BeritaDaerahDenpasarLingkungan HidupPemerintahanSosial

Stop Impor!!! Insinyur PII Ciptakan Produk Termuktahir Atasi Masalah Sampah

Jbm.co.id-DENPASAR | Perhitungan formula pertumbuhan industri seharusnya 2-3 kali lipat dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut menandakan bahwa adanya produk-produk yang diciptakan bangsa Indonesia, ternyata dipakai oleh bangsa Indonesia sendiri bahkan bisa diekspor ke luar negeri.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Industri Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ir. Faisal Safa, ST.,MT.,IPU.,ASEAN ENG., ACPE disela-sela acara Seminar Nasional yang diselenggarakan Persatuan Insinyur Indonesia (PPI) bekerjasama dengan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) di Auditorium Taman Asoka, UNHI Denpasar, Senin, 30 Juni 2025.

Formula pertumbuhan industri yang tinggi telah terjadi saat era Orde Baru hingga masa Pemerintahan BJ Habibie sebagai Presiden RI.

“Waktu itu sangat ketat sekali, bagaimana TKDN dikawal oleh satu unit Kepresidenan dan betul-betul kita memiliki kemandirian dan kedaulatan industri waktu itu,” kata Faisal Safa.

Menurutnya, pertumbuhan industri pada tahun 1998 sempat mencapai 29,8 persen dari PDB, karena bangsa disebut sebagai negara industri apabila berada diatas 30 persen dari PDB.

“Kita sudah mendekati waktu itu di era pak Presiden Habibie untuk terjadi transisi Presiden Soeharto ke Presiden Habibie,” terangnya.

Namun, karena gonjang-ganjing dinamika politik terjadinya perseteruan horisontal waktu itu, sehingga Presiden Habibie dengan kesadaran penuh mengundurkan diri. Setelah masa itu, Indonesia tidak berhasil menaikkan pertumbuhan industri.

Hingga saat ini, pertumbuhan industri Indonesia selalu berada dibawah pertumbuhan ekonomi masih dibawah 5 persen.

“Jika itu dibawah 5 persen bisa saja di angka 4,8 persen mungkin pertumbuhan industri jauh dibawah itu. Itu sudah terbukti banyaknya industri-industri yang hari ini tidak mampu bertahan hidup,” bebernya.

Bahkan, pihaknya masih tetap bertahan sebagai industri secara konsisten dan komitmen untuk bisa menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia itu sendiri.

“Namun, off taker barang di Indonesia ini tidak serta merta dengan mudah. Kita sudah lengkap sertifikasi dan lain sebagainya dipersyaratkan oleh sektor industri, namun nyatanya Presiden dan jajaran Menteri masih saja mengendalikan untuk impor barang-barang itu,” urainya.

Jika insinyur Indonesia diberikan kesempatan untuk beberapa sektor yang dibuat dan bisa masif diproduksi dengan menggunakan beberapa industri BUMN yang mati suri hingga saat ini.

Mengingat, industri BUMN itu lebih dominan membuat barang-barang hulu, seperti mesin, yang bisa dilakukan untuk restrukturisasi didalam proses bisnis.

Lagi-lagi, Pemerintah tidak sabar dan selalu berkeinginan cepat yang justru berbanding terbalik dengan sektor industri yang tidak bisa cepat, karena industri itu skala resolusinya di belasan tahun, paling tidak 15 tahun.

“Jika satu siklus Pemerintahan Presiden itu tidak mungkin bisa tercover. Paling tidak, itu di 2-3 kali Pemerintahan Presiden. Jadi, itu durasi 15 tahun untuk pengembangan industri. Beda dengan persoalan industri keuangan bisa cepat siklusnya, tapi kalau kita harus membuat dan ada inovasi dengan prosesnya panjang,” jelasnya.

Meski demikian, saat era dulu ada jargon industri namanya Aku Cinta Indonesia (ACI) yang lebih baik membuat produk industri dibandingkan membeli produk dengan didukung adanya Pameran Produk Indonesia (PPI).

“Itu hari ini yang kita inginkan kembali untuk membuat beberapa produk yang dibutuhkan oleh nasional,” kata Faisal Safa.

Dicontohkan, produk berteknologi hasil karya PPI sudah disosialisasikan di Kementerian Lingkungan Hidup (LH) RI. Oleh karena persoalan bangsa lagi krusial terkait masalah sampah yang semestinya bisa segera diselesaikan.

Terlebih lagi, sejak Orde Baru hingga saat ini penumpukan sampah tidak pernah turun dan volumenya terus meningkat hingga menembus 65 juta ton.

Sesuai pernyataan Menteri LH RI saat Hari Lingkungan Hidup Sedunia disebutkan sampah berhasil dikelola hanya 10 persen. Selebihnya gagal dikelola dengan baik.

“Artinya bisa saja tidak ke TPA bisa saja buangnya di sungai atau di laut dan sebagainya. Ini persoalan harus diselesaikan insinyur,” tegasnya.

Anehnya, para insinyur hanya melakukan sertifikasi terus menerus malah tidak melakukan aksi nyata sebagai seorang yang menciptakan produk industri.

“Insinyur itu khan pencipta tidak selesai dengan sertifikasi insinyur profesional atau sertifikasi program profesi insinyur dan sebagainya, tapi harus diimplementasikan menjadi sebuah produk industri yang dibutuhkan oleh bangsa sendiri,” tambahnya.

Tak hanya itu, pihaknya sudah membuat produk industri yang diharapkan bisa stop impor jika memang dibutuhkan oleh Pemerintah Daerah, yang bisa dimulai dari Provinsi Bali.

“Produk kami sudah ada di Bali yang bisa dijadikan Piloting untuk bisa di replikasi di daerah-daerah lainnya dengan persoalan yang sama,” urainya.

Hal tersebut sudah dideklarasikan oleh Pemerintah agar tidak membuang sampah di TPA, sehingga harus diselesaikan di hulu. Jika hal ini terjadi, maka pertumbuhan industri Indonesia diyakini berada diatas pertumbuhan ekonomi. Paling tidak 1 persen diatas pertumbuhan ekonomi.

Seperti dikatakan Presiden Prabowo, bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, sehingga pertumbuhan industri seharusnya berada diatas 8 persen, misalnya 9-10 persen.

“Jika itu terjadi maka kebutuhan masyarakat Indonesia sudah bisa dilakukan penciptaan produk industri oleh bangsanya sendiri. Itu yang kita harapkan. Buktinya, hari ini produk industri dari Vietnam, Thailand dan negara lainnya sudah masuk ke Indonesia. Kita bisa lihat sendiri. Itu ada produk Baquet, yang ternyata produk Thailand, begitu derasnya arus impor datang ke Indonesia,” tukasnya.

Bahkan, pihaknya tidak bisa menangani permasalahan tersebut, karena hal itu sebagai kebutuhan pasar yang tidak bisa disuplai oleh teknologi.

Contoh konkretnya seperti saat ini permasalahan sampah sulit diatasi, karena diduga ada “Mafia Sampah”, tapi sebenarnya tidak ada produk termuktahir yang hadir untuk memecahkan masalah sampah.

Oleh karena tidak bisa diatasi sampah, maka hadirlah kelompok-kelompok yang disebut “Mafia Sampah”, sehingga ada tiga masalah utama yang harus dicarikan solusinya, yakni sampah, transportasi dan pariwisata.

“Saya pikir dua masalah diambil peran oleh PII, yaitu masalah transportasi dan sampah,” tegasnya.

Patut diketahui, bahwa Faisal Safa dikenal sebagai tokoh keinsinyuran yang memiliki rekam jejak gemilang di berbagai sektor insfratruktur dan teknologi. Diharapkan karya insinyur bisa hadir sebagai solusi sampah. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button