Dari Kakao hingga Gula Semut, Desa Karanganyar Pacitan Menata Ketahanan Pangan dan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
"Di luar sektor pertanian, pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi fokus utama"

Pacitan,JBM.co.id- Upaya membangun ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi desa tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Desa Karanganyar, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, menjadi contoh bagaimana pengelolaan potensi lokal yang konsisten mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam koordinasi antara Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan, Prayitno, dengan Kepala Desa Karanganyar, Pipit Handoko. Pertemuan ini menjadi bagian dari penguatan sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam mendorong pembangunan ekonomi berbasis desa.
Di sektor ketahanan pangan, Desa Karanganyar mengembangkan penanaman kakao bekerja sama dengan Dinas Perkebunan. Komoditas ini ditanam di beberapa dusun, yakni Krajan, Salam, Banar, dan Kebon, tepatnya di kawasan Gunung Lenggomanik. “Kakao dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, tanaman ini relatif adaptif terhadap kondisi lahan perbukitan dan mampu menjadi sumber pendapatan jangka panjang bagi petani,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Tidak berhenti di situ, pemerintah desa juga mengembangkan penanaman bawang merah sebagai komoditas hortikultura unggulan. Program ini dikelola oleh tiga kelompok tani, yaitu Kelompok Gotong Royong 5, Gotong Royong 6, dan Gotong Royong 8, dengan total luasan lahan mencapai sekitar 20 hektare. Pengelolaan berbasis kelompok dinilai efektif untuk meningkatkan kapasitas petani, memperkuat kerja sama, serta mempermudah pendampingan teknis dari pemerintah.
Aspek penting lain yang turut diperhatikan adalah dukungan infrastruktur produksi. Melalui skema Padat Karya Tunai Dana Desa Tahun 2024–2025, Pemerintah Desa Karanganyar melaksanakan pembedahan jalan produksi menuju kawasan hutan rakyat dan perkebunan. “Infrastruktur ini terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi usaha tani,” jelasnya.
Akses kendaraan yang kini dapat langsung menjangkau lokasi lahan membuat biaya angkut hasil panen jauh lebih murah. Dampaknya, nilai jual produk pertanian meningkat hingga dua kali lipat. Selain memperkuat daya saing hasil panen, program padat karya ini juga membuka lapangan kerja sementara bagi warga desa, sehingga manfaatnya dirasakan secara langsung dan berlapis.
Di luar sektor pertanian, pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi fokus utama. Desa Karanganyar tercatat memiliki sekitar 150 kepala keluarga yang bergerak di sektor UMKM gula kelapa dan home industry gula semut. Produk gula semut ini telah mengantongi izin PIRT dan sertifikasi halal, sehingga memiliki peluang lebih luas untuk menembus pasar regional hingga nasional.
“Selain itu, UMKM rengginang batik terus menunjukkan perkembangan positif sebagai produk olahan pangan khas desa. Sementara di sektor ekonomi kreatif, kerajinan berbahan batok kelapa, bambu, dan ban bekas juga mulai tumbuh,” bebernya.
Produk-produk tersebut telah masuk dalam kelompok pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dengan dua pelaku aktif, membuka peluang diversifikasi ekonomi desa di luar sektor pertanian.
Koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah desa ini diharapkan mampu memperkuat arah pembangunan Desa Karanganyar secara berkelanjutan. Pendekatan yang menitikberatkan pada penguatan potensi lokal, peningkatan nilai tambah, serta keterpaduan antara sektor pangan, infrastruktur, dan UMKM dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
“Desa Karanganyar menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi bukan sekadar jargon kebijakan, melainkan dapat diwujudkan melalui langkah nyata yang terencana, partisipatif, dan berpihak pada potensi lokal,” tegasnya.(Red/yun).


