
Jbm.co.id-BADUNG | KSP Ngardi Rahayu Bali mencatat lonjakan aset signifikan dalam lima tahun terakhir. Dari semula hanya Rp17 miliar pada 2021, kini aset koperasi tersebut menembus Rp107 miliar.
Tidak hanya itu, tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) juga berhasil ditekan drastis dari 43 persen menjadi hanya 0,1 persen.
Pencapaian itu diungkapkan General Manager KSP Ngardi Rahayu Bali, I Putu Candra Satryastina, SPd.H., M.Pd., saat diwawancarai awak media, usai Upacara Mlaspas dan Grand Opening Kantor Kas Cabang Kutuh KSP Ngardi Rahayu Bali di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Minggu, 14 Juni 2026.
Pada kesempatan tersebut, hadir pula Ketua KSP Ngardi Rahayu Bali I Made Suana dan Direktur Utama PT Sangayu I Made Warmana.
“Kita berhayal sampai berada di titik ini, Astungkara bisa terwujud sekarang,” kata Candra Satryastina.
Candra menjelaskan, keberhasilan menekan NPL dilakukan melalui pendekatan emosional dan edukatif kepada para nasabah.
Menurutnya, kredit bermasalah saat itu dibedah menjadi tiga kategori utama, yakni nasabah yang tidak mampu bayar, tidak mau bayar, dan lupa bayar.
“Karena waktu itu lebih banyak berbasis banjar, ada perarem untuk warga bisa minjam dana,” kata Candra Satryastina.
Untuk kategori nasabah yang tidak mampu membayar, pengurus koperasi melakukan pendekatan langsung secara personal. Bahkan, pihak koperasi memanggil sekitar 10 orang setiap hari untuk berdialog mencari solusi pembayaran.
“Yang tidak mampu bayar, kita tanya gimana ini? Jadi, kita panggil per hari itu, kalau tidak salah 10 orang. Jadi, pak Ketua handle 5 orang dan saya 5 orang. Karena kebetulan di masa itu, kami berdua yang memang hadir setiap hari,” terangnya.
Menurutnya, yang terpenting adalah adanya pengakuan tanggung jawab atas utang terlebih dahulu, meski pembayaran dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan.
“Bisa tidak bayar pokok sama bunga, mereka jawab bisa. Ya, sudah bayar bunga aja. Misalnya, bunga 500 ribu rupiah. Pak, saya tidak mampu, makan saja kita susah. Jadi, berapa punya. Kita minta. Kalau 100 ribu rupiah kita punya. Oke kita terima saja,” urainya.
Sementara itu, untuk kategori nasabah yang tidak mau membayar, koperasi kembali melakukan pendekatan persuasif dengan memahami kondisi dan prioritas ekonomi masing-masing anggota.
“Itu mungkin apakah bayar peturunan atau bayar pendidikan anak atau seperti apa. Nah, kita lakukan pendekatan sama seperti pendekatan di awal,” kata Candra Satryastina.
Sedangkan untuk nasabah yang lupa membayar cicilan, KSP Ngardi Rahayu Bali menerapkan sistem pengingat digital berbasis WhatsApp.
“Jadi, kita buatkan sebuah teknologi dengan notifikasi WA. Kita ingatkan melalui notifikasi WA setiap bulan,” tegasnya.
Candra Satryastina juga mengungkapkan pihaknya memiliki strategi khusus yang disebut “tiga tanggal sakti” untuk mengingatkan nasabah membayar kredit sesuai pola gajian masyarakat Bali yang mayoritas bekerja di sektor pariwisata.
Tanggal 15 digunakan sebagai pengingat pertengahan bulan agar nasabah tidak menghabiskan uang sebelum gajian. Kemudian tanggal 23 sebagai pengingat menjelang gajian, dan tanggal 28 untuk memastikan cicilan segera dibayarkan setelah menerima gaji.
Strategi tersebut terbukti efektif. Dalam satu tahun pertama saja, NPL berhasil turun dari 43 persen menjadi 19 persen.
Tak hanya itu, pada 2021 koperasi juga mencatatkan Sisa Hasil Usaha (SHU) terbesar sepanjang sejarah berdiri dengan capaian lebih dari Rp600 juta. Sebelumnya, pada 2019, SHU koperasi hanya berada di angka Rp500 juta.
Menariknya, pencapaian tersebut diraih tanpa penggunaan debt collector ataupun tindakan kekerasan dalam penagihan kredit.
“Kita tidak menggunakan kekerasan, bahkan di angka NPL 0,1 persen tersebut kami satu orang pun tidak memiliki dept collector, kita tidak punya juru tagih sampai sekarang. Yang kami lakukan adalah pendekatan secara emosional dan edukasi bahwa ini adalah tanggung jawabmu, mari kita selesaikan. Itu kiat-kiat kami turunkan NPL,” tutupnya.
Acara Grand Opening Kantor Kas Cabang Kutuh KSP Ngardi Rahayu Bali itu turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan UKM Kabupaten Badung yang diwakili Ni Luh Komang Sri Artini, Ketua Dekopinda Kabupaten Badung I Made Sutarma, SH., MH., Perbekel Desa Adat Kutuh I Wayan Mudana, ST., Kelian Dinas Banjar Petangan Ketut Sutama, serta jajaran pengurus dan tokoh masyarakat lainnya. (ace).




