Alam sebagai Bala Tentara Ilahi, KH. Mahmud Ajak Umat Membaca Tanda Kekuasaan Allah
"Ketika Allah murka, maka apa yang selama ini menjadi sumber kehidupan bisa berubah menjadi alat peringatan, bahkan kehancuran"

Pacitan,JBM.co.id-Pendakwah kondang asal Pacitan, KH. Mahmud, menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat alam semesta dalam perspektif Islam. Dalam salah satu tausiyahnya, ia menegaskan bahwa angin, air, petir, badai, hingga ombak besar merupakan bagian dari bala tentara Allah SWT yang diciptakan untuk menjalankan kehendak-Nya.
KH. Mahmud menjelaskan bahwa alam pada dasarnya adalah rahmat bagi kehidupan manusia. Air menjadi sumber kehidupan, angin membantu penyerbukan tanaman, menggerakkan perahu nelayan, serta menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, ia mengingatkan bahwa seluruh unsur tersebut berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah SWT.
“Ketika Allah murka, maka apa yang selama ini menjadi sumber kehidupan bisa berubah menjadi alat peringatan, bahkan kehancuran,” ujar KH. Mahmud, Sabtu (24/1/2026).
Dalam ulasannya, ia mengajak umat Islam untuk tidak memandang bencana alam semata-mata sebagai peristiwa fisik atau gejala alamiah. Menurutnya, setiap kejadian besar di alam mengandung pesan ilahiah yang harus direnungi bersama, terutama sebagai bentuk muhasabah dan evaluasi diri.
KH. Mahmud mengaitkan hal tersebut dengan berbagai kisah dalam Al-Qur’an, di mana angin, air, dan badai menjadi sarana Allah SWT dalam menegur umat terdahulu. Ia mencontohkan kaum Nabi Nuh AS yang ditenggelamkan oleh banjir besar, serta kaum ‘Ad yang dibinasakan oleh angin topan dahsyat akibat kedurhakaan mereka.
“Alam tidak pernah salah. Manusialah yang sering lupa batas, lupa bersyukur, dan lupa amanah sebagai khalifah di bumi,” tegasnya.
Lebih lanjut, KH. Mahmud yang juga menjabat sebagai Inspektur, Inspektorat Pacitan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar menjaga lingkungan dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT.
Menurutnya, kerusakan alam yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini tidak lepas dari ulah manusia yang serakah, abai terhadap kelestarian, serta jauh dari nilai-nilai spiritual.
Ia pun mengajak masyarakat untuk memperbanyak doa, istighfar, serta menjaga hubungan baik dengan sesama dan alam sekitar. “Ketika manusia kembali tunduk dan taat, insyaallah alam pun kembali bersahabat,” tuturnya.
Tausiyah tersebut mendapat perhatian luas dari masyarakat, terutama di tengah meningkatnya kesadaran publik akan pentingnya membaca bencana alam tidak hanya dari sisi ilmiah, tetapi juga dari sudut pandang keimanan. Pesan KH. Mahmud diharapkan mampu menjadi pengingat bahwa di balik dahsyatnya kekuatan alam, terdapat kebesaran Allah SWT yang patut direnungi dan dijadikan pelajaran bagi seluruh umat manusia.(Red/yun).




