BeritaDaerahEkonomiGaya HidupNasionalPemerintahanPendidikanPolitikSosial

Efek Domino Kenaikan Pertamax, Antrean Pertalite Mengular di Pacitan hingga Stok Cepat Habis

"Dalam dua hari terakhir, antrean kendaraan terlihat mengular sejak pagi hingga malam hari"

Pacitan,JBM.co.id- Kebijakan pemerintah yang menetapkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax RON 92 menjadi Rp16.250 per liter memunculkan perubahan pola konsumsi masyarakat. Selisih harga yang cukup jauh dengan Pertalite yang masih bertahan di angka Rp10.000 per liter membuat banyak pengguna kendaraan beralih ke BBM bersubsidi tersebut.

Dampaknya langsung terasa di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pacitan. Dalam dua hari terakhir, antrean kendaraan terlihat mengular sejak pagi hingga malam hari. Tingginya permintaan membuat stok Pertalite di beberapa SPBU cepat terkuras bahkan habis sebelum waktu operasional berakhir.

Pantauan di SPBU Registrasi 01 misalnya, pelayanan pembelian Pertalite terpaksa dihentikan sejak sore hari karena persediaan telah ludes. Kondisi serupa kembali terjadi pada Jumat (12/6/2026), ketika antrean kendaraan sudah memadati area SPBU sejak pagi.

Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Pacitan, Acep Suherman, menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada pengurangan pasokan dari Pertamina untuk BBM bersubsidi, baik Pertalite maupun Bio Solar.

“Kalau stok sebenarnya tidak ada pengurangan dari pihak Pertamina untuk semua SPBU,” ujarnya.

Meski demikian, lonjakan konsumsi yang terjadi secara mendadak membuat pemerintah daerah berupaya menjalin koordinasi dengan Pertamina guna mengantisipasi potensi kelangkaan di lapangan. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah mengajukan tambahan kuota melalui mekanisme fakultatif.

“Untuk BBM bersubsidi ini sejatinya ada kuota fakultatif, sama seperti Elpiji. Namun kewenangan tetap berada di Pertamina. Kami hanya sebatas melakukan koordinasi,” jelas Acep.

Perubahan perilaku konsumen juga berdampak pada penjualan BBM eceran. Jika biasanya Pertalite mudah ditemukan di warung-warung pinggir jalan, kini komoditas tersebut nyaris menghilang dari peredaran. Yang tersedia hanyalah Pertamax dengan harga jual mencapai Rp18.000 per liter.

Menurut Acep, kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat sedang melakukan migrasi konsumsi dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi. Karena itu, ia mengimbau masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih untuk tetap menggunakan Pertamax agar distribusi Pertalite dapat lebih tepat sasaran.

“Yang mampu sebaiknya tetap menggunakan Pertamax sambil menunggu kebijakan resmi pemerintah terkait pembatasan penggunaan Pertalite bagi kendaraan dengan spesifikasi tertentu,” tegasnya.

Di tengah antrean yang terus memanjang dan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM, harapan kini tertuju pada langkah cepat Pertamina dan pemerintah agar pasokan tetap terjaga. Sebab bagi banyak warga, Pertalite bukan sekadar pilihan bahan bakar, melainkan penopang aktivitas sehari-hari yang menentukan roda ekonomi tetap berputar.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button