BaliBeritaDaerahPariwisataPemerintahanPendidikan

Perbekel Kadek Wira Wicaksana Tegaskan Komitmen Lestarikan Tradisi Gangsing di Desa Gesing

Jbm.co.id-BULELENG | Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Buleleng kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu desa pelestari permainan tradisional Bali. Tradisi gangsing, yang telah puluhan tahun menjadi identitas budaya masyarakat setempat, resmi dibuka melalui pertandingan yang digelar pada pukul 11.00 WITA dan dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat serta perwakilan pemerintah daerah.

Acara tersebut dihadiri Perbekel Munduk Gesing Kadek Wira Wicaksana selaku tuan rumah, prajuru Desa Adat, tokoh-tokoh masyarakat, Camat Banjar, serta dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng mewakili Kepala Dinas Pariwisata.

Gangsing, Identitas Leluhur yang Terus Dihidupkan

Perbekel Kadek Wira Wicaksana menegaskan bahwa gangsing bukan sekadar permainan, tetapi merupakan simbol warisan leluhur yang sudah mengakar kuat di kalangan masyarakat Gesing.

“Gangsing ini adalah warisan budaya dari melukur (leluhur) kami. Tradisi ini sudah ada sejak lama dan menjadi kebanggaan masyarakat Gesing,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa di masa lalu, terdapat dua jenis gangsing: gangsing lengisan yang menggunakan minyak dan gangsing lombaran yang tidak menggunakan minyak. Kini, Desa Gesing memilih fokus pada gangsing lombaran karena lebih praktis dan mudah dikembangkan.

“Gangsing lengisan membutuhkan perawatan lebih rumit. Karena itu, kami sekarang memaksimalkan permainan gangsing lombaran yang lebih sederhana, waktu mainnya lebih cepat, dan lebih mudah dikembangkan,” tambahnya.

Perbekel juga menegaskan dukungannya terhadap keberlanjutan tradisi ini dan berharap adanya kolaborasi masyarakat, pecinta budaya, serta pemerintah daerah agar tradisi gangsing terus hidup.

Tradisi Nunjuk Pindekan, Permainan Unik Berbahan Kayu Bambu

Selain gangsing, Desa Gesing juga memiliki tradisi nunjuk pindekan, permainan baling-baling bambu berukuran 4-7 meter yang hanya dapat dimainkan saat angin alam mendukung.

“Tradisi pindekan juga merupakan warisan dari leluhur kami. Bahannya dari kayu bambu panjang. Namun, karena membutuhkan angin alami, kami sedang menyiapkan koordinasi untuk menyediakan lokasi yang tepat di pohon gunud dekat panggung desa,” kata Perbekel.

Masyarakat meyakini bahwa tradisi gangsing dan pindekan memiliki dimensi spiritual karena di wilayah desa terdapat pelinggih perjuangan yang diyakini memberikan taksu bagi keberlangsungan tradisi budaya tersebut.

Pelestarian Budaya untuk Membangun Identitas Desa

Bagi Desa Gesing, pembukaan pertandingan gangsing bukan sekadar agenda seremonial, tetapi sebuah langkah nyata dalam menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.

“Kami berharap generasi muda Gesing terus mencintai dan mengembangkan tradisi ini. Gangsing dan pindekan adalah identitas budaya yang harus terus kita rawat,” tutupnya.

Dengan pelestarian aktif ini, Desa Gesing semakin menguatkan diri sebagai desa yang tidak hanya menjaga adat tetapi juga terus menghidupkan tradisi sebagai daya tarik budaya dan kebanggaan masyarakat Bali. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button