Dr. Somvir Dorong Unud Berikan Penghargaan Buat Prof. Bagus: The Father of Balinese Studies Usulkan Nama Gedung hingga Seminar Kebudayaan Tahunan

Jbm.co.id-DENPASAR | Ketua Fraksi Demokrat NasDem DPRD Provinsi Bali, Dr. Somvir mendorong Universitas Udayana (Unud) memberikan penghargaan kepada almarhum Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus atas dedikasi besarnya dalam pengembangan dunia akademik, pelestarian budaya Bali, serta penguatan kerja sama internasional.
Oleh karena Prof. I Gusti Ngurah Bagus tidak hanya dikenang sebagai antropolog dan budayawan Bali, tetapi juga sebagai sosok yang meletakkan fondasi kajian kebudayaan Bali di tingkat internasional.
Prof. Bagus dikenal sebagai “The Father of Balinese Studies”, sebutan yang diberikan oleh sejarawan Universitas Leiden, Prof. Henk Schulte Nordholt.
Prof. Bagus atas kontribusi besar yang telah diberikannya bagi perkembangan Universitas Udayana, dunia akademik, kebudayaan, serta pelestarian agama Hindu di Bali.
Untuk itu, pihaknya mendorong Universitas Udayana (Unud) untuk memberikan penghargaan yang layak kepada Prof. Bagus.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Somvir kepada awak media usai mengikuti rapat Komisi I DPRD Provinsi Bali di Gedung DPRD Bali, Senin, 13 Juli 2026.
Menurutnya, Prof. Gusti Ngurah Bagus merupakan seorang akademisi, budayawan, sekaligus cendekiawan Hindu yang memiliki peran sangat penting dalam perjalanan sejarah Universitas Udayana. Ia mengenang sosok tersebut sebagai seniornya ketika dirinya pertama kali datang ke Bali sebagai dosen tamu di Fakultas Sastra Universitas Udayana.
“Universitas Udayana berawal dari Fakultas Sastra. Beliau adalah salah satu tokoh yang berperan besar dalam membangun fondasi akademik dan intelektual kampus ini,” kata Dr. Somvir.
Dr. Somvir menilai pemikiran-pemikiran Prof. Gusti Ngurah Bagus tidak hanya memberikan pengaruh dalam bidang kebudayaan dan keagamaan, tetapi juga menjadi pelopor berbagai gagasan pembaruan, termasuk dalam penguatan lembaga adat dan keagamaan di Bali.
Menurutnya, sejumlah konsep yang kini berkembang, termasuk penguatan Majelis Desa Adat (MDA), tidak lepas dari gagasan besar yang pernah diperjuangkan almarhum.
Selain dikenal sebagai ilmuwan, Prof. Gusti Ngurah Bagus juga memiliki jaringan akademik internasional yang luas. Banyak murid dan koleganya kini menjadi profesor di berbagai perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun di mancanegara.
Namun demikian, Dr. Somvir menyayangkan besarnya jasa dan karya Prof. Gusti Ngurah Bagus dinilai belum memperoleh penghargaan yang sepadan dari almamaternya.
“Saya berharap Rektor Universitas Udayana dapat kembali melihat sejarah dan memberikan penghargaan kepada Prof. Gusti Ngurah Bagus atas seluruh pengabdiannya selama puluhan tahun di bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Bali,” terangnya.
Dr. Somvir juga mengungkapkan bahwa semasa aktif sebagai akademisi, Prof. Gusti Ngurah Bagus dikenal sebagai sosok yang tidak pernah berhenti belajar dan membaca. Menurutnya, dedikasi tersebut menjadi teladan bagi generasi akademisi berikutnya.
Dr. Somvir turut mengenang keterlibatannya bersama Prof. Gusti Ngurah Bagus dalam penyelenggaraan Seminar Internasional Ramayana dan Mahabharata yang menghadirkan tokoh nasional, termasuk Megawati Soekarnoputri saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.
Momentum tersebut, kata dia, turut mendorong penyelesaian pembangunan auditorium Universitas Udayana di Kampus Bukit Jimbaran.
“Kontribusi beliau sangat besar, bukan hanya dalam bidang akademik, tetapi juga terhadap pembangunan fasilitas kampus dan penguatan kerja sama internasional Universitas Udayana,” paparnya.
Sebagai bentuk penghormatan, Dr. Somvir mengusulkan agar Universitas Udayana mempertimbangkan pemberian nama salah satu gedung di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya menggunakan nama Prof. Gusti Ngurah Bagus. Ia juga berharap seluruh karya ilmiah dan buku peninggalan almarhum dihimpun serta dilestarikan di perpustakaan universitas sebagai warisan intelektual bagi generasi mendatang.
Selain itu, Dr. Somvir mengusulkan agar Universitas Udayana secara rutin menyelenggarakan seminar kebudayaan setiap tahun sebagai penghormatan terhadap pemikiran dan dedikasi Prof. Gusti Ngurah Bagus, sekaligus mendukung visi pembangunan Bali yang berlandaskan nilai-nilai budaya.
“Beliau mencintai budaya dan agama Hindu Bali dengan sepenuh hati. Pemikiran dan keteladanannya harus terus hidup melalui kegiatan akademik dan pelestarian karya-karyanya,” tutur Dr. Somvir.
Dr. Somvir juga mengingat kontribusi Prof. Gusti Ngurah Bagus dalam memperkenalkan kajian Hindu Indonesia di tingkat internasional, termasuk melalui keterlibatannya dalam penulisan buku Hinduism in Modern Indonesia yang diterbitkan oleh Leiden University.
Menutup pernyataannya, Dr. Somvir mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya institusi pendidikan tinggi, untuk tidak melupakan jasa para tokoh besar Bali yang telah mengabdikan hidupnya bagi kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pendidikan.
“Kita memiliki banyak putra terbaik Bali yang telah memberikan kontribusi luar biasa. Sudah sepatutnya jasa-jasa mereka dikenang dan diberikan penghargaan yang layak agar menjadi inspirasi bagi generasi penerus,” ujarnya.
Sebelumnya, kiprah dan perjuangannya dikenang kembali melalui diskusi kecil bertajuk “93 Tahun Prof. IGN. Bagus: Sebuah Catatan Pinggir Antara Kiprah dan Kaprah Perjuangannya” di Mahalo Cafe, Jalan Raya Puputan, Renon, Denpasar, Minggu, 12 Juli 2026.
Forum tersebut menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan intelektual Prof. IGN. Bagus yang dikenal aktif menyuarakan pandangan kritis terhadap berbagai fenomena sosial budaya di Bali.
Diskusi kecil atas pemerakarsa atau inisiator, I Ketut Ngastawa dengan menghadirkan Narasumber Putu Suasta dan Prof. Dr. I Gede Mudana, M.Si., yang dipandu oleh Nyoman Baskara.
Turut hadir, Prof. Dr. I Gede Sutarya, ST., Par., M.Ag., Prof. Dr. Ir. Nitya Santhiarsa, M.T., (Putra Prof. IGN. Bagus), Drs. Nyoman Sutiawan, Ir. IGA Aryasa Susantya, Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si., Agus Maha Usadha (Ketua NCPI Bali), I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya (Ketua PHRI Badung), JM Made Sulasa Jaya dan Dr. IGA Alit Sosiawati, M.Si. (ace).




