Konglomerat Herbal India Lirik Usadha Bali Disambut Ketua DPRD Bali dan Dr. Somvir Bikin CEO Patanjali Ayurved Jajaki Investasi Herbal

Jbm.co.id-DENPASAR | Usadha Bali mulai menarik perhatian dunia internasional. CEO perusahaan herbal asal India, Patanjali Ayurved, Acharya Balkrishna bertemu Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya atau Dewa Jack didampingi Ketua Fraksi Demokrat NasDem DPRD Bali Dapil Buleleng, Dr. Somvir di Ruang Ketua DPRD Provinsi Bali, Kamis, 4 Juni 2026.
Agenda utama pembahasan yakni menjajaki peluang kerja sama pengembangan Usadha Bali, tanaman herbal hingga pertanian organik.
Acharya Balkrishna juga Direktur Pelaksana dari perusahaan konglomerat India’s Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) asal India, Patanjali Ayurved. Ia ikut mendirikan perusahaan tersebut bersama guru yoga ternama Baba Ramdev pada tahun 2006.
Dibawah kepemimpinannya, Patanjali telah berkembang dari apotek kecil menjadi salah satu perusahaan barang konsumen (FMCG) terbesar di India dengan omset tahunan puluhan ribu crore rupee.
Acharya Balkrishna lahir di Haridwar pada 4 Agustus 1972, dari keluarga imigran asal Nepal, ia menempuh pendidikan di bidang Ayurveda dan Sanskerta di Gurukul Haryana, tempat ia pertama kali bertemu dengan Baba Ramdev.
Kesuksesan Patanjali telah menjadikannya salah satu miliarder terkaya di India, dengan kekayaan bersih yang dilaporkan oleh Forbes mencapai miliaran dolar.
Produk Patanjali Ayurved saat ini telah tersebar dan diekspor lebih dari 30 negara di seluruh dunia. Jangkauan internasional ini mencakup berbagai benua, termasuk pasar di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Rusia, Uni Emirat Arab (Dubai), dan kawasan Asia Pasifik seperti Nepal dan Bangladesh
Pertemuan tersebut bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama pengembangan Usadha Bali.
Dalam agenda tersebut, Acharya Balkrishna membahas potensi tanaman herbal Bali yang dinilai memiliki kualitas alami dan belum banyak tercemar polusi.
Acharya Balkrishna yang dikenal sebagai tokoh spiritual sekaligus ahli Ayurveda asal India itu turut memperkenalkan berbagai produk herbal dan mineral milik perusahaannya kepada jajaran DPRD Bali. “Total dua ribu lebih produk,” terangnya.
Menurutnya, Bali memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman herbal dan obat tradisional. Ia menilai kualitas tanaman herbal di Bali sangat baik karena kondisi alamnya masih terjaga dengan baik.
Menurutnya, ke Bali untuk mencari tanaman herbal, karena tanaman obat di Bali lebih murni sebab tidak tercemar polusi.
Selain menjajaki kerja sama herbal, pihaknya juga menyampaikan rencana membuka peluang pertukaran pelajar bagi mahasiswa asal Bali untuk belajar di perusahaan dan universitas yang mereka kelola di India. “Kami siap melakukan pertukaran pelajar,” kata Acharya yang juga Rektor Universitas Patanjali ini.
Tidak hanya itu, Patanjali juga membuka peluang kerja sama di bidang pertanian organik dan edukasi herbal. Bahkan, perusahaan tersebut siap mengirim tenaga ahli ke Bali guna memberikan pelatihan dan edukasi terkait pengembangan tanaman herbal.
“Itu termasuk juga terkait tanaman organik. Bahkan, siap mengirim tenaga ahli ke Bali untuk memberikan edukasi,” paparnya.
Acharya juga menjelaskan bahwa pusat kegiatan perusahaan yang dipimpinnya berada di kawasan dekat Sungai Gangga dengan luas lahan mencapai seribu hektar.
“Kantor kami ada di atas lahan seluas seribu hektar di dekat Sungai Gangga,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Bali Dewa Jack menyampaikan apresiasi atas kunjungan CEO Patanjali Ayurved tersebut. Ia menilai niat kerja sama yang ditawarkan memiliki dampak positif bagi pengembangan Usadha Bali dan sumber daya manusia di Pulau Dewata. “Saya akan bincang-bincang terlebih dahulu dengan Pak Somvir,” kata Dewa Jack.
Ketua DPRD Bali itu juga menyatakan dukungannya terhadap rencana kerja sama tersebut karena dinilai membawa manfaat baik bagi Bali, khususnya di sektor herbal, pendidikan, dan pertanian organik. (ace)




