Memaknai Rezeki Lebih Luas, KH. Mahmud Ajak Umat Bersyukur atas Setiap Amanah
"Rezeki itu sangat luas. Ketika kita diberi kesehatan, ketenangan hati, senyum, salam, atau ucapan baik dari orang lain, semua itu adalah rezeki. Hanya saja, sering kali manusia membatasi rezeki sebatas materi"

Pacitan,JBM.co.id-Pendakwah kondang asal Pacitan, KH. Mahmud, mengajak umat Islam untuk memandang makna rezeki secara lebih luas dan mendalam. Menurutnya, rezeki bukan hanya sebatas materi berupa uang atau harta benda, melainkan mencakup berbagai bentuk kebaikan yang sering kali luput disadari dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiyahnya, Kamis (29/1/2026), KH. Mahmud menuturkan bahwa kesehatan, keselamatan, doa orang lain, hingga kepercayaan yang diberikan kepada seseorang juga merupakan bagian dari rezeki yang patut disyukuri.
Ia menekankan bahwa Allah SWT membagikan rezeki kepada setiap hamba sesuai dengan takaran dan hikmah-Nya masing-masing.
“Rezeki itu sangat luas. Ketika kita diberi kesehatan, ketenangan hati, senyum, salam, atau ucapan baik dari orang lain, semua itu adalah rezeki. Hanya saja, sering kali manusia membatasi rezeki sebatas materi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam kehidupan sosial dan dunia kerja, kepercayaan merupakan salah satu bentuk rezeki yang sangat bernilai. Sebab, tidak semua orang mendapatkan amanah atau kepercayaan dari orang lain. Kepercayaan tersebut, kata dia, lahir dari kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak yang baik.
Sebagai contoh, KH. Mahmud menyinggung profesi wartawan yang kerap mendapatkan kepercayaan dari narasumber untuk menulis dan menyampaikan informasi kepada publik. Meski terkadang tanpa imbalan materi, kepercayaan itu sendiri merupakan rezeki yang harus dijaga dan disyukuri.
“Ketika seseorang diberi kepercayaan, sejatinya ia sedang diberi rezeki. Jika dijalani dengan ikhlas dan amanah, Allah SWT akan membuka pintu-pintu rezeki lainnya dari arah yang tidak pernah disangka,” jelasnya.
Lebih lanjut, KH. Mahmud mengingatkan bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar antar hamba. Setiap manusia telah memiliki jatah rezeki masing-masing yang akan terus mengalir selama hayat masih dikandung badan. Rezeki baru akan terhenti ketika seseorang dipanggil menghadap Sang Khalik.
Melalui pesan tersebut, ia mengajak umat untuk memperkuat rasa syukur, menumbuhkan keikhlasan, serta tidak mudah iri terhadap rezeki orang lain. Dengan memahami makna rezeki secara utuh, kehidupan akan terasa lebih lapang, damai, dan penuh keberkahan.(Red/yun).




