
Pacitan,jbm.co.id- Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Semangat inilah yang terus bersemayam di benak hati Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Ahmad Topan, untuk bisa memberikan sebuah literasi sejarah kepada generasi muda agar mereka tahu bagaimana sejarah keberadaan pemimpin di Pacitan di masa silam.
Sebagai manifestasinya, perangkat daerah yang dipimpinnya mencoba mengulik sejarah dengan mendokumentasikan ilustrasi wajah para Adipati Pacitan yang memimpin pada kisaran abad 17-18 Masehi silam.
Selama ini, sambung dia, hanya terpampang wajah-wajah para bupati era Orde Baru, yang nampak berjajar dengan bingkai pigura dan menempel menghiasi dinding Ruang Peta, Pendopo Pemkab Pacitan.
“Bismillahirrahmanirrahim, salam literasi sejarah. Pacitan merupakan kota misteri,” kata Amad Topan, menyampaikan salam di awal kali berjumpa dengan awak media di kantornya, Jum’at (3 Januari 2025).
Menurut pejabat yang karib disapa Gus Mad ini, untuk merealisasikan keinginannya membuat sketsa wajah para Adipati Pacitan pada masa pemerintahan sebelum era Orde Baru silam tersebut, ia sengaja menggandeng pegiat seni rupa yang tergabung di dalam Dewan Kesenian Pacitan.
Dia adalah Kus Hervica, pelukis muda yang pernah membuat sketsa wajah KH Hamid Dimyati dan mendapat pengakuan dari para ahli warisnya di Pondok Pesantren Tremas, Kecamatan Arjosari.
“Lewat keahlian Mas Kus ini, kami mencoba dan berupaya untuk melukis dan mendokumentasikan wajah para Adipati Pacitan di Abad 17 M dan 18 M.
Kegiatan tersebut bertujuan agar nanti ketika sudah jadi dan mendapatkan pengakuan dari para ahli waris, akan bisa di kenang dan menjadi pelajaran serta pembelajaran bagi generasi penerus di Pacitan,” jelasnya.
Sebagai persiapan awal, Gus Mad akan mencoba mensketsa wajah Adipati Raden Tumenggung Setro Ketipo yang memimpin Pacitan pada kisaran Abad 17 M.
“Pelestarian sejarah situs lukisan tersebut merupakan salah satu inovasi dari kami (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan) dalam rangka menyiapkan pameran di HUT Pacitan Tahun 2025 ini.
Kami berharap inovasi tersebut, akan bisa memberikan manfaat bagi semua rakyat. Serta keluarga dan penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bumi langit sak isinipun,” harapnya.
Sementara itu Kus Hervica menambahkan, ini merupakan tugas berat yang harus ia emban untuk bisa mensketsa wajah para Adipati Pacitan di masa silam.
Menurut Kus, perlu adanya masukan dari banyak pihak dan sumber yang sekilas memahami bagaimana kira-kira bentuk wajah dari para pemimpin di Pacitan kala itu. Utamanya para ahli waris, yang mungkin bisa bercerita untuk memulai karya lukisannya.
Mulai bentuk rambut, wajah, pakaian khas yang biasa dikenakan, asesoris di Kepala atau lainnya, dan masih banyak lagi Informasi-inforrmasi yang harus ia gali, untuk bisa memulai mensketsa wajah para Adipati tersebut.
“Berat karena lebih mendasarkan pada halusinasi dan felling yang kuat. Namun ini tantangan yang harus saya laksanakan,” tutur Kus pada awak media.
Tantangan serupa, lanjut Kus, juga pernah ia jalankan saat melukis wajah salah seorang ulama besar yang sempat dibunuh pada era pemberontakan G-30-S-PKI, yaitu KH Hamid Dimyati yang saat ini sempat diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.
“Alhamdulillah ketika saya sodorkan ke ahli waris, mereka puas. Artinya sketsa yang saya buat mirip dengan aslinya,” tutur Kus.(Red/yun).



