pengelolaan Lingkungan di Pacitan

"Dibutuhkan kolaborasi dari hulu hingga hilir agar pengelolaan sampah benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan"

Pacitan,JBM.co.id-Persoalan sampah bukan sekadar urusan membuang sesuatu yang sudah tidak terpakai. Di balik setiap timbunan sampah, ada tantangan besar tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, dunia usaha, hingga pengelola tempat pengolahan dapat bergerak dalam satu sistem yang saling menguatkan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan, Cicik Ruhdlotul Jannah, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi dari hulu hingga hilir agar pengelolaan sampah benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan.

Menurut Cicik, perubahan dapat dimulai dari langkah paling sederhana di tingkat rumah tangga. Masyarakat memiliki peran penting dengan membiasakan diri memilah sampah sejak dari sumbernya, kemudian mengelola sesuai jenisnya.

“Masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendirian. Harus ada kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, industri, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah,” ujar Cicik, Kamis (13/8).

Di tingkat masyarakat, kesadaran menjadi fondasi utama. Sampah organik, anorganik yang masih memiliki nilai daur ulang, dan sampah residu perlu dipisahkan sejak awal. Kebiasaan sederhana tersebut akan memudahkan proses pengolahan sekaligus mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pacitan, Hj. Cicik Ruhdlotul Jannah, ST, MM.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pacitan, Hj. Cicik Ruhdlotul Jannah, ST, MM.
Sementara itu, pemerintah memiliki tanggung jawab membangun ekosistem pengelolaan sampah yang mendukung perubahan perilaku masyarakat. Mulai dari penyediaan fasilitas, penguatan sistem pengangkutan dan pengolahan, hingga penyusunan regulasi yang mendorong pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

“Kolaborasi juga perlu melibatkan industri. Produk yang beredar di tengah masyarakat idealnya tidak hanya mempertimbangkan fungsi dan nilai ekonominya, tetapi juga dampaknya terhadap lingkungan. Industri diharapkan ikut bertanggung jawab dalam mendukung sistem pengurangan dan daur ulang sampah,”jelasnya.

Di sisi hilir, keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) menjadi bagian penting dalam mata rantai tersebut. Sampah yang telah dipilah dapat diarahkan sesuai karakteristiknya: organik diolah, material yang masih bernilai didaur ulang, sementara residu ditangani secara tepat.

Dengan pola tersebut, sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sebagian dapat kembali menjadi sumber daya, sementara volume residu yang harus ditangani dapat ditekan.

Cicik menekankan, keberhasilan pengelolaan sampah pada akhirnya sangat bergantung pada konsistensi semua pihak. Pemerintah tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat. Sebaliknya, kesadaran masyarakat juga membutuhkan sistem dan fasilitas yang memadai.

Pengelolaan sampah pun bukan sekadar tentang kebersihan hari ini, melainkan tentang bagaimana lingkungan tetap layak dihuni pada masa mendatang.

Sebab, ketika masyarakat memilah dari rumah, pemerintah membangun sistem, industri bertanggung jawab terhadap produknya, dan TPST mengolah sampah berdasarkan jenisnya, persoalan sampah perlahan dapat diurai dari sumbernya.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button