BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanSosial

Makna Mendalam Syiir Tanpo Waton, Seruan Membersihkan Hati di Tengah Gemerlap Dunia

"Inti dari syiir tersebut, yakni menjaga hati dari kesombongan, mengendalikan hawa nafsu, serta menanamkan kesabaran dalam kehidupan"

Pacitan,JBM.co.id-Tembang religi Syiir Tanpo Waton kembali menjadi perhatian publik sebagai pengingat penting bagi umat manusia untuk menjaga kebersihan hati dan memperkuat keimanan di tengah derasnya arus kehidupan modern. Melalui syair yang sarat makna, pesan moral yang disampaikan dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Menurut Pendakwah yang juga Kepala UPT PJJ Pacitan, Dinas PU dan Binamarga Pemprov Jatim, Budi Harisantoso, dalam kajian yang disampaikan oleh KH Mohammad Nizam As-Shofa, terdapat tiga pesan utama yang menjadi inti dari syiir tersebut, yakni menjaga hati dari kesombongan, mengendalikan hawa nafsu, serta menanamkan kesabaran dalam kehidupan.

Pesan pertama menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat sombong, merasa paling benar, serta gemar merendahkan orang lain. Dalam ajaran Islam, kesombongan bukan hanya perilaku lahir, tetapi juga penyakit hati yang dapat merusak amal.

“Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Luqman ayat 18 yang melarang manusia bersikap angkuh. Bahkan dalam hadits, Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia,” ujar Budi yang juga ahli waris ke-7 dari Adipati Kanjeng Jimat ini, Kamis (19/3/2026).

Pesan kedua mengajak manusia untuk mampu mengendalikan hawa nafsu dan tidak terjebak dalam gemerlap dunia. Cinta dunia yang berlebihan disebut sebagai salah satu penyebab lemahnya iman.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut “wahn” sebagai penyakit umat, yakni cinta dunia dan takut mati. Kondisi ini membuat manusia lalai dari tujuan utama kehidupan, yaitu akhirat, serta rentan terhadap penyakit hati seperti iri, dengki, dan hasad.

Pesan ketiga menegaskan bahwa kekuatan iman akan melahirkan ketenangan hidup. Salah satu tandanya adalah kemampuan untuk bersabar, baik dalam menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, maupun menerima takdir.

Filosofi Jawa yang diangkat dalam syiir ini juga memperkuat pesan tersebut: manusia hanya bisa berencana, namun tidak dapat melawan ketetapan Tuhan. Hal ini sejalan dengan ajaran dalam Al-Qur’an yang menganjurkan umat beriman untuk menjadikan sabar dan salat sebagai penolong dalam menghadapi kehidupan.

Masih menurut Budi, di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh persaingan, nilai-nilai dalam Syiir Tanpo Waton dinilai menjadi refleksi penting bagi masyarakat. Kesombongan, ambisi duniawi, serta kurangnya kesabaran kerap menjadi sumber konflik dan kegelisahan batin.

Melalui pemaknaan yang mendalam, syiir ini tidak hanya menjadi lantunan religi, tetapi juga panduan moral untuk membentuk pribadi yang lebih rendah hati, ikhlas, dan kuat dalam iman.(*****)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button