Menanam Ingatan Budaya Lewat Pasar Beling Song Meri, Refleksi Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro
"Melalui Pasar Beling Song Meri, kita belajar menata kembali relasi manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan sejarahnya sendiri. Inilah pelajaran penting yang tidak selalu ditemukan di bangku sekolah"

Pacitan,JBM.co.id- Pelaksanaan Pasar Beling Song Meri di Pacitan tidak sekadar dimaknai sebagai perhelatan budaya tahunan, melainkan sebagai ikhtiar kolektif merawat jejak peradaban dan menanamkan kesadaran kultural bagi generasi masa depan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, yang memandang Pasar Beling Song Meri sebagai fondasi awal pembentukan patilasan budaya adi luhung, ruang ingatan yang hidup dan berkelanjutan.
Dalam ulasan kontemplatifnya, Bupati menuturkan bahwa budaya bukanlah artefak mati yang disimpan dalam ruang-ruang museum semata, melainkan nilai hidup yang harus dialami, dipahami, dan diwariskan.
Pasar Beling Song Meri, dengan segala laku tradisi, simbol, dan interaksi sosial yang dihadirkan, menjadi medium edukatif yang mengajarkan masyarakat, khususnya generasi muda, tentang makna kebersahajaan, gotong royong, dan kearifan lokal yang berakar kuat pada jati diri Pacitan.
“Budaya adalah guru yang paling jujur,” tutur Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro., melalui Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Pacitan, Luthfi Azza Azizah, Ahad (25/1/2026).

Lebih jauh, ia menekankan bahwa membangun patilasan budaya bukan hanya soal melestarikan bentuk fisik atau ritual, tetapi juga menjaga ruh dan nilai yang menyertainya. Pasar Beling Song Meri diharapkan menjadi ruang permenungan bersama, tempat masyarakat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk zaman, lalu menengok kembali akar budaya yang menumbuhkan etika, rasa, dan kebijaksanaan.
Sebagai seorang pemimpin daerah yang juga menempatkan diri sebagai bagian dari laku budaya, Bupati Pacitan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Pasar Beling Song Meri sebagai titik temu lintas generasi.

Dengan demikian, Pasar Beling Song Meri tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga penanda zaman, bahwa Pacitan memilih berjalan ke depan tanpa tercerabut dari nilai-nilai adi luhung yang membentuknya.(Red/yun).




