BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

UMKM Pacitan Tergerus Pasar Digital, Pemkab Dorong Literasi Teknologi Agar Pelaku Lokal Bertahan

"Kami memiliki konsultan pendamping bidang pemasaran yang memiliki kompetensi BNSP. Diharapkan pro aktif teman-teman UMKM untuk datang ke PLUT guna memperoleh pelayanan dan pendampingan"

Pacitan,JBM.co.id-Perkembangan pesat aktivitas perdagangan berbasis teknologi digital mulai berdampak signifikan terhadap keberlangsungan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Pacitan. Masifnya transaksi jual beli secara online membuat sebagian pelaku UMKM lokal mengaku mengalami penurunan omzet dalam beberapa waktu terakhir.

Perubahan pola belanja masyarakat yang kini semakin bergeser ke platform digital menjadi tantangan serius, terutama bagi UMKM konvensional yang masih mengandalkan penjualan secara langsung. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan pemahaman teknologi, khususnya di kalangan pelaku UMKM yang sudah berusia lanjut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perindustrian Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, menegaskan pentingnya peningkatan literasi digital agar UMKM lokal mampu beradaptasi dan tetap memiliki daya saing di tengah arus digitalisasi ekonomi.

“Pasar online sekarang memang semakin masif dan secara tidak langsung menekan keberadaan UMKM konvensional. Karena itu, pelaku UMKM juga perlu kita dorong untuk masuk ke jejaring digital agar produk mereka memiliki jangkauan pemasaran yang lebih luas,” ujar Ali, Kamis (29/1/2026).

Organisasi perangkat daerah yang dipimpinnya, melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) UMKM Pacitan siap memberikan pelayanan literasi digital kepada pelaku UMKM. “Kami memiliki konsultan pendamping bidang pemasaran yang memiliki kompetensi BNSP. Diharapkan pro aktif teman-teman UMKM untuk datang ke PLUT guna memperoleh pelayanan dan pendampingan,” tuturnya.

Ali mengakui bahwa tidak semua pelaku UMKM di Pacitan siap secara langsung menghadapi transformasi digital. Faktor usia menjadi salah satu kendala utama, di mana sebagian besar pelaku usaha masih belum terbiasa menggunakan teknologi seperti marketplace, media sosial, maupun sistem pembayaran digital.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mendorong adanya pendampingan berkelanjutan. Pendampingan ini tidak hanya datang dari pemerintah melalui pelatihan dan sosialisasi, tetapi juga dapat melibatkan mentor, komunitas, hingga peran aktif putra-putri pelaku UMKM yang lebih memahami dunia digital.

“Pendampingan itu kunci. Bisa dari mentor, bisa juga dari anak-anak mereka yang lebih paham teknologi. Dengan begitu, proses adaptasi tidak terlalu berat,” tambahnya.

Digitalisasi UMKM dinilai bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan agar produk lokal Pacitan tidak tertinggal dan mampu bersaing dengan produk dari luar daerah. Melalui pemanfaatan teknologi, UMKM berpeluang memperluas pasar, meningkatkan nilai jual, sekaligus memperkuat branding produk lokal.

Pemerintah daerah berharap, dengan kolaborasi antara pelaku UMKM, keluarga, dan stakeholder terkait, transformasi digital dapat berjalan lebih inklusif. Dengan demikian, UMKM Pacitan tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh di tengah dinamika ekonomi digital yang terus berkembang.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button