BaliBeritaDaerahLingkungan HidupPendidikanTabanan

Nuanu dan Bali Tourism Board Dukung Reforestasi Batukaru Pantau 100 Pohon Selama Setahun

Jbm.co.id-TABANAN |  Upaya memulihkan kawasan hutan Batukaru, Tabanan, mendapat dukungan dari sektor pariwisata dan swasta. Nuanu Social Fund bersama Bali Tourism Board mendukung program reforestasi yang dipimpin Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali.

Sebanyak 100 pohon ditanam di kawasan seluas 1.000 meter persegi di sekitar Pura Luhur Batukaru. Penanaman ini menjadi langkah awal kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menjaga kawasan hutan sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya air di Bali.

Dari total 100 pohon yang ditanam, terdiri dari 30 pohon beringin, 50 pohon mahoni, dan 20 pohon cempaka atau Magnolia champaca. Penanaman dijadwalkan berlangsung hingga 2 September 2026.

Nuanu Social Fund tidak hanya menyediakan bibit dan mendukung proses penanaman. Program tersebut juga mencakup pemeliharaan serta pemantauan tingkat keberhasilan hidup pohon selama 12 bulan.

Pemeliharaan meliputi penyiraman, penggantian bibit yang tidak bertahan hidup, serta perlindungan area tanam. Hasil pemantauan akan menjadi bagian penting untuk melihat efektivitas program reforestasi.

Data mengenai tingkat keberhasilan hidup, pertumbuhan, dan pemeliharaan pohon akan dipublikasikan setelah periode pemantauan berakhir pada September 2027.

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Ketut Subandi, S.Hut., M.Si., mengatakan reforestasi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pohon yang ditanam.

“Reforestasi tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik. Karena itu, arah, target, dan jangka waktu pemulihan harus ditentukan berdasarkan kondisi ekologis masing-masing kawasan, sehingga upaya yang dilakukan benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat,” kata I Ketut Subandi, S.Hut., M.Si., Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali

Batukaru Jadi Kawasan Prioritas Reforestasi

Dinas Kehutanan Provinsi Bali menetapkan Batukaru sebagai salah satu kawasan prioritas reforestasi. Kawasan ini memiliki fungsi ekologis penting bagi wilayah di bagian hilir.

Lereng Gunung Batukaru merupakan bagian dari kawasan tangkapan air yang menopang 20 sistem irigasi subak di kawasan Catur Angga Batukaru. Kawasan tersebut juga berkaitan dengan tujuh desa, yakni Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, Sangketan, dan Wongaya Gede.

Berkurangnya tutupan vegetasi di kawasan dataran tinggi dapat menurunkan kemampuan tanah dalam menyimpan air. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko erosi dan berpotensi berdampak pada kawasan pertanian berundak di wilayah bawah.

Jenis pohon yang ditanam dipilih bersama Dinas Kehutanan Provinsi Bali dan tenaga teknis setempat. Pemilihan mempertimbangkan kondisi hutan dan tanah di Batukaru.

Pohon beringin juga memiliki nilai khusus dalam konteks kawasan pura di Bali. Karena itu, program reforestasi diharapkan tidak hanya memulihkan fungsi ekologis, tetapi juga tetap terhubung dengan lanskap budaya di sekitar Pura Luhur Batukaru.

Masyarakat Dilibatkan dalam Pemeliharaan

Pelaksanaan reforestasi dikoordinasikan bersama Jero Bendesa Adat, pengempon dan pengurus Pura Luhur Batukaru, serta pemerintah desa setempat.

Masyarakat sekitar juga akan dilibatkan dalam pemeliharaan dan pemantauan. Selain itu, masyarakat berperan dalam penyediaan tenaga kerja serta pengambilan keputusan selama program berjalan.

Head of Nuanu Social Fund, Auditya Sari, menegaskan bahwa tahap setelah penanaman menjadi bagian penting dalam keberhasilan reforestasi.

“Reforestasi tidak selesai ketika pohon selesai ditanam. Justru sebagian besar kebutuhan pemeliharaan dan risikonya berada pada saat setelah penanaman,” kata Auditya Sari, Head of Nuanu Social Fund.

“Karena itu, kami mendanai proses selama satu tahun dan akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah 12 bulan, apapun hasilnya. Peran kami adalah mendukung agenda reforestasi yang dipimpin oleh Dinas Kehutanan Provinsi Bali, sekaligus menghormati pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang telah menjaga lanskap ini jauh sebelum kami hadir di sini,” tambahnya.

Pariwisata Punya Kepentingan atas Sumber Air

Bali Tourism Board ikut mendukung program tersebut sebagai mitra asosiasi industri pariwisata. Kolaborasi ini menjadi penghubung antara sektor pariwisata dan upaya perlindungan kawasan tangkapan air.

Chairman of the Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menilai keberlangsungan kawasan tangkapan air berkaitan langsung dengan keberlanjutan industri pariwisata Bali.

“Setiap hotel, restoran, dan vila di pulau ini menggunakan air yang pada awalnya berasal dari curah hujan yang ditampung oleh kawasan lereng seperti Batukaru,” kata Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Chairman of the Bali Tourism Board.

“Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi. Ini bukan sekadar kegiatan amal dari sektor pariwisata ini merupakan bagian dari menjaga sumber daya yang menopang keberlangsungan usaha kita,” paparnya.

Bali Tourism Board juga akan menjajaki peluang kolaborasi dengan mitra industri lainnya. Langkah ini diharapkan dapat memperluas keterlibatan sektor swasta dalam program reforestasi di Bali.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, sektor pariwisata, dan swasta di Batukaru diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan di kawasan lain. Program akan tetap mengacu pada kebutuhan ekologis masing-masing wilayah.

Pemantauan terhadap 100 pohon yang ditanam akan berlangsung selama 12 bulan. Hasil pemantauan tersebut dijadwalkan dipublikasikan pada September 2027. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button