
Jbm.co.id-BANGLI | Karya besar keagamaan Hindu Bali akan digelar di Pura Parahyangan Palinggih Ida Bethara Sakti Penataran Ageng Taman Bebalang, Bangli.
Rangkaian karya tersebut meliputi Ngenteg Linggih, Nubung Pedagingan, Tawur Balik Sumpah, Mekebat Daun, Ngebekin Mangun Ayu, Mepedudusan Agung dan Menawa Ratna.

Puncak karya dijadwalkan berlangsung pada Sukra Umanis Menail, Tilem Ketiga, Jumat, 11 September 2026.
Pelaksanaan karya ini menjadi bagian penting bagi semetonan Genog Penataran Ageng Taman Bebalang dalam menjaga serta melestarikan nilai-nilai keagamaan dan tradisi Hindu Bali.
Rangkaian upacara telah dimulai pada Wraspati Umanis Matal, Purnama Ketiga, Kamis, 27 Agustus 2026.
Tahapan awal ditandai dengan Ngunggahang Sunari yang dipuput atau dipimpin oleh pendeta Siwa, Ida Pedanda Sekaton dari Gerya Peling, Bitra, Gianyar.
Prosesi tersebut berlangsung khidmat. Suara merdu yang dihasilkan dari Sunari menjadi penanda dimulainya rangkaian karya agung sekaligus memiliki makna spiritual bagi umat Hindu.
Sunari dipercaya menjadi sarana untuk menyampaikan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, keberadaan Sunari juga dimaknai sebagai simbol untuk mengundang para leluhur, widyadara-widyadari, serta Dewa Wisnu dan Dewi Sri agar turun dari Kahyangan memberikan kesuburan, keselamatan dan kedamaian bagi umat.
Selaku Yajamana Karya, Ida Ratu Shri Begawan Putra Natha Bangli Anom Pemayun, pemilik krematorium di Kedhatuan Agung Alang Sanja, Bebalang, Bangli.
Menurut panitia karya, pelaksanaan Ngunggahang Sunari memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu Bali. Sunari didirikan sebagai simbol untuk mengundang kehadiran Dewa Wisnu beserta sakti-Nya, yaitu Dewi Sri, serta para dewa dan widyadara-widyadari agar turun kabeh memberikan kesejahteraan, kesuburan, dan keselamatan bagi seluruh alam semesta maupun masyarakat yang melaksanakan upacara tersebut.
“Suara merdu yang dihasilkan sunari saat ditiup angin dipercaya menjadi sarana memanggil para leluhur, dewa, dan widyadara- widyadari untuk turut menyaksikan jalannya upacara. Keberadaan dan bunyi sunari sekaligus menjadi tanda bahwa sedang dilaksanakan sebuah yadnya atau upacara keagamaan Hindu yang besar dan utama di lokasi tersebut,” kata Sang Ketut Rencana.
Secara etimologi, kata Sunari berasal dari kata sunar yang berarti sinar. Sunari juga dimaknai dari gabungan kata su yang berarti baik atau taksu dan nari yang bermakna widyadara-widyadari.
Makna tersebut melambangkan keikhlasan dan ketulusan hati penyelenggara karya.
Sementara itu, tujuh lubang pada bambu Sunari menurut Sang Ketut Rencana menyimbolkan tujuh unsur kesucian alam semesta, keseimbangan swastika, serta bumi yang menjadi tempat hidup seluruh makhluk.
Ngunggahang Sunari juga menjadi bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai luhur tradisi Hindu Bali yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui rangkaian karya tersebut, masyarakat berharap tercipta kedamaian, kemakmuran dan keselamatan bersama.
Dengan puncak karya yang akan berlangsung pada 11 September 2026, seluruh rangkaian ritual di Pura Parahyangan Palinggih Ida Bethara Sakti Penataran Ageng Taman Bebalang diharapkan berjalan lancar dan memberikan manfaat secara spiritual bagi umat serta lingkungan sekitarnya. (S Kt Rcn).




