Nasib Pancer Door di Persimpangan: Antara Pesona Samudra dan Bayang-Bayang Penyimpangan
"Belakangan, ketenangan kawasan ini terusik oleh berbagai isu yang meresahkan"

Pacitan, JBM.co.id-Hamparan biru laut yang memantulkan cahaya mentari, desir angin yang menenangkan jiwa, serta garis pantai yang memukau mata, semua itu menjadikan Pantai Pancer Door di Pacitan sebagai salah satu permata wisata yang tak terbantahkan. Namun di balik keelokan panorama tersebut, terselip kisah pilu yang perlahan mencoreng wajah destinasi ini.
Sejak ditetapkan sebagai kawasan terbuka publik, akses menuju Pantai Pancer Door kian mudah dijangkau. Wisatawan dari berbagai penjuru dapat menikmati keindahan alam tanpa harus mengeluarkan biaya tiket masuk, cukup dengan retribusi parkir yang terjangkau. Kondisi ini semestinya menjadi peluang emas untuk mendorong geliat pariwisata lokal.
Akan tetapi, realitas di lapangan berkata lain. Belakangan, ketenangan kawasan ini terusik oleh berbagai isu yang meresahkan. Pantai yang seharusnya menjadi ruang rekreasi keluarga justru diduga kerap disalahgunakan untuk aktivitas negatif, mulai dari pesta minuman keras hingga praktik prostitusi terselubung.
Indikasi tersebut bukan sekadar kabar angin. Dari hasil pantauan sejumlah sumber terpercaya, ditemukan jejak-jejak yang menguatkan dugaan tersebut. Di antara semak-semak sekitar kawasan pantai, berserakan alat kontrasepsi serta botol bekas minuman keras, pemandangan yang jauh dari kata pantas bagi destinasi wisata.
“Pernah saya lihat di dekat warung, banyak kondom dan botol miras berserakan,” ungkap seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, Senin (20/4/2026).
Tak hanya itu, kawasan sempadan pantai yang seharusnya steril dari bangunan kini justru dipenuhi deretan warung liar. Keberadaan warung-warung tersebut bahkan memunculkan keluhan dari pengunjung, yang merasa ‘terpaksa’ membeli sesuatu hanya untuk sekadar duduk dan menikmati suasana pantai.
Lebih jauh, muncul pula dugaan bahwa rambu-rambu peringatan di kawasan tersebut sengaja ditutup atau diabaikan. Upaya penertiban yang sempat dilakukan pun disebut belum membuahkan hasil berarti.
Situasi ini menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat. Pancer Door bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga kawasan yang memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi. Oleh karena itu, publik kini menaruh harapan besar pada pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah tegas dan terukur.
Pemulihan marwah Pantai Pancer Door bukan hanya soal menjaga keindahan alam, tetapi juga mengembalikan fungsi dan nilai luhur yang melekat di dalamnya. Sebab, keindahan sejati sebuah destinasi tak hanya terletak pada panorama, melainkan juga pada bagaimana ia dijaga dan dihormati oleh setiap insan yang datang.(Red/yun).




