BeritaDaerahGaya HidupKeagamaanPariwisataSosialwisata

Cahaya di Pancer Door: Mushola Sederhana yang Menyulam Harapan Spiritual

"Bangunan kecil yang berdiri dengan nuansa asri itu bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol kebangkitan nilai-nilai spiritual"

Pacitan,JBM.co.id-Di tengah bayang-bayang isu sosial yang sempat mencoreng citra kawasan wisata Pantai Pancer Door, secercah harapan kini perlahan tumbuh dari arah Barat. Bukan dalam bentuk gemerlap pembangunan besar, melainkan melalui hadirnya sebuah mushola sederhana yang memancarkan keteduhan dan makna mendalam.

Bangunan kecil yang berdiri dengan nuansa asri itu bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol kebangkitan nilai-nilai spiritual di tengah dinamika kehidupan wisata. Mushola tersebut terwujud dari kepedulian sejumlah pengusaha yang tergerak hatinya untuk menghadirkan ruang dzikir di antara riuhnya aktivitas manusia.

Bibit, salah satu petugas keamanan setempat, menyampaikan bahwa kehadiran mushola ini diharapkan menjadi pengingat bagi setiap Muslim yang berkunjung agar tidak melupakan kewajiban utamanya kepada Allah SWT.

“Sabtu kemarin, beberapa pedagang dan rekan media sempat melaksanakan sholat Isya berjamaah di sini, dengan imam Bapak Hadi Suwarno,” ujarnya saat ditemui pada Ahad (26/4/2026).

Lebih dari sekadar fasilitas, mushola ini menjadi titik temu antara dunia dan akhirat, tempat di mana langkah kaki yang mungkin sempat menjauh, perlahan kembali mendekat kepada Sang Pencipta.

Hadi Suwarno, pengusaha sekaligus salah satu dari donatur pembangunan mushola, menuturkan dengan penuh harap bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang dan bukan permusuhan. Ia percaya, keberadaan mushola ini dapat menjadi wasilah perubahan, meski dimulai dari langkah kecil.

“Sebagaimana ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Islam tidak mengajarkan kebencian. Kami berharap mushola ini bisa menjadi pengingat, menjadi tempat kembali bagi hati yang mungkin sempat lalai,” ungkapnya.

Ia juga menaruh harapan besar agar kebiasaan-kebiasaan negatif yang sempat melekat di kawasan tersebut perlahan memudar, digantikan dengan kesadaran spiritual yang lebih kuat.

“Semoga yang masih terbiasa dengan hal-hal yang kurang baik seperti mabuk-mabukan, sedikit demi sedikit bisa meninggalkannya dan kembali ke jalan-Nya,” tambahnya penuh harap.

Kini, di antara debur ombak Pancer Door dan hembusan angin pesisir, mushola kecil itu berdiri sebagai saksi, bahwa hidayah bisa hadir di mana saja. Ia mungkin sederhana secara rupa, namun menyimpan kekuatan besar dalam menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang rindu akan cahaya Ilahi.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button