Guru Besar Unud Prof. Luh Kartini: Muliakan Air Berarti Jaga Kehidupan dan Kesucian Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Air bagi masyarakat Bali bukan hanya sekadar kebutuhan hidup, tetapi memiliki makna spiritual dan filosofi mendalam yang menjadi bagian dari keseimbangan alam dan kehidupan.
Filosofi ini kini sejalan dengan semangat program “Bali Bersih” dan “Gerak Resik Bali” dalam menjaga kesucian Pulau Dewata.
Guru Besar Universitas Udayana sekaligus pakar lingkungan, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., menjelaskan bahwa air atau toya dalam budaya Bali dipandang sebagai sumber kehidupan dalam dimensi sekala dan niskala.
“Bagi orang Bali, air bukan sekadar H₂O. Air atau toya, yeh adalah nyawa dalam dua dimensi. Sekala yang nyata dan niskala yang spiritual. Memuliakan air berarti menjaga kehidupan, kesucian, dan keseimbangan Pulau Dewata,” ujarnya.
Prof. Luh Kartini menyebut filosofi air dalam budaya Bali memiliki empat dimensi utama yang menjadi dasar menjaga lingkungan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Dimensi pertama adalah air sebagai sumber kehidupan sekala. Dalam kehidupan masyarakat Bali, air memiliki peran penting bagi pertanian, sistem subak, hingga keberlangsungan budaya sehari-hari.
“Di Bali, tanpa air tidak ada sawah, tidak ada subak, tidak ada beras, tidak ada canang. Leluhur sadar: yang mengatur air, mengatur kehidupan,” jelasnya.
Karena pentingnya fungsi air, sistem subak di Bali bahkan telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia.
Menurutnya, menjaga air berarti menjaga kawasan hulu dan hutan agar sumber mata air tetap bersih dan mengalir merata bagi masyarakat.
Selain itu, air juga memiliki dimensi spiritual sebagai media penyucian niskala. Air suci atau tirta digunakan hampir dalam seluruh rangkaian upacara keagamaan Hindu di Bali.
“Toya dipakai di hampir semua upacara, Tirta dari pura merupakan bagian dari air suci. Termasuk Melukat adalah bagian pembersihan diri dengan air,” terangnya.
Prof. Luh Kartini menambahkan, air dipercaya mampu melebur leteh atau kotoran batin.
Oleh karena itu, mencemari sungai dan laut dianggap sama dengan mengotori jalan menuju Tuhan.
Dimensi ketiga adalah air sebagai manifestasi Tuhan. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, air diyakini sebagai perwujudan Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta.
“Danau Batur, Danau Beratan, mata air suci dianggap stana atau tempat beristana-Nya,” ungkapnya.
Sementara dimensi keempat adalah air sebagai simbol keseimbangan dalam filosofi Tri Hita Karana. Air yang terjaga diyakini membawa harmoni, sedangkan air yang tercemar dapat memicu bencana alam.
“Banjir, kekeringan, abrasi dibaca sebagai ‘air yang murka’ karena tidak dimuliakan,” tegasnya.
Prof. Luh Kartini juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kebersihan sungai dan laut dengan tidak membuang sampah maupun limbah, termasuk canang berbahan plastik. Selain itu, tata kelola air juga harus dijaga agar pembagian air subak tetap adil dan tidak terganggu pembangunan.
Prof. Luh Kartini turut menekankan pentingnya menjaga kesucian kawasan sumber air seperti Pura Beji, campuhan, dan segara dari perilaku yang merusak lingkungan.
“Orang tua Bali bilang: ‘Yeh ento nyama, sing dadi kotele’ Air itu saudara, jangan dikotori. Kalau air bening, pikiran juga bening. Kalau air keruh, hidup ikut keruh,” tutupnya.
Filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga air bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menjaga spiritualitas, budaya, dan keseimbangan hidup masyarakat Bali. (ace).




