BaliBeritaDaerahDenpasarPariwisata

92 Persen Wisatawan Bali dan Yogyakarta Pilih Produk Ramah Lingkungan Perkuat Pariwisata Regeneratif

Jbm.co.id-DENPASAR |  Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan semakin memengaruhi arah perkembangan industri pariwisata di Bali. Hasil riset terbaru menunjukkan sebanyak 92 persen konsumen di Bali dan Yogyakarta memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan menginginkan produk yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.

Temuan tersebut menjadi sinyal kuat bagi sektor perhotelan, kafe, dan restoran untuk mempercepat penerapan praktik pariwisata regeneratif. Salah satu fokus utama yang kini didorong adalah perbaikan rantai pasok berbagai komoditas yang dikonsumsi wisatawan agar berasal dari sumber yang berkelanjutan.

Merespons perubahan perilaku konsumen tersebut, Eco Tourism Bali bersama konsorsium ACT! Project menginisiasi kolaborasi untuk memastikan komoditas seperti kopi, kakao, teh, dan minyak sawit yang digunakan industri pariwisata tidak berasal dari praktik yang merusak lingkungan.

Team Lead ACT! Project, Margareth Meutia, menegaskan bahwa tingginya kesadaran konsumen harus diikuti dengan transformasi nyata dalam sistem produksi dan distribusi komoditas.

“Hasil riset kami menyatakan 92 persen konsumen memiliki kesadaran kuat. Sejalan dengan permintaan produk berkelanjutan, kami ingin mengakselerasi konsumsi yang bertanggung jawab, memastikan komoditas tidak ditanam di area rawan deforestasi, serta meningkatkan penghidupan petani lokal,” kata Margareth.

Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi petani lokal melalui penguatan praktik perdagangan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dukungan terhadap transformasi ini juga datang dari sektor perhotelan. The Meru Sanur menjadi salah satu pelaku industri yang berkomitmen mendukung percepatan pariwisata berkelanjutan dengan menjadi tuan rumah kegiatan The Meru Eco Tourism Week.

General Manager The Meru Sanur, Ed Brea, menyebut keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun masa depan pariwisata yang lebih bertanggung jawab.

“Kami percaya acara ini dapat menginspirasi lahirnya ide-ide bermakna dan mempercepat aksi kolektif menuju masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Bali dan Indonesia,” ungkap Ed Brea.

Sementara itu, Co-Founder Eco Tourism Bali, Rahmi Fajar Harini, menilai keberhasilan pariwisata regeneratif tidak cukup hanya melalui perubahan operasional di tingkat hotel. Menurutnya, transformasi harus dimulai dari rantai pasok sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh lingkungan dan masyarakat.

“Pariwisata yang regeneratif tidak dapat bersumber hanya dari operasional hotel. Transformasi harus dimulai dari rantai pasok yang lebih bertanggung jawab, sehingga setiap produk yang dikonsumsi wisatawan memberikan manfaat nyata bagi alam dan petani lokal,” kata Rahmi.

Melalui pendekatan tersebut, kesadaran lingkungan wisatawan dihubungkan langsung dengan peningkatan kesejahteraan petani, perlindungan habitat satwa liar, serta upaya mitigasi perubahan iklim melalui konsumsi komoditas yang bertanggung jawab.

Kolaborasi berbagai pihak ini diharapkan mampu memperkuat posisi Bali sebagai destinasi yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dengan demikian, aktivitas wisata tidak lagi sekadar mengurangi dampak negatif, melainkan turut mendorong pemulihan alam dan kesejahteraan masyarakat lokal melalui konsep nature-positive tourism. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button