Jalan Benyah Pajak Diambil, 20 Tahun Pemkab Karangasem Cuek: Warga Gulinten Iuran Rp50 Ribu per KK Buat Perbaiki Jalan Rusak Menuju Lahangan Sweet

Jbm.co.id-KARANGASEM | Warga Banjar Dinas Gulinten, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, terpaksa mengeluarkan iuran Rp50 ribu per kepala keluarga setiap bulan untuk memperbaiki jalan rusak yang menjadi akses utama mereka.
Jalan yang menghubungkan Desa Tribhuana, Desa Bunutan hingga Banjar Dinas Gulinten itu disebut telah mengalami kerusakan selama sekitar 20 tahun. Jalan sepanjang kurang lebih 15,8 kilometer tersebut terakhir kali diaspal pada 2006.

Kerusakan jalan semakin parah dengan sejumlah bagian pinggir jalan yang jebol dan badan jalan berlubang. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menghambat akses menuju destinasi wisata Lahangan Sweet.

Kelian Desa Adat Gulinten, Ketut Winata, mengatakan warga terpaksa mengumpulkan iuran untuk melakukan perbaikan secara swadaya. Semen digunakan untuk menambal jalan berlubang serta memperkuat bagian pinggir jalan yang tersisa.
“Jalan itu paling bertahan 1 tahun sebelum hancur kembali. Bagi masyarakat kami Rp50 ribu rupiah setiap bulan bukan perkara ringan lantaran pekerjaannya sebagaian besar adalah petani dan buruh bangunan,” kata Ketut Winata, Senin, 10 Agustus 2026.
Menurut dia, jalan tersebut memiliki fungsi vital bagi masyarakat. Selain menjadi akses transportasi dan pekerjaan, jalan juga dibutuhkan untuk kepentingan kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Warga bahkan melakukan perbaikan secara gotong royong hingga larut malam agar akses tetap dapat dilalui.
“Mau gimana lagi, harus iuran! karena itu akses satu-satunya kami untuk hidup,” keluh seorang warga yang bernama Wayan Suryati, yang tinggal diujung desa dalam.
Pajak Wisata Puluhan Juta per Bulan
Persoalan jalan semakin menjadi sorotan karena kawasan tersebut merupakan akses menuju Lahangan Sweet, salah satu destinasi wisata di Desa Bunutan.
Destinasi tersebut kembali dikembangkan setelah pandemi Covid-19 mulai melandai pada 2022. Kehadiran wisatawan lokal, domestik hingga mancanegara ikut menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Ketut Winata menyebut pengelolaan objek wisata melalui PT Pesona Bukit Lahangan telah memenuhi berbagai perizinan, termasuk kewajiban perpajakan.
“Pada Juni 2026, pembayaran pajak disebut sekitar Rp21 juta, sedangkan pada Juli mencapai sekitar Rp26,9 juta,” ungkapnya.
Menurutnya, besarnya kontribusi pajak tersebut dinilai belum sebanding dengan perhatian terhadap infrastruktur jalan yang menjadi akses menuju destinasi wisata.
“Kami tidak memojokkan pemerintah. Kami hanya meminta yang namanya berkeadilan dan perhatian,” tegasnya.
Kondisi jalan bahkan menjadi bahan keluhan wisatawan yang berkunjung. Kerusakan badan jalan membuat perjalanan menuju kawasan wisata menjadi kurang nyaman dan berpotensi membahayakan pengendara.
Jalan Kabupaten Disebut Rusak Parah
Kepala Dusun setempat, I Nyoman Suandana mengatakan kerusakan jalan tersebut telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah daerah.
“Didepan itu (objek wisata) adalah jalan kabupaten, rusak parah. Hal ini sudah disampaikan berulang kali, sampai saat ini belum juga mendapatkan tindak lanjutnya,” jelasnya.

Ia menilai perbaikan jalan penting dilakukan bukan hanya untuk mendukung sektor pariwisata, tetapi juga menjamin mobilitas masyarakat sehari-hari.
“Bagaimana pariwisata itu bisa berkembang kalau fasilitas jalannya seperti sungai? Banyak keluh kesah dari tamu pengunjung, jalannya rusak dan berbahaya,” tegasnya.
Menurut Suandana, Lahangan Sweet juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Destinasi tersebut disebut mampu menyerap sekitar 40 tenaga kerja lokal.
Sementara masyarakat Gulinten tercatat sekitar 300 kepala keluarga dengan jumlah penduduk kurang lebih 1.200 jiwa.
Driver Soroti Risiko Keselamatan
Keluhan mengenai kondisi jalan juga datang dari pengemudi wisatawan. Putu (40), seorang driver, mengatakan Lahangan Sweet merupakan destinasi yang memiliki banyak peminat.
Namun, kondisi akses jalan menjadi persoalan yang perlu segera dibenahi. Ia menyoroti sejumlah titik yang mengalami longsor dan hanya diberi pembatas sederhana.
Menurutnya, tanjakan yang berada di jalur menuju destinasi merupakan bagian dari kondisi alam yang sulit dihindari. Namun, kerusakan infrastruktur jalan merupakan persoalan yang dapat ditangani.
Dengan kondisi tersebut, warga berharap Pemerintah Kabupaten Karangasem segera memberikan perhatian terhadap akses jalan Tribhuana-Bunutan hingga Gulinten. Bagi masyarakat, perbaikan jalan bukan semata untuk menunjang pariwisata, tetapi juga menyangkut keselamatan dan keberlangsungan aktivitas sehari-hari. (red/tim).




