BeritaDaerahDenpasarKeagamaanPendidikan

Lebaran Haji dan Solidaritas Sosial

Putu Suasta
Alumnus UGM dan Universitas Cornell, aktivis Prajaniti

Jbm.co.id-DENPASAR | Setiap kali Idul Adha tiba, saya selalu teringat pada masa-masa tinggal di kos-kosan semasa kuliah dulu. Lingkungan kos saya mayoritas dihuni oleh teman-teman Muslim, anak-anak rantau yang sederhana, gigih, dan sangat terbuka.

Mereka rajin bangun subuh, salat berjamaah, dan saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Meski saya tidak menjalankan ritual yang sama, saya merasa diterima sepenuhnya.

Dari mereka, saya mengenal hangatnya kebersamaan dan semangat berbagi yang tak banyak bicara, tapi terasa dalam tindakan sehari-hari.

Hubungan saya dengan saudara-saudara Muslim terus berlanjut hingga kini. Dari dunia aktivisme kampus ke dunia politik, dari seminar lintas budaya hingga studi di luar negeri, saya selalu dikelilingi oleh kawan-kawan Muslim yang memperkaya cara pandang saya tentang hidup dan nilai-nilai kemanusiaan.

Mereka datang dari latar berbeda, ada yang santri, ada yang modernis, ada pula yang sangat progresif, tapi semuanya punya satu benang merah: ketulusan.

Itu sebabnya, meski saya bukan bagian dari mereka yang menunaikan salat Ied atau menyembelih hewan kurban, saya merasa punya keterikatan emosional dengan momen Idul Adha.

Foto: Putu Suasta selaku Alumnus UGM dan Universitas Cornell, aktivis Prajaniti.

Ada sesuatu yang menggerakkan hati setiap kali saya menyaksikan saudara-saudara Muslim menyiapkan kurban, membagikan daging, dan menghidupkan semangat solidaritas sosial, apalagi di tengah situasi ekonomi yang sulit, seperti sekarang.

Tahun ini, kita tahu, bukan tahun yang mudah. Harga sembako melambung, pekerjaan makin tak pasti, dan banyak keluarga hidup dalam kondisi serba terbatas. Tapi justru dalam suasana seperti ini saya melihat cahaya dari nilai-nilai Idul Adha: pengorbanan yang nyata, bukan simbolik.

Seorang teman yang bekerja sebagai buruh harian ikut menyumbang untuk kurban, meski hanya sedikit. Seorang tukang bakso langganan saya menyiapkan tenda gratis untuk tempat pemotongan. Tak banyak yang mereka miliki, tapi mereka tak ragu memberi.

Bagi saya, ini bukan semata tentang agama, ini tentang kemanusiaan. Tentang bagaimana orang bersedia menunda kepentingan pribadi demi kebaikan bersama. Tentang bagaimana nilai spiritual bisa menjelma menjadi energi sosial. Kurban, dalam konteks ini, bukan hanya peristiwa ibadah, tapi juga ruang belajar bersama tentang arti memberi dan menahan diri.

Saya percaya, pengalaman lintas iman yang saya alami selama ini justru memperkaya spiritualitas saya sendiri. Saya tak pernah merasa jauh dari saudara-saudara Muslim, karena saya pernah makan dari piring yang sama, tidur di kamar kos bersebelahan, berdiskusi sampai larut, bahkan saling menjaga saat salah satu dari kami sakit atau ditimpa musibah.

Kebersamaan itu tak hilang hanya karena berbeda arah sembahyang. Itulah mengapa saya ingin menyampaikan salam penuh hormat dari sisi lain pagar rumah. Kepada saudara-saudara Muslim di mana pun berada, Selamat Idul Adha. Semoga semangat pengorbanan dan ketulusan yang tumbuh dari perayaan ini menular ke seluruh lapisan masyarakat, menembus batas agama, status sosial, dan latar budaya.

Ditengah dunia yang makin terbagi dan penuh curiga, Idul Adha mengingatkan kita bahwa masih ada ruang untuk saling percaya. Masih ada cara untuk menyentuh hati, bukan hanya kepala dan masih ada harapan, selama kita mau berbagi, sekecil apa pun yang kita miliki.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita manusia bukanlah keyakinan apa yang kita anut, tapi bagaimana kita menjaga agar keyakinan itu tidak membuat kita saling menjauh, melainkan saling menguatkan. (red/tim).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button