Tumpek Uduh: Momentum Refleksi Ekologis Aksi Nyata Hidupkan Kembali Tri Hita Karana Ditengah Gempuran Krisis Lingkungan
Penulis: I Made Wiraguna (Denok) Yayasan Tri Hita Karana Jambangan, Pakarang Adat

Jbm.co.id-DENPASAR | Ditengah meningkatnya krisis lingkungan global, Hari Raya Tumpek Uduh dinilai tetap relevan sebagai pengingat pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tradisi sakral umat Hindu Bali ini tidak hanya dipandang sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai simbol kesadaran ekologis yang diwariskan leluhur sejak ratusan tahun lalu.
Penulis sekaligus pegiat budaya Bali, I Made Wiraguna atau yang akrab disapa Denok dari Yayasan Tri Hita Karana Jambangan Pakarang Adat, menilai Tumpek Uduh menjadi momentum refleksi di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata.
“Tumpek Uduh bukan sekadar tradisi turun-temurun untuk menghaturkan banten kepada pohon dan tumbuhan. Lebih dari itu, hari suci ini adalah seruan spiritual bahwa kehidupan manusia tidak pernah bisa lepas dari alam. Ketika kita merusak pohon, sesungguhnya kita sedang memutus rantai kehidupan kita sendiri,” tulisnya.

Menurutnya, kondisi lingkungan saat ini menunjukkan tanda-tanda krisis serius. Sungai tercemar limbah rumah tangga dan industri, udara dipenuhi polusi, hutan terus menyusut akibat deforestasi, hingga lahan pertanian mengalami kejenuhan karena penggunaan pestisida kimia berlebihan.
Dalam tradisi Hindu Bali, Tumpek Uduh dikenal juga sebagai Tumpek Pengatag, Tumpek Wariga, dan Tumpek Pengarah. Hari suci ini diperingati setiap Saniscara Kliwon Wariga atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan sebagai bentuk penghormatan kepada Hyang Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pelindung tumbuh-tumbuhan.
Denok menjelaskan, leluhur Bali sejak dahulu telah menanamkan nilai bahwa tumbuhan bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan bagian penting dari kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya.
“Di saat modernitas mendorong manusia untuk mengeksploitasi alam tanpa batas, Tumpek Uduh menarik kita kembali pada keseimbangan,” ujarnya.
Perayaan Tumpek Uduh identik dengan berbagai ritual yang dilakukan di pekarangan rumah, kebun, hingga sawah. Pohon-pohon dihiasi sasat gantungan dari janur dan bunga sebagai simbol penghormatan. Selain itu, masyarakat juga memberikan bubur sumsum di pangkal pohon sebagai lambang kesuburan dan harapan akan hasil panen yang baik.
Prosesi khas lainnya adalah ngatag, yakni mengetuk batang pohon sebanyak tiga kali menggunakan pisau tumpul atau tiuk tumpul. Ritual ini dimaknai sebagai bentuk komunikasi spiritual agar pohon tumbuh subur dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia.
Dalam tulisannya, Denok menegaskan bahwa kekuatan Tumpek Uduh tidak boleh berhenti pada ritual semata. Menurutnya, makna sejati hari suci tersebut terletak pada aksi nyata menjaga lingkungan.
“Tumpek Uduh adalah momentum refleksi ekologis. Ia menantang umat Hindu Bali untuk bertanya: sudah sejauh mana kita menjaga pohon yang kita sembah hari ini?,” tulisnya.
Denok juga menyoroti pentingnya gerakan sosial berbasis lingkungan, seperti “One Man One Tree” dan “Wanita Menanam Pohon” sebagai implementasi nyata nilai-nilai Tumpek Uduh di era modern.
Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menolak illegal logging, hingga mendukung pertanian organik disebut sebagai bagian dari praktik spiritual yang relevan saat ini.
Dalam ajaran Hindu Dharma, konsep tri chanda yang terdiri dari vata, apah, dan ausadha atau udara, air, dan tumbuhan menjadi fondasi kehidupan manusia. Ketiganya dinilai saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Denok juga mengutip ajaran Nitisastra tentang tri ratna atau tiga permata kehidupan yang menempatkan tumbuhan sejajar dengan air dan kebijaksanaan.
“Tumbuhan sering disebut sebagai ‘saudara tua’ manusia. Ia mendahului kita dalam siklus kehidupan, memberi oksigen sebelum kita lahir, dan tetap memberi manfaat bahkan setelah kita tiada,” tulisnya.
Diakhir tulisannya, ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai Tri Hita Karana sebagai jalan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Semoga peringatan Tumpek Uduh tahun ini menjadi titik balik. Mari kita jadikan hari suci ini bukan hanya hari untuk bersembahyang, tetapi hari untuk bergerak, menjaga, dan merawat bumi sebagai warisan suci bagi generasi yang akan datang,” pungkasnya. (ace).




