BadungBaliBeritaDaerah

Ida Bhagawan Rsi Agung Damar Jaya Pemecutan Bangun Pasraman Berkonsep Segitiga Emas: Jejak Leluhur Majapahit di Griya Surya Bandana Cepaka Mas Dalung

Jbm.co.id-BADUNG | Sulinggih Ida Bhagawan Rsi Agung Damar Jaya Pemecutan dari Griya Surya Bandana Cepaka Mas Dalung mengungkap konsep bangunan pesraman yang mengadopsi filosofi Segitiga Emas.

Konsep tersebut tidak terlepas dari jejak leluhurnya yang disebut berasal dari Majapahit.

Ida Bhagawan Rsi Agung Damar Jaya Pemecutan menjelaskan, leluhurnya tiba di Bali sejak 1343. Kini, dirinya mengaku telah memasuki generasi ke-11 dari garis keturunan tersebut. Konsep Segitiga Emas itu diterapkan dalam penataan bangunan di areal pesraman.

Menurutnya, konsep tersebut baru mulai diwujudkan sebagai bagian dari upaya menata kawasan yang memiliki kaitan erat dengan sejarah leluhur.

“Ini baru saja saya berupaya membuat, konsep ini saya gunakan. Konsep bangunan ini adalah Segitiga Emas,” kata Sulinggih Ida Bhagawan Rsi Agung Damar Jaya Pemecutan di kediamannya Griya Surya Bandana Cepaka Mas Dalung, Kabupaten Badung, Minggu (13/9/2026).

Menjemput Leluhur dari Tanah Datar

Upaya menata kembali keberadaan leluhur juga dilakukan Ida Bhagawan Rsi Agung pada 2017. Saat itu, ia menjemput Ida leluhurnya, Ida Nararya Damar, dari Luak Nan Tigo, Tanah Datar, Padang, Sumatra, pada 17 September.

Prosesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan upacara penjemputan leluhur yang disebut berjalan sesuai dengan isi sastra, yakni Yama Tattwa dan Yama Purwa Tattwa.

Setelah rangkaian upacara tersebut dilaksanakan, Ida Nararya Damar kemudian distanakan di areal Puri Gria Suryo Bandano, tepatnya di Pura Keten.

“Setelah berjalan, baru saya bisa mendudukkan/stana-kan Beliau disini di areal puri, ini di Puri Gria Suryo Bandano, Ida Sri Nararya Damar saya stana-kan disini di Pura Keten,” terangnya.

Tiga Konsep dalam Satu Kawasan

Tidak hanya mengusung konsep Segitiga Emas, penataan bangunan di kawasan tersebut juga memadukan unsur tradisi dari sejumlah wilayah.

Pada bagian paling depan, konsep yang digunakan adalah Bale Gadar. Bangunan ini secara umum dapat dipahami sebagai bagian depan kawasan yang menyerupai pos jaga.

“Di depan itu seperti apa yang orang sebut pos jaga, kalau bagi saya konsepnya adalah Bale Gadar,” ujarnya.

Beranjak ke bagian tengah atau jaba tengah, konsep yang digunakan adalah Jawa Dwipa dengan Bale Joglo sebagai simbolnya.

Sementara itu, memasuki bagian dalam atau jeroan, konsep Bali mulai diterapkan. Namun, penataan dan pelaksanaannya menggunakan gaya Badung atau Bebadungan.

Dengan perpaduan tersebut, kawasan pesraman tidak hanya menjadi ruang pelaksanaan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga jejak sejarah dan identitas leluhur.

“​Nah, demikian yang dapat saya sampaikan kepada para kerabat, siapa saja yang nanti akan berbicara. Mohon maklum, mohon maaf sebesar-besarnya, demikian yang dapat saya,sampaikan mengenai jalannya acara,” tutupnya.

Reporter: Ace Wiguna

Redaktur: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button