JLS Terbuka, Inovasi Tertutup: Pariwisata Pacitan Terancam Tersisih di Panggung Selatan Jawa
"Ketika daerah lain berlomba menciptakan ekosistem wisata yang lengkap, Pacitan masih menjual panorama alam mentah. Padahal keindahan saja tidak cukup untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama"

Pacitan,JBM.co.id-Terbukanya Jalur Lintas Selatan (JLS) seharusnya menjadi lonceng kebangkitan pariwisata Pacitan. Namun di balik kemegahan infrastruktur nasional yang kini menghubungkan Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek hingga Gunungkidul, justru mengemuka ironi besar, Pacitan berpotensi hanya menjadi daerah lintasan, bukan tujuan utama wisata.
Sorotan tajam pun mengarah ke Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pacitan. Perangkat daerah di bawah kendali Muniirul Ichwan ini dinilai belum mampu menjawab tantangan zaman melalui inovasi pengelolaan destinasi wisata yang progresif dan berkelanjutan.
Dengan mengusung tagline baru “70 Mile Sea Paradise”, Pacitan sejatinya telah membangun ekspektasi besar. Namun di lapangan, slogan tersebut dinilai masih sebatas kosmetik branding. Tanpa terobosan konkret, branding itu dikhawatirkan hanya menjadi jargon kosong yang tak memberi nilai tambah bagi pengalaman wisatawan.
Sejumlah sumber media menyebut, stagnasi inovasi pariwisata Pacitan bukan persoalan baru. Selama bertahun-tahun, pola pengelolaan destinasi dinilai berjalan di tempat, minim diferensiasi, miskin atraksi penunjang, serta lemah dalam memanfaatkan momentum konektivitas wilayah.
“Ketika daerah lain berlomba menciptakan ekosistem wisata yang lengkap, Pacitan masih menjual panorama alam mentah. Padahal keindahan saja tidak cukup untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama,” ungkap seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, Selasa (20/1/2026).
Ancaman terbesar datang dari daerah tetangga. Trenggalek, Tulungagung, hingga Gunungkidul telah lebih dulu bertransformasi dengan konsep wisata tematik, atraksi berbasis budaya lokal, hingga sentuhan ekonomi kreatif. Tanpa inovasi yang sepadan, Pacitan berisiko kalah bersaing di jalur wisata selatan Jawa.
Menanggapi kritik keras tersebut, Kepala Disparbudpora Pacitan, Muniirul Ichwan, tak menampik pentingnya inovasi. Ia menyatakan, tahun 2026 menjadi momentum bagi pihaknya untuk melakukan pembenahan serius dengan merancang konsep wisata yang lebih berorientasi pada pengalaman pengunjung.
“Ke depan, wisata pantai tidak hanya menyajikan pemandangan alam. Akan ada suguhan lain di dalam kawasan wisata agar pengunjung merasa betah. Konsep ini sedang kami rancang dan akan melibatkan lintas sektor,” ujar Muniirul.
Namun, pernyataan tersebut sekaligus menjadi ujian. Pasalnya, publik kini menunggu bukan sekadar rencana, melainkan realisasi nyata. Terlebih Muniirul sendiri mengakui bahwa karakter pantai Pacitan tidak jauh berbeda dengan daerah lain.
“Kalau panoramanya sama, maka yang membedakan adalah kemasan dan fasilitas penunjang. Itu yang akan kami dorong agar wisatawan mau datang dan tinggal lebih lama,” tegasnya.
Dengan JLS yang telah terbuka penuh, waktu Pacitan untuk berbenah kian sempit. Tanpa lompatan inovasi yang konkret dan terukur, Pacitan bukan hanya tertinggal, tetapi berisiko tersingkir dari peta utama pariwisata selatan Jawa dan sekadar penonton di rumah sendiri.(Red/yun).




