BeritaDaerahEkonomiNasionalOpiniPolitikSosial

Rupiah Melemah dan BBM Non-Subsidi Melonjak, Usaha Spare Part di Pacitan Kelimpungan

"Ko Helmi : harga pelumas saat ini mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Bahkan, menurutnya, istilah kenaikan harga sudah tidak lagi tepat menggambarkan kondisi yang terjadi"

Pacitan,JBM.co.id- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang diikuti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha di berbagai sektor di Kabupaten Pacitan. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan usaha dan menurunkan daya beli masyarakat.

Salah satu sektor yang terdampak adalah usaha penjualan suku cadang dan pelumas kendaraan bermotor. Kenaikan harga yang terjadi hampir di seluruh komponen membuat pelaku usaha harus menghadapi tantangan berat di tengah lesunya aktivitas ekonomi.

Pemilik salah satu toko onderdil sepeda motor terbesar di Pacitan, Helmi Hamdani, mengatakan bahwa harga pelumas saat ini mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Bahkan, menurutnya, istilah kenaikan harga sudah tidak lagi tepat menggambarkan kondisi yang terjadi.

“Kalau sekarang bukan sekadar naik harga, tapi sudah ganti harga. Kenaikannya hampir menyentuh 100 persen,” ujar Helmi, Kamis (11/6/2026).

Ia menjelaskan, hampir seluruh jenis oli, baik untuk kendaraan merek Honda maupun Yamaha, mengalami penyesuaian harga yang cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat konsumen berpikir ulang sebelum melakukan perawatan kendaraan seperti biasanya.

Tak hanya pelumas, harga ban sepeda motor berbagai merek dan ukuran juga ikut merangkak naik. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir, ketersediaan barang di pasaran sempat mengalami kelangkaan.

“Kami melakukan pemesanan, tetapi kadang hanya mendapat tiga unit saja. Barangnya memang langka, sulit dicari,” ungkapnya.

Menurut Helmi, gejolak harga yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi global. Melemahnya kurs rupiah yang telah menembus kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat membuat biaya impor bahan baku maupun produk jadi meningkat tajam. Di sisi lain, ketidakpastian akibat konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah turut memberikan tekanan terhadap rantai pasok dan harga komoditas dunia.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha di daerah. Mereka berharap kondisi ekonomi segera membaik agar harga barang kembali stabil dan daya beli masyarakat dapat pulih, sehingga roda perekonomian di Pacitan kembali bergerak lebih dinamis.

Di tengah ketidakpastian yang masih membayangi, para pelaku usaha hanya bisa berupaya bertahan sembari menunggu adanya perbaikan kondisi ekonomi, baik di tingkat nasional maupun global.

Berikut disampaikan list harga oli dan ban:

1.Oli mpx 1 0.8lt dari Rp 52.000 naik Rp.78, 000.

2. Oli mpx 1 1lt dari Rp 60,000- naik Rp 90.000.

3.Oli mpx 2 dari Rp 54,000 naik menjadi Rp.80.000.

4. Yamalube matic dari Rp 45.000 naik Rp 60.000.

5.Yamalube silver dari Rp 45.000 naik Rp.60.000.

6.Mesran 0.8lt dari Rp.40,000 naik Rp 55.000. Dan

7.Shell helix 1lt dari Rp 70.000 naik Rp. 95.000.

Sementara untuk harga ban:

1.Ban luar IRC 80/90-14 dari Rp.150.000 naik Rp 175.000.

2. Ban luar IRC 80/90 17 dari Rp.190.000 naik Rp. 215.000. (Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button