Prof. Dewi Yulianti Apresiasi Bedah Buku Singgasana Battisi Berisi Nilai Moral Bernuansa Religius

Jbm.co.id-DENPASAR | Kepala International Office ISI Bali, Prof. Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum., M.Sn., sangat mengapresiasi acara Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari.
Sesuai isi bukunya, Prof Dewi Yulianti menyebutkan umat manusia perlu kuat dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.
“Entah itu menjadi pejabat, dosen, wartawan atau siapapun, dalam hidup itu kita harus kuat,” terangnya.

Sesungguhnya, kekuatan itu bukan berasal dari diri sendiri, tapi bersumber dari kekuatan Tuhan. Untuk itu, Prof. Dewi Yulianti berpesan harus ada nilai moral (moral value) yang disampaikan kepada pembaca.
“Saya banyak juga menulis buku. Jadi, intinya Nilai Moral itu harus jelas. Kita diberikan buku ini, kemudian kita membaca harus kita dapatkan apa. Kesimpulannya kita harus kuat menghadapi cobaan dalam kehidupan seperti Raja Vikramaditya dalam buku itu,” paparnya.
Untuk menjadi kuat dan baik selalu berada di jalan kebenaran tentunya semua pihak harus menggantungkan kehidupannya kepada Tuhan.
“Srada kita harus baik. Yang paling bagus kita lakukan adalah harus selalu koneksi dengan Tuhan. Ngapain pun kita harus tetap Connected sama Tuhan,” kata Prof. Dewi Yulianti.
Secara pribadi, dirinya punya prinsip bekerja dengan berbakti kepada Tuhan.
Selain itu, Prof Dewi Yulianti menyebutkan peluncuran Buku Singgasana Battisi sangatlah luar biasa dengan menghadirkan para sulinggih, yang tentunya mengandung aura kesucian bernuansa religius.
“Kita juga mendapatkan aura tersebut untuk kita jadikan bekal kita hari ini dan juga seterusnya kedepan,” tandasnya.
Patut diketahui, bahwa
Acara Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari, Kisah-Kisah Agung Sang Raja Vikramaditya menghadirkan langsung Sang Penulis, Prof. Gautam Kumar Jha sebagai Pakar Studi Asia Tenggara dari Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India, bersama Tokoh Publik, Dr. Somvir yang juga Anggota DPRD Provinsi Bali.
Menariknya, Acara Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari dilaksanakan di Markas Besar Partai Politik (Parpol, khususnya Partai Nasdem Bali, tepatnya berada di Auditorium Partai Nasdem Bali, Jalan Cok. Agung Tresna No. 25, Renon, Denpasar, Selasa, 12 Agustus 2025.
Pada kesempatan tersebut, Tokoh Publik, Dr. Somvir yang juga Anggota DPRD Provinsi Bali menyatakan sesuai arahan Ketum Surya Paloh, bahwa Gedung Kantor Partai Nasdem Bali milik masyarakat Bali dan Indonesia.
“Jika berbicara masyarakat itu ada suka politik, menulis buku dan ada suka menari atau kerja biasa. Itu berbeda kalangan masyarakat,” kata Dr. Somvir.
Bahkan, Dr. Somvir menilai Diskusi dan Bedah Buku merupakan momentum yang sangat bagus untuk memperkenalkan Gedung Partai Nasdem Bali dinilai sangat mewah dan istimewa, karena terbuka untuk seluruh masyarakat Bali dan Indonesia, terutama penulis buku terkait budaya Bali dan sejarah Indonesia atau lintas agama dan lintas partai.
“Kalau ada kegiatan kita selalu welcome disini. Itu program yang pertama kali kita adakan non partai hadir, terutama Cendikiawan, Akademisi dan Profesor dari berbagai Universitas, seniman serta penulis buku,” terangnya.
Hal tersebut dikatakan Bhinneka Tunggal Ika sebagai sebuah garda yang penuh bunga berwarna warni. Untuk itu, Dr. Somvir merasa bangga dan menghormati, bahwa Gedung Partai Nasdem Bali dimanfaatkan buat kepentingan masyarakat Bali.
“Jangan dipikir kalau datang ke Kantor DPW Nasdem Bali kita akan menjadi anggota Nasdem. Itu bukan begitu. Kita warga Bali siapapun ber-KTP Bali atau Indonesia welcome kesini. Tapi, jika besok tertarik ke Nasdem khan itu lain masalahnya,” kata Dr. Somvir.
Mengingat, pihaknya siap melayani masyarakat lewat penggunaan Gedung DPW Partai Nasdem Bali melalui berbagi kegiatan masyarakat, seperti Seminar Internasional.
Apalagi, terdapat Tokoh Spiritual atau Sulinggih datang ke Bali yang berarti merestui gedung ini yang ternyata sangat bermanfaat dengan membawa vibrasi positif bagi kepentingan masyarakat Bali dengan mendoakan semua masyarakat Bali biar mereka sehat, sejahtera dan bahagia melalui energi positif, yang akhirnya mencapai kebahagiaan sempurna.
“Kalau kita bicara negatif dan saling menjatuhkan serta saling habisin, ini partai dan partai itu nanti waktu habis untuk urus ini saja. Mari sekarang kita urus kepentingan masyarakat Bali, karena kita dipilih oleh masyarakat Bali, maka kita welcome lintas partai dan lintas agama,” kata Dr. Somvir.
Menariknya lagi, pihaknya mengundang Prof. Gautam Kumar Jha yang hampir 20 tahun lebih melaksanakan penelitian tentang Sejarah Indonesia, khususnya naskah kuno yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, sehingga menjadi sebuah buku, yang salah satunya berjudul Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari.
Maka dari itu, Dr. Somvir mempertanyakan orang yang menjaga dan akan menterjemahkan Buku, jika semua menjadi Anggota Dewan, sehingga Partai Nasdem Bali membuka diri untuk para Rohaniawan, Cendikiawan dan Peneliti dari Internasional yang akan datang membuat program-program bermanfaat bagi Bali.
“Kita welcome ini dan bergembira, karena slogan Nasdem Bali itu berbuat dengan gembira dan penuh cinta kasih serta saling hormat menghormati, itulah motto kita,” paparnya.
Mengenai Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari, Dr. Somvir menilai sebagai salah satu sejarah yang tertuang dalam naskah kuno, sekaligus mengandung nilai historis antara India dengan Indonesia, khususnya Bali.
Kemudian, lanjutnya Buku yang ditulis oleh Prof. Gautam Kumar Jha itu diterjemahkan dari bahasa Sansekerta kedalam bahasa Indonesia, sekaligus mempromosikan bahasa Indonesia di negeri India, lantaran adanya kemiripan antara bahasa Sansekerta dengan bahasa Indonesia. Mengingat, jutaan warga India berkunjung ke Bali.
“Sekarang kita dapat motivasi buat para Cendikiawan, Budayawan, mari kita terjemahkan buku dan naskah dalam Jawa Kuno atau bahasa lainnya apapun itu disadur kedalam bahasa Indonesia,” tambahnya.
Terlebih lagi, Buku Singgasana Battisi dinilai mengandung nilai historis untuk menjadi pemimpin yang baik.
“Seperti tadi cerita, seorang Raja suatu hari tinggalkan kerajaan pergi ke Himalaya untuk bertapa. Apakah seorang anggota Dewan atau pemimpin mau jalankan itu, setelah 20 tahun serahkan diri dan pergi ke tempat suci,” tanyanya.
Meski politik bisa mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, namun, politik bukan tujuan akhir. Maka dari itu, setelah Pemilu diharapkan semua partai politik bersatu demi kepentingan masyarakat Bali.
“Jangan terlalu bawa nama partai, tapi utamakan kepentingan rakyat. Makanya jangan terlalu sombong dan arogan suatu hari dunia akan kita tinggalkan, itulah salah satu cerita yang bisa kita petik hikmahnya dan jangan cinta buta,” tuturnya.
Khusus Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari, Dr. Somvir menyebutkan buku tersebut mengisahkan perjalanan spiritual dan kepemimpinan legendaris Raja Vikramaditya sebagai sosok bijak, berani dan penuh welas asih yang dikenang sepanjang zaman.
Diceritakan melalui tiga puluh dua (32) bidadari yang menghuni singgasana emasnya, kisah-kisah ini mengungkap nilai luhur Dharma, keberanian menghadapi ujian moral dan ketulusan pengabdian bagi rakyat.
Setiap kisah adalah cermin kepemimpinan sejati: dari keberanian menghadapi dukun jahat, kemurahan hati memberi istana, hingga pengorbanan demi kesejahteraan rakyat.
Kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan ajaran hidup yang menginspirasi generasi masa kini, baik anak-anak, orangtua maupun pemimpin bangsa.
“Buku ini disusun oleh Gautam Kumar Jha, buku ini adalah jembatan budaya India dan Nusantara, mempersembahkan kisah-kisah agung sebagai warisan spiritual lintas generasi. Jadi, buku ini dibaca bersama, direnungkan bersama, dan diwariskan sebagai pelita Dharma dalam keluarga,” urainya.
Sementara itu, Ketua Bapilu DPW Partai Nasdem Bali, Anak Agung Ngurah Gede Widiada menyatakan, bahwa Ballroom Partai Nasdem Bali didirikan oleh Ketum Partai Nasdem Surya Paloh bagi siapapun berniat baik, yang melakukan kegiatan baik.
“Kali ini, kami dari Partai Nasdem Bali berkolaboratif dengan tokoh-tokoh intelektual, spritual, partai politik dan tokoh lintas profesi. Kami merasa gedung ini diberikan kehormatan, karena bagaimanapun juga Ketum selalu memberikan saran bahwa gedung ini diperuntukkan bagi masyarakat Bali,” kata Agung Widiada.
Meski Kantor Partai Nasdem Bali diperuntukkan untuk kegiatan partai, namun juga digunakan buat kegiatan masyarakat Bali bernilai positif, seperti acara Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari.
“Acara itu berikan pesan keteladan, kejujuran dan manfaat filosofis apa yang disampaikan tadi dalam buku ini,” terangnya.
Sebagai kader partai dan bernaung dibawah gedung ini, Agung Widiada berharap pihaknya tetap berupaya menjaga keakraban sesama Partai Politik (Parpol) di Bali, yang dilandasi etika, moral dan budaya malu.
“Kita ingin politik itu dilandasi oleh etika dan moral, karena Surya Paloh kemarin dalam Rakernas di Sulawesi menekankan berkali-kali bagaimana kita kader-kader Partai Nasdem ini untuk mampu memiliki budaya malu terkait dengan integritas,” paparnya.
Politik yang berlandaskan etika dan moral itu, lanjutnya sejalan dengan nafas buku yang dibedah hari ini dan didedikasikan buat kepentingan masyarakat Bali.
Diharapkan, vibrasi buku ini bisa dibaca oleh kader-kader Partai Nasdem Bali dalam menjalani aktivitas politik.
“Jangan hiruk pikuk-lah. Kita damai, suasana guyub sebagaimana kehidupan masyarakat Bali, tapi etika dan moralitas jangan dilupakan dalam berpolitik,” tegasnya.
Pasalnya, Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari merupakan buku politik dan kepemimpinan. Awalnya, buku ini rencananya diluncurkan di dua tempat, yaitu Gedung DPRD Provinsi Bali dan Kantor Gubernur Bali.
“Karena buku ini bernuansa politis, hanya saja dia penulisannya dalam bentuk cerita seolah-olah fiksi, tapi sebenarnya tidak,” kata Akademisi, Penulis asal Bali dan juga Pimpinan Canakya Academy, Dr. Ni Kadek Surpi Arya Dharma.
Saat memandu acara Diskusi dan Bedah Buku, Dr. Surpi mengakui dibuat seperti itu, maksudnya, agar buku menjadi menarik. Apalagi, dalam kata pengantar sudah dicantumkan, bahwa sesungguhnya termasuk buku politik.
“Kami ingin berkolaborasi dengan semua pihak, lintas partai sekalipun, sebagai anggota DPRD itu biasanya khan memang sudah tidak terikat terlalu panjang dengan baju dan bergaul dengan siapapun,” urainya.
Tak hanya itu, Dr. Ni Kadek Surpi menyatakan kesiapannya jika nanti buku Singgasana Battisi direncanakan akan dibedah di banyak tempat, termasuk Partai Politik (Parpol).
“Ternyata Parpol Nasdem Bali yang sangat responsif menyambut Bedah Buku Singgasana Battisi,” tambahnya.
Bahkan, nilai-nilai luhur yang tercantum didalam Buku Singgasana Battisi justru akan menjadi guide line bagi para politisi.
“Seandainya para politisi kita berlandaskan pada gerakan akan kebenaran, kebajikan dan kepentingan masyarakat, tentu kita akan memiliki cakrawala politik yang lebih baik bukan hanya saling sikat, bukan hanya ngerahin macem-macem,” sebutnya.
Meski demikian, politik ini adalah esensi dari bangsa dalam segala hal, termasuk Mahabarata dan Ramayana sebagai buku politik.
“Jadi, kita tidak boleh anti politik, termasuk politisi dan sebagai akademisi, saya mendorong kolaborasi antara akademisi dan politisi. Jangan lihat partai dan bajunya, tapi semangatnya,” kata Dr. Ni Kadek Surpi.
Kehadiran para Narasumber diharapkan mampu membuka ruang dialog yang kaya akan perspektif, mempertemukan khazanah sastra klasik dengan tantangan dunia modern.
“Melalui bedah buku ini, kami ingin menunjukkan bahwa kisah-kisah klasik tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber nilai dan kebijaksanaan yang relevan untuk membentuk kepemimpinan yang berintegritas di masa kini,” terangnya.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Gautam Kumar Jha adalah penulis asal India yang meluncurkan Buku berjudul “Singgasana Battisi-Takhta 32 Bidadari” sebagai sebuah karya yang merefleksikan peran penting cerita dalam membentuk wawasan, karakter dan kepemimpinan ditengah masyarakat.
Prof. Gautam Kumar Jha menyatakan Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari mengupas makna dan relevansi Singgasana Battisi dalam konteks sosial, budaya dan pendidikan.
Ia menulis buku ini karena mengetahui ketika berkeliling di Indonesia, ada kebutuhan yang mendesak akan buku cerita.
Sebagai ilmuwan yang aktif, Prof. Gautam Kumar Jha akhirnya memutuskan menulis buku yang sesungguhnya berisi ajaran tentang politik, kepemimpinan dan karakter, tetapi melalui cerita.
“Singgasana Battisi adalah jendela untuk memahami bahwa cerita bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pembentukan cara pandang, penanaman nilai, dan inspirasi bagi generasi mendatang,” terangnya.
Melalui Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi, Prof Gautam Kumar Jha berharap buku ini disambut baik oleh publik di Indonesia.
“Saya menulis buku ini berbahasa Indonesia dan dibantu editing oleh Dr. Ni Kadek Surpi dibawah penerbit Dharma Pustaka Utama,” terangnya.
Tak kalah pentingnya, Prof. Gautam Kumar Jha menyebutkan India dan Indonesia sebagai daerah yang sama-sama mengusung kebudayaan sangat luar biasa.
“Sebagai peneliti 25 tahun, saya pikir Bali itu adalah India Kuno atau India Original yang disebutkan dalam buku Mahabarata, Ramayana dan lain-lainnya. Saya lihat itu dalam masyarakat Bali,” terangnya.
Menurutnya, buku-buku pengetahuan dalam bahasa India seharusnya diterjemahkan ke dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Dengan bantuan Dr. Ni Kadek Surpi, pihaknya bakal mewujudkan tujuan-tujuan tersebut.
Seperti Raja-Raja di Nusantara pada umumnya, lanjutnya Raja Vikramaditya di India juga menerbitkan prasasti yang daerah kekuasaannya hampir seluruh India.
“Seperti abad 6 hingga abad 7 orang-orang sudah mulai menulis tentang keberanian dan keadilan Raja. Ini seperti kita dalam bahasa politik disebut struktur negara. Jika orang-orang sudah jujur, adil dan punya kebijaksanaan berarti ada harmonis dalam masyarakat. Mereka di masa depan menjadi pemimpin yang bagus sekali, karena masyarakat mempercayai pemimpin seperti itu,” tuturnya.
Patut diketahui, bahwa Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi melibatkan peserta dari berbagai latar belakang akademisi, mahasiswa, pemerhati sastra hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan pada literatur dan nilai-nilai kebijaksanaan Timur.
Acara Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari ini langsung dibuka oleh Ida Pandita Mpu Acharya Jaya Daksa Vedananda sebagai tokoh spiritual Hindu dari Griya Taman Ganapati, Banjar Gede, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.
Turut hadir, Anak Agung Ngurah Gede Widiada sebagai Ketua Bapilu DPW Partai
Nasdem Bali, Made Suastika Ekasana selaku Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan PHDI Provinsi Bali, Pengurus Sabha Kerta Sulinggih Bali, Ida Pandita Mpu Acarya Jaya Daksa Wedananda, Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Agni Yogananda Griya Santabana Payuk Bangli serta sejumlah Sulinggih lainnya.
Hadir pula, Akademisi Universitas Udayana, Prof.Dr.Ir. I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, MT., Kepala International Office ISI Bali, Prof. Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum., M.Sn., beserta sejumlah akademisi lainnya.
Selain itu, juga hadir Plt. Ketua DPW Partai Perindo Provinsi Bali I Ketut Putra Ismaya Jaya yang akrab disapa Jero Bima serta sejumlah tokoh politik lainnya. (ace).




