Tak Banyak Yang Belum Tau, Bupati Aji Juga Seorang Pendekar Pencak Silat. Ini Penuturan Kabag Prokopin Yang Juga Pegiat Bela Diri
"Pencak silat bagi Mas Aji bukan tentang adu kekuatan, melainkan tentang menata batin. Tentang menghormati lawan, menguasai diri, dan tahu kapan harus maju atau menahan langkah"

Pacitan,JBM.co.id-Gerakannya nyaris tak pernah tergesa. Tatapannya tenang, tutur katanya tertata. Di hadapan publik, ia dikenal sebagai Bupati Pacitan yang piawai memimpin pemerintahan dan mencintai seni budaya.
Namun di balik sorban kebudayaan dan meja birokrasi, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro menyimpan jejak panjang dunia pencak silat, dunia yang membentuk jiwanya sejak muda.
Mas Aji, begitu ia akrab disapa, bukan sekadar penikmat seni bela diri. Ia adalah seorang pendekar pencak silat dari salah satu perguruan silat terkemuka di negeri ini. Sebuah identitas yang jarang disampaikan, namun kuat tercermin dalam cara ia mengambil sikap dan memimpin.
Kisah itu terungkap dari Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Pacitan, Lutfi Azza Azizah. Sebagai pegiat seni bela diri, Lutfi memahami betul bahasa diam para pesilat. Ketenangan yang lahir dari latihan panjang dan pengendalian diri.
“Mas Aji adalah seorang pendekar silat. Nilai-nilai yang beliau pegang bukan datang tiba-tiba, tetapi tumbuh dari proses panjang,” tutur Lutfi, sesaat sebelum mengikuti rapat dengan Asisten Sekda, Selasa (23/12/2025).
Pencak silat bagi Mas Aji bukan tentang adu kekuatan, melainkan tentang menata batin. Tentang menghormati lawan, menguasai diri, dan tahu kapan harus maju atau menahan langkah.
Filosofi itu pula yang kerap terasa dalam kepemimpinannya, tegas tanpa keras, berwibawa tanpa meninggikan suara.
Dalam setiap keputusan, ia memilih jalan yang tidak meledak-ledak. Ada pertimbangan matang, ada kesenyapan sebelum ketukan palu kebijakan dijatuhkan.
Seperti seorang pesilat di gelanggang, ia membaca situasi, menakar risiko, lalu bergerak dengan presisi.
Tak mengherankan jika banyak yang menilai Mas Aji sebagai pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan. Antara modernitas dan tradisi, antara ketegasan dan empati. Sebuah keseimbangan yang menjadi inti ajaran pencak silat itu sendiri.
Di Pacitan, sosok Mas Aji hari ini bukan hanya kepala daerah. Ia adalah gambaran tentang kepemimpinan yang berakar pada kearifan lokal, di mana kekuatan sejati tak selalu ditunjukkan dengan suara keras atau langkah tergesa, melainkan dengan ketenangan jiwa dan keteguhan prinsip, seperti seorang pendekar yang tahu benar makna sebuah gerak.(Red/yun)




