BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Ketua DPRD Pacitan: Kopi, Satu Seduhan Sejuta Inspirasi

"Kopi menjelma pemersatu, mempertemukan petani, nelayan, pemuda, tokoh masyarakat, hingga wakil rakyat dalam satu ruang dialog yang jujur"

Pacitan,JBM.co.id-Di balik aroma kopi yang mengepul pelan, tersimpan kisah tentang inspirasi, dialog, dan kebersamaan. Bagi Ketua DPRD Pacitan, Arif Setia Budi, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk atau teman setia di sela-sela aktivitas. Lebih dari itu, kopi adalah simbol ruang temu dan tempat gagasan lahir tanpa sekat.

Di banyak sudut Pacitan, dari warung sederhana hingga kedai modern, kopi telah lama menjadi medium perjumpaan. Di sanalah percakapan mengalir apa adanya. Tanpa podium, tanpa jarak.

Fenomena itulah yang kerap dimaknai Arif Setia Budi atau akrab disapa ASB, sebagai filosofi dalam berpolitik, membangun komunikasi dari hati ke hati.

“Di meja kopi, semua setara,” begitu prinsip yang kerap ia gaungkan. Jabatan, latar belakang sosial, hingga perbedaan pandangan politik seolah mencair bersama hangatnya seduhan.

Kopi menjelma pemersatu, mempertemukan petani, nelayan, pemuda, tokoh masyarakat, hingga wakil rakyat dalam satu ruang dialog yang jujur.

Bagi politisi yang dikenal dekat dengan akar rumput ini, politik tak melulu soal rapat formal dan pidato panjang. “Justru dari obrolan santai sambil menyeruput kopi, banyak aspirasi lahir dan solusi dirumuskan. Satu cangkir kopi bisa membuka seribu cerita tentang harapan, kegelisahan, hingga mimpi masyarakat Pacitan,” terang ASB, di sela-sela berkebun di pertanian Kopi miliknya di Desa Jati Gunung, Kecamatan Tulakan, Rabu (24/12/2025).

Tak berlebihan jika kopi kemudian menjadi metafora kepemimpinan. Sederhana dalam tampilan, namun kaya rasa dan makna. Dari satu seduhan, sejuta inspirasi tumbuh dan menyatu, membentuk semangat kebersamaan yang menjadi fondasi penting dalam membangun daerah.

Di Pacitan, kopi bukan hanya budaya minum. Ia adalah bahasa persatuan. Dan bagi Arif Setia Budi, setiap tegukan kopi adalah pengingat bahwa politik sejatinya hadir untuk menyatukan, bukan memisahkan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button