BaliBeritaDaerahDenpasarEkonomiPemerintahan

OJK Sebut Industri Jasa Keuangan Bali Tetap Stabil dan Tumbuh Positif, Posisi Januari 2026

Jbm.co.id-DENPASAR | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di Bali tetap stabil dan tumbuh positif pada Januari 2026. Stabilitas ini terjaga meskipun ditengah dinamika ekonomi global dan domestik yang terus berkembang.

Kondisi tersebut tercermin dari fungsi intermediasi yang berjalan baik, profil risiko yang terkendali, serta likuiditas yang tetap memadai di sektor keuangan Bali.

Kinerja intermediasi perbankan yang meliputi bank umum dan BPR menunjukkan pertumbuhan positif. Penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,92 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp119,29 triliun. Sementara itu, kredit berdasarkan lokasi proyek juga meningkat 7,11 persen yoy menjadi Rp143,66 triliun.

Dari sisi penggunaan, pertumbuhan kredit masih didorong oleh kredit investasi yang naik signifikan sebesar 17,00 persen yoy atau bertambah Rp5,99 triliun. Peningkatan ini terutama ditopang sektor akomodasi, makan minum, dan real estat, yang menunjukkan adanya ekspansi usaha untuk pertumbuhan jangka panjang di Bali.

Selain itu, kredit konsumsi tumbuh 4,75 persen yoy, sementara kredit modal kerja mengalami moderasi tipis sebesar -0,24 persen yoy.

Penyaluran kredit kepada UMKM juga tetap dominan, mencapai 51,19 persen dari total kredit dengan pertumbuhan 4,39 persen yoy. Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, baik dari sisi porsi maupun pertumbuhan.

Dari sektor ekonomi, kredit didominasi oleh sektor bukan lapangan usaha sebesar 33,63 persen dan perdagangan besar serta eceran sebesar 27,31 persen. Pertumbuhan terbesar berasal dari sektor akomodasi dan makan minum yang meningkat Rp2,21 triliun.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,66 persen yoy menjadi Rp204,33 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan tabungan sebesar Rp7,01 triliun. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 58,38 persen, menunjukkan fungsi intermediasi tetap terjaga.

Kualitas kredit juga membaik dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross turun menjadi 2,60 persen dan NPL net sebesar 1,78 persen. Sementara Loan at Risk (LaR) juga menurun menjadi 9,17 persen, mencerminkan perbaikan risiko kredit.

Ketahanan BPR di Bali tetap kuat, dengan rasio permodalan (CAR) sebesar 33,37 persen dan cash ratio 15,17 persen, yang menjadi buffer menghadapi ketidakpastian global.

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Bali mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga Januari 2026, jumlah investor mencapai 369.223 SID atau tumbuh 24,45 persen yoy. Nilai kepemilikan saham bahkan melonjak 59,97 persen menjadi Rp8,73 triliun.

Sementara itu, sektor pembiayaan juga menunjukkan tren positif. Piutang perusahaan pembiayaan tumbuh 3,33 persen yoy menjadi Rp12,18 triliun dengan tingkat risiko yang terjaga. Modal ventura mencatat pertumbuhan 27,39 persen yoy, sedangkan fintech peer to peer lending tumbuh tinggi sebesar 34,97 persen yoy menjadi Rp2,09 triliun.

Dalam aspek literasi dan inklusi keuangan, OJK terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Hingga Februari 2026, OJK Bali telah melaksanakan 29 kegiatan edukasi yang menjangkau 1.830 peserta secara langsung dan sekitar 22.700 orang melalui media sosial.

Selain itu, melalui program GENCARKAN, total kegiatan edukasi di Bali mencapai 229 kegiatan dengan lebih dari 303 ribu peserta. Upaya ini diperkuat melalui sinergi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang telah menggelar 34 kegiatan hingga awal tahun 2026.

Disisi perlindungan konsumen, OJK Bali menerima 299 pengaduan hingga Februari 2026. Mayoritas pengaduan berasal dari sektor fintech peer to peer lending dan perbankan, dengan isu dominan terkait perilaku penagihan dan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

OJK juga terus mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap investasi ilegal. Masyarakat diminta selalu mengedepankan prinsip Legal dan Logis, sebelum memilih produk keuangan.

Dengan berbagai kebijakan, pengawasan, serta sinergi bersama pemerintah dan pelaku industri, OJK optimistis sektor jasa keuangan di Bali akan tetap stabil, kontributif, dan tumbuh berkelanjutan. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button