Kemarau Picu Ledakan Gas Metan di TPA Mandung Tabanan Bikin Petugas Perkuat Pengurugan

Jbm.co.id-TABANAN | Kemarau panjang meningkatkan risiko munculnya titik panas di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mandung, Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali.
Kondisi tersebut memicu ledakan pada bagian atas timbunan sampah di sisi selatan TPA. Ledakan kemudian disertai munculnya api dan kepulan asap putih.

Kepala UPTD TPA Mandung, I Wayan Atmaja, mengatakan ledakan terjadi akibat panas dari gas metan yang terperangkap di bawah timbunan sampah.
Menurutnya, timbunan sampah yang telah mengeras membuat panas dan gas di dalamnya perlu mendapat perhatian lebih, terutama saat cuaca kering.
“Dampak dari kemarau panjang, gas metan di bawah tumpukan sampah mengalami panas. Kemudian terjadi ledakan di atas tumpukan dan muncul api serta kepulan asap,” kata Atmaja di Kabupaten Tabanan, Kamis, 27 Agustus 2026.
Petugas Intensifkan Penyiraman dan Pengurugan
Kepulan asap terlihat menyebar di sekitar bagian selatan TPA Mandung. Untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran lebih luas, petugas melakukan penanganan dengan menutup timbunan menggunakan tanah urug.
Frekuensi penyiraman juga ditingkatkan. Jika sebelumnya penyiraman dilakukan setiap dua minggu selama musim kemarau, kini dilakukan dua kali dalam sepekan.
“Kalau sebelumnya penyemprotan air dilakukan dua minggu sekali saat kemarau, dengan kondisi sekarang akan kami tingkatkan menjadi dua kali dalam satu minggu. Pengurugan dan penyiraman dilakukan untuk mencegah panas serta asap tidak semakin melebar,” terangnya.
Selain penyiraman, ketersediaan tanah urug disiapkan secara rutin. UPTD TPA Mandung menyiagakan sekitar lima truk tanah setiap lima hari hingga satu minggu untuk menutup bagian timbunan yang membutuhkan penanganan.
Pengurugan menjadi salah satu metode yang diperkuat untuk mengendalikan kondisi timbunan sampah.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan sebelumnya juga mempercepat penerapan sistem controlled landfill atau penataan dan penutupan timbunan sampah secara lebih terkendali.
Pada Agustus 2026, progres penerapan metode tersebut dilaporkan mencapai sekitar 70 persen.
Penutupan menggunakan tanah diharapkan dapat mengurangi paparan udara terhadap timbunan sehingga menekan risiko munculnya api.
Pengawasan TPA Mandung Diperketat Malam Hari
Pengawasan atas kondisi timbunan juga diperketat untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Petugas jaga disiagakan, terutama pada malam hari.
Petugas memantau kondisi timbunan untuk memastikan tidak terjadi perluasan api maupun kepulan asap.
Atmaja mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan petugas pemadam kebakaran jika api meluas dan tidak dapat ditangani melalui langkah awal.
“Petugas jaga malam tetap kami siagakan untuk mengecek keberadaan api dan asap. Kalau terjadi perluasan, kami akan kerahkan bantuan pemadam kebakaran,” ujarnya.
Kemunculan panas dan asap di TPA Mandung bukan persoalan baru. Sepanjang 2026, asap masih dilaporkan muncul di sejumlah titik timbunan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan sisa dampak kebakaran sebelumnya, gas metan dari timbunan sampah serta kondisi kemarau.
Pemerintah daerah kemudian melakukan penyiraman dan penutupan timbunan menggunakan tanah sebagai langkah pencegahan.
TPA Mandung Hanya Terima Sampah Residu
Disisi lain, Pemerintah Kabupaten Tabanan juga berupaya mengurangi beban TPA Mandung dari sumbernya.
Sejak 1 Mei 2026, TPA Mandung hanya menerima sampah residu sesuai kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Masyarakat juga didorong mengolah sampah organik dan anorganik sejak dari tingkat rumah tangga.
Dengan kondisi kemarau yang meningkatkan risiko panas dan gas metan, pengendalian di TPA Mandung dilakukan melalui kombinasi pengurugan, penyiraman serta pengawasan.
“Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah titik panas berkembang menjadi kebakaran terbuka sekaligus mengendalikan kepulan asap yang berpotensi mengganggu lingkungan sekitar,” tutupnya. (kyn/red).




