BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanPolitikSosial

Di Tengah Tekanan Ekonomi dan Kenaikan Harga BBM, KH Mahmud Ajak Masyarakat Perkuat Syukur dan Hidup Hemat

"Pemahaman tentang rezeki sering kali hanya diukur dari besarnya materi yang dimiliki seseorang. Padahal, dalam pandangan Islam, rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar uang atau harta benda"

Pacitan,JBM.co.id- Di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan, ditambah gejolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada meningkatnya biaya hidup masyarakat, pendakwah kondang sekaligus Inspektur Inspektorat Kabupaten Pacitan, KH Mahmud, mengajak masyarakat untuk memperkuat rasa syukur serta membiasakan hidup hemat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurut KH Mahmud, situasi ekonomi yang tidak selalu mudah hendaknya tidak membuat masyarakat larut dalam kegelisahan. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, seraya meyakini bahwa setiap hamba telah dijamin rezekinya oleh Sang Pencipta.

“Dalam kondisi apa pun, kita harus tetap optimistis dan bersyukur. Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Karena itu, jangan sampai kesulitan ekonomi membuat kita kehilangan harapan ataupun mengurangi keimanan kepada Allah,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

KH Mahmud menuturkan bahwa pemahaman tentang rezeki sering kali hanya diukur dari besarnya materi yang dimiliki seseorang. Padahal, dalam pandangan Islam, rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar uang atau harta benda.

Ia menjelaskan bahwa kesehatan yang baik, keluarga yang harmonis, rumah tangga yang utuh, anak-anak yang berbakti, serta ketenangan hati merupakan bagian dari nikmat dan rezeki yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia.

“Banyak orang yang mungkin merasa kekurangan secara materi, tetapi diberi kesehatan yang prima dan keluarga yang rukun. Itu adalah rezeki yang luar biasa. Sebaliknya, ada yang berlimpah harta namun harus menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya. Karena itu, mari kita melihat rezeki dengan pandangan yang lebih luas,” katanya.

Lebih lanjut, KH Mahmud mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sederhana dan bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Menurutnya, sikap hemat bukan berarti pelit, melainkan kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga pengeluaran dapat lebih terkontrol.

Ia menegaskan bahwa kebiasaan hidup hemat akan membantu masyarakat menghadapi berbagai dinamika ekonomi dengan lebih tenang dan terencana. Selain itu, sikap tersebut juga menjadi bagian dari ikhtiar agar setiap nikmat yang diberikan Allah SWT dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Syukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui cara kita menggunakan nikmat yang telah diberikan Allah. Dengan hidup hemat, menghindari pemborosan, dan terus berikhtiar, insyaallah kehidupan akan terasa lebih berkah,” tuturnya.

Di akhir pesannya, KH Mahmud mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga semangat kebersamaan, memperkuat solidaritas sosial, serta memperbanyak doa agar bangsa dan daerah senantiasa diberikan kemudahan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang ada.

“Jangan berhenti bersyukur. Ketika kita mampu melihat nikmat Allah di balik setiap keadaan, maka hati akan lebih tenang. Rezeki bukan hanya soal materi, tetapi juga kesehatan, keluarga yang harmonis, dan kesempatan untuk terus berbuat kebaikan. Semua itu adalah karunia Allah SWT yang patut kita syukuri,” pungkasnya.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button