Hadiah Doktor: Pengelana Global Putu Suasta Serahkan Buku Buat Ketut Ngastawa Singgung Beragam Problematika Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Pengelana Global yang juga Alumni UGM dan Cornell University, Putu Suasta, menyerahkan buku berjudul “Kedaulatan Sebuah Negara di Era Digital, Ketika Hukum Kehilangan Makna Tanpa Teknologi” kepada Advokat Dr. Drs. I Ketut Ngastawa, S.H., M.H., di Denpasar, Jumat, 31 Juli 2026.
Buku tersebut diberikan sebagai hadiah kepada sahabatnya yang baru saja meraih gelar Doktor dari Program Studi Hukum Program Doktor Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar.

Ketut Ngastawa sebelumnya berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Fungsi Dewan Perwakilan Daerah Sebagai Lembaga Soft Bicameral dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia”.
Putu Suasta mengatakan buku tersebut ditulis oleh Prof. Dr. Drs. I Gusti Agung Ngurah Agung, S.H., M.H. dan Drs. I Putu Suasta, M.A.
Buku tersebut juga mendapat kata pengantar dari Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Singapura, Letjen TNI (Purn) Hotmangaradja Pandjaitan.
Selain itu, buku tersebut turut memuat kontribusi Gubernur Bali dua periode 2008-2018, Komjen. Pol. (Purn.) Dr. Dr. Made Mangku Pastika, M.M., yang juga pernah menjadi Anggota DPD RI Dapil Bali periode 2019-2024.
Menurutnya, Ketut Ngastawa merupakan sosok aktivis sosial yang tekun, gigih, dan loyal terhadap perjuangan yang dijalaninya.
Putu Suasta mengenang perjalanan panjang persahabatannya dengan Ketut Ngastawa yang telah berlangsung lebih dari empat dekade.
Putu Suasta menyebut Ketut Ngastawa sebagai sosok yang hangat, ramah, cerdas, dan menyenangkan.
Semasa kuliah di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Ketut Ngastawa disebut menjadi salah satu mahasiswa yang dekat dengan dosennya, Drs. Made Sukada, S.U., yang dikenal sebagai “HB. Jassin Bali”.
Ketut Ngastawa juga disebut pernah menjadi “Pengabih” Prof. Dr. IGN. Bagus di luar kampus ketika pembentukan Baliologi pada 1985, lembaga pengkajian budaya yang berada di bawah Menteri P & K Nugroho Notosusanto.
Pada periode yang hampir bersamaan, Ketut Ngastawa juga menjadi Sekretaris Prof. Dr. Mr. Sutan Takdir Alisjahbana dalam program “Art and the Future” di Toyabungkah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Hubungan tersebut terus berlanjut hingga saat ini.
Ketut Ngastawa disebut tetap setia mendampingi Made Mangku Pastika, baik ketika menjabat sebagai Gubernur Bali 2008-2018 maupun sebagai anggota DPD RI periode 2019-2024.
Meskipun Mangku Pastika tidak lagi menjabat, Ketut Ngastawa tetap memberikan pendampingan.
Untuk itu, Putu Suasta menilai loyalitas tersebut menjadi salah satu karakter kuat sahabatnya.
“Saya sebagai temannya di jalanan selama lebih dari 40 tahun. Kesetiaan dan loyalitas tanpa batas. Bisanyanya orang dekat ketika masih menjabat. Ditengah kesibukannya mengurus masalah-masalah Bali, atau menggerakkan berbagai organisasi sebagai bentuk kepedulian terhadap Bali, dia dapat menyelesaikan disertasinya. Saya ikut merasa bangga pada Bli Ketut,” ungkapnya.
Soroti Persoalan Bali
Pada kesempatan tersebut, Putu Suasta juga menyampaikan refleksi menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.
Putu Suasta turut menyinggung Hari Jadi ke-68 Pemerintah Provinsi Bali pada 14 Agustus 2026 yang mengusung tema “Suci Lascarya, Nusa Wijaya”.
Momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan Putu Suasta untuk menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi Bali. Beberapa diantaranya adalah masalah sampah, kemiskinan, krisis air, alih fungsi lahan, kemacetan, harga tanah yang semakin tinggi, penerangan jalan yang padam, kasus bunuh diri, hingga aktivitas galian C ilegal.
Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk Wakil Rakyat Bali di DPD RI dan DPR RI Dapil Bali.
Putu Suasta berharap para Wakil Rakyat dapat bersatu memperjuangkan kepentingan Bali bersama Kepala Daerah hingga Pemerintah Pusat.
Putu Suasta juga menyoroti semakin mahalnya harga tanah di Bali, terutama lahan sawah dan jalur hijau yang berada dekat kawasan pariwisata.
Menurutnya, diperlukan kebijakan yang dapat memberikan keringanan sekaligus melindungi lahan pertanian dari tekanan perubahan fungsi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah alih fungsi lahan dan menjaga keberlangsungan subak.
Putu Suasta mengingatkan Pemerintah Daerah agar tidak mengabaikan petani dan lahan produktif.
Persoalan tersebut, kata Putu Suasta, berkaitan pula dengan berbagai dinamika yang pernah terjadi di kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) Subak Jatiluwih.
Penerangan Jalan dan Kemacetan
Selain persoalan lahan, Putu Suasta mempertanyakan lambannya penanganan penerangan jalan raya, khususnya di sejumlah ruas jalan vital.
Putu Suasta juga menyoroti penggunaan badan jalan untuk kegiatan usaha yang dinilai membuat ruang lalu lintas semakin sempit dan kondisi jalan menjadi semrawut.
Kondisi tersebut disebut dapat memengaruhi wajah perkotaan sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan.
Salah satu kawasan yang kembali menjadi sorotan adalah sekitar Mall Living World Denpasar. Kemacetan yang kerap terjadi, ditambah penerangan jalan yang mati serta pembatas jalan yang kurang terlihat, dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Ngastawa Apresiasi Konsistensi Suasta
Sementara itu, Ketut Ngastawa memberikan apresiasi atas konsistensi Putu Suasta dalam menyuarakan berbagai persoalan Bali.
Keduanya telah berdiskusi dan menyuarakan berbagai isu mengenai Bali selama lebih dari 40 tahun.
“Bli Putu Suasta, seorang intelektual kritis, bernyali dan penuh integritas. Pendapat-pendapat yang disampaikan sangat tajam, bernas dan solutif. Tidak hanya sekasar bicara. Benar-benar memberi jalan keluar yang konstruktif, demokratis dan reflektif berdimensi jauh ke depan. Mencari tokoh aktivis yang konsisten dan konsekuen dalam limit waktu yang panjang tidaklah mudan. Biasanya orang yang mengaku tokoh atau ditokohkan rontok di tengah jalan karena nikung di jalan lurus,” kata Ketut Ngastawa.
Menurut Ketut Ngastawa, sikap Putu Suasta tidak banyak berubah. Ia tetap berani dan kritis dalam menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan Bali.
Dengan pengalaman, pengetahuan, serta jaringan pergaulan yang luas, Putu Suasta dinilai memiliki kapasitas untuk memberikan gagasan yang dapat menginspirasi pengambil kebijakan maupun generasi muda dalam melihat masa depan Bali. (ace).



