Lonjakan Kasus Gagal Ginjal di Pacitan, RSUD dr Darsono Perluas Layanan Hemodialisis
"Kasus penyakit kelainan ginjal yang berujung pada tindakan cuci darah atau hemodialisis (HD) dilaporkan terus mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir"

Pacitan,JBM.co.id- Pacitan kembali menghadapi tantangan serius di sektor kesehatan. Kasus penyakit kelainan ginjal yang berujung pada tindakan cuci darah atau hemodialisis (HD) dilaporkan terus mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian khusus tenaga medis sekaligus peringatan bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan tubuh.
Direktur RSUD dr Darsono Pacitan, dr. Johan Tri Putranto, mengungkapkan bahwa pihak rumah sakit saat ini telah menyediakan 22 unit alat hemodialisis. Dengan kapasitas tersebut, layanan yang tersedia mampu menangani hingga sekitar 160 pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang membutuhkan terapi cuci darah secara rutin.
Meski begitu, untuk saat ini pihak rumah sakit masih memberlakukan sistem shift dalam pelayanan cuci darah. Maksimal dalam sehari bisa melayani 49 pasien.
Untuk lebih mempercepat pelayanan, sambung Johan, RSUD akan kembali menambah 5 alat dan perawat khusus dalam waktu dekat. “Alat yang ada ini akan kita maksimalkan lagi dengan penambahan shift pelayanan. Saat ini tengah kita kaji,” ujar dr. Johan, Senin (4/5/2026).
Secara medis, kelainan ginjal yang paling sering berujung pada hemodialisis adalah gagal ginjal kronis, yakni kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap hingga tidak lagi mampu menyaring limbah dan cairan berlebih dari dalam darah. Akibatnya, zat beracun akan menumpuk dalam tubuh dan dapat membahayakan organ lain.
Prosedur hemodialisis sendiri merupakan terapi pengganti fungsi ginjal, di mana darah pasien dialirkan melalui mesin khusus untuk dibersihkan, sebelum dikembalikan ke dalam tubuh. Terapi ini umumnya harus dilakukan secara berkala, bahkan bisa seumur hidup jika tidak dilakukan transplantasi ginjal.
Peningkatan kasus ini tidak lepas dari berbagai faktor risiko, seperti pola makan tinggi garam dan gula, kebiasaan mengonsumsi makanan instan, kurangnya aktivitas fisik, hingga penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol.
dr. Johan menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini. Masyarakat diimbau untuk menjaga pola makan seimbang, memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi makanan olahan, serta rutin memeriksakan kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis.
“Pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Menjaga gaya hidup sehat adalah kunci utama untuk melindungi fungsi ginjal,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan fasilitas kesehatan yang memadai, diharapkan angka kasus gagal ginjal di Pacitan dapat ditekan, sehingga kualitas hidup masyarakat tetap terjaga.(Red/yun).




