BeritaDaerahEkonomiPariwisataPemerintahanPendidikanPolitikSosialwisata

Jajan Pasar dan Ekonomi Kerakyatan: Dari Pasar Tradisional Pacitan untuk Indonesia

"Potensi ekonomi lokal sesungguhnya sangat besar apabila masyarakat dan pemerintahan daerah mulai membiasakan penggunaan produk-produk tradisional dalam setiap kegiatan sosial maupun pertemuan resmi"

Pacitan,JBM.co.id- Di tengah derasnya arus modernisasi dan menjamurnya produk instan, masyarakat justru menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi rakyat dapat tumbuh dari hal-hal sederhana yang akrab dengan kehidupan sehari-hari: jajan pasar, polo pendem, dan minuman tradisional khas daerah.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua DPRD Pacitan, Dr. Arif Setia Budi, yang menilai bahwa potensi ekonomi lokal sesungguhnya sangat besar apabila masyarakat dan pemerintahan daerah mulai membiasakan penggunaan produk-produk tradisional dalam setiap kegiatan sosial maupun pertemuan resmi.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan budaya pertemuan masyarakat yang sangat tinggi. Mulai dari rapat desa, pengajian, arisan, kegiatan organisasi, hingga forum pemerintahan, hampir setiap hari selalu ada aktivitas yang menghadirkan konsumsi bagi peserta.

“Bayangkan apabila setiap pertemuan itu menyajikan jajan pasar, polo pendem, dan minuman dari produk lokal. Berapa besar perputaran ekonomi yang terjadi di masyarakat? Petani bergerak, pedagang hidup, UMKM tumbuh, dan kearifan lokal tetap lestari,” ungkap ASB, begitu Arif Setia Budi akrab disapa, Sabtu (16/5/2026).

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa jajan pasar bukan sekadar makanan tradisional, melainkan simbol identitas budaya dan ketahanan ekonomi masyarakat desa. Di balik sepotong gethuk, klepon, cenil, tiwul, atau rebusan polo pendem, terdapat rantai ekonomi panjang yang melibatkan petani singkong, kelapa, gula merah, hingga para ibu rumah tangga pelaku usaha kecil.

Konsep ini dinilai selaras dengan semangat ekonomi kerakyatan, yakni sistem ekonomi yang bertumpu pada kekuatan masyarakat bawah dengan memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber utama penggerak kesejahteraan. Ketika masyarakat dan pemerintah memilih produk daerah sendiri, maka keuntungan ekonomi tidak lari keluar wilayah, tetapi berputar di lingkungan sekitar.

Selain memberikan dampak ekonomi, penggunaan sajian tradisional juga memiliki nilai edukatif bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja akan lebih mengenal kekayaan kuliner nusantara, memahami hasil bumi daerahnya sendiri, serta belajar mencintai produk lokal di tengah dominasi makanan modern dan budaya konsumtif.

Di Pacitan, semangat menghidupkan kembali jajan pasar menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Dari desa ke desa, gagasan besar tentang ekonomi berbasis rakyat terus tumbuh dan membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi bisa berawal dari meja pertemuan sederhana yang menyajikan cita rasa kampung halaman.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button