Wajah Baru Praja Mandala Singa Ambara Raja Hadirkan Ruang Publik, Sejarah dan Kreativitas di Jantung Singaraja

Jbm.co.id-BULELENG | Senja perlahan turun di pusat Kota Singaraja. Langit memerah dibalik kawasan Palemahan Kauh, sementara aktivitas warga mulai menghidupkan ruang publik yang kini dikenal sebagai Praja Mandala Singa Ambara Raja.
Dahulu dikenal sebagai Titik Nol Kota Singaraja, kawasan ini kini tampil dengan wajah baru. Tidak hanya menjadi titik temu masyarakat di jantung kota, kawasan tersebut juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang interaksi dan wadah kreativitas, khususnya bagi generasi muda.
Penataan kawasan dimulai pada 20 Februari 2026 dengan peletakan batu pertama. Setelah melalui proses penataan, kawasan tersebut diresmikan pada 29 Juli 2026 dengan nama Praja Mandala Singa Ambara Raja.
Konsep penataan memadukan karakter kota tua Singaraja dengan kebutuhan ruang perkotaan modern. Jejak budaya Bali Utara tetap dipertahankan melalui ornamen dan aksen ukiran khas Bali, sementara berbagai fasilitas modern dihadirkan untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat.
Salah satunya melalui pelebaran jalur pedestrian yang memberikan ruang lebih luas bagi pejalan kaki. Penataan utilitas kabel bawah tanah juga membuat wajah kawasan terlihat lebih tertata.
Dibalik perubahan fisiknya, penataan kawasan ini juga membawa pesan tentang bagaimana sejarah dan identitas kota tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Kepala dinas PUTR dan Perkim Buleleng I Putu Adiptha Ekaputra menjelaskan, konsep penataan menggunakan konsep Tri Mandala yakni Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala serta Palemahan Kangin dan Palemahan Kasih.
“Konsep penataan yakni Tembok masing masing pagar rendah, dimana pemimpin dan rakyat akan dekat sekali. Pemerintah dan rakyat saling isi mengisi,” tambahnya.
Nama Praja Mandala Singa Ambara Raja dipilih untuk menguatkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap sejarah Singaraja sebagai pusat pemerintahan pada masa lalu.
Penataan kawasan ini menggunakan konsep Purusa Pradana dan Tri Mandala. “Dengan konsep purusa pradana, purusanya kantor bupati buleleng dan pradana kantor, laksmi graha, ketika ada keseimbangan yang harmonis dan modern maka muncullah kantor galery itu untuk UMKM kedepannya,” ujarnya.
Karakter kota tua tetap dipertahankan, tetapi ruangnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Ketika sore tiba, kawasan ini mulai menunjukkan fungsi lainnya. Warga datang menikmati suasana pusat kota. Anak-anak muda berkumpul, berbincang, dan memanfaatkan ruang terbuka untuk mengekspresikan kreativitas mereka.
Arena gadis kecil berumur 5 tahun yang pernah tampil melenggang dalam fashion show di kawasan Praja Mandala mengaku senang dengan pengalaman pertamanya ini.
“Biasanya tampil diatas panggung,tapi sekarang tampil dijalan raya ditonton pengendara dan pengunjung Titik Nol,” tawanya tersipu.
Bagi generasi muda, hadirnya ruang publik seperti ini memberi pilihan baru untuk beraktivitas tanpa harus meninggalkan pusat kota.
Ruang yang sebelumnya lebih identik sebagai titik perlintasan, kini perlahan berubah menjadi tempat masyarakat berhenti, berinteraksi dan menikmati suasana kota.
Ditengah kawasan, Tugu Singa Ambara Raja tetap berdiri kokoh. Sosok singa tersebut merupakan lambang sekaligus maskot Kota Singaraja dan Kabupaten Buleleng. Keberadaannya menjadi pengingat terhadap sejarah dan kejayaan masa lalu, termasuk sosok Ki Gusti Ngurah Panji Sakti sebagai pendiri Kerajaan Buleleng.
Kini, Praja Mandala Singa Ambara Raja bukan sekadar kawasan yang selesai ditata. Ia menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Sejarah tetap menjadi fondasi, budaya menjadi identitas, sementara ruang publik memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menciptakan aktivitas baru.
Dari jantung Kota Singaraja, wajah baru itu perlahan menemukan maknanya. Sebuah kawasan yang tidak hanya dibangun untuk dilihat, tetapi juga untuk digunakan, dihidupkan, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. (Ul).




