BaliBeritaDaerahDenpasarPemerintahanPendidikan

Gubernur Koster Tekankan Perkuat Segitiga Ekosistem Cegah Kekerasan Anak

Jbm.co.id-DENPASAR |  Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya dalam mencegah kekerasan terhadap anak dengan mendorong penguatan “segitiga ekosistem”, yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Hal ini disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster, saat menghadiri talkshow perlindungan anak di Gedung Presisi Polda Bali, Jumat, 24 April 2026.

Kegiatan yang melibatkan tenaga pendidik dan siswa ini juga dihadiri oleh Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka serta Daniel Adityajaya. Talkshow turut diisi dengan deklarasi menolak intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menyoroti kompleksitas tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini. Selain tekanan akademik, mereka juga menghadapi dinamika sosial, psikologis, hingga paparan ideologi yang dapat memengaruhi pola pikir.

“Salah satu persoalan yang belakangan menjadi perhatian serius adalah fenomena kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan. Ini adalah persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama,” ujarnya.

Ia juga menyoroti menurunnya sensitivitas sosial dan lemahnya ketahanan nilai yang berpotensi memicu penyimpangan perilaku di kalangan pelajar. Ancaman lain yang dinilai semakin nyata adalah penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) yang menyasar generasi muda.

“Inilah tantangan nyata yang kita hadapi bersama, yang menuntut kewaspadaan, keseriusan, serta langkah yang terarah dan berkelanjutan,” tambahnya.

Gubernur Koster menegaskan bahwa penanganan persoalan ini tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Dibutuhkan pendekatan yang terintegrasi, kolaboratif, dan berkesinambungan melalui segitiga ekosistem perlindungan anak, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, keluarga menjadi fondasi utama dalam penanaman nilai, sekolah berperan memperkuat karakter dan wawasan, sementara masyarakat menjadi ruang aktualisasi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Sinergi ketiganya diyakini mampu menciptakan sistem perlindungan anak yang kuat dan berlapis.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster juga mengapresiasi inisiatif Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri yang menggelar kegiatan tersebut. Ia menilai pendekatan pencegahan berbasis edukasi dan literasi menjadi langkah strategis dalam menghadapi ancaman ideologi.

“Pendekatan yang dilakukan menunjukkan bahwa penanganan ancaman telah berkembang ke arah yang lebih komprehensif, tidak hanya melalui penindakan, tetapi juga melalui pencegahan berbasis edukasi, literasi, serta penguatan wawasan kebangsaan,” urainya.

Menutup sambutannya, Gubernur Koster mengajak seluruh pihak, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga orang tua untuk aktif membangun sistem perlindungan anak yang menyeluruh.

“Kepada para guru, khususnya guru BK, perkuat fungsi pendampingan, pembinaan, dan deteksi dini. Kepekaan Saudara adalah kunci dalam mencegah berbagai potensi permasalahan. Lalu kepada para orang tua dan komite sekolah, keterlibatan aktif saudara adalah fondasi utama dalam membangun ketahanan anak,” pungkasnya.

Sementara itu, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menyambut baik kolaborasi lintas sektor dalam upaya perlindungan anak.

“Mari kita lanjutkan dan tingkatkan kolaborasi lintas sektor baik di pusat maupun daerah untuk memastikan deteksi dini. Respon cepat dan pendampingan yang tepat bagi anak-anak,” tutupnya.

Kapolda Bali Daniel Adityajaya juga memaparkan langkah preventif yang telah dilakukan, seperti program police goes to school dan edukasi literasi digital.

“Langkah preventif ditempuh dengan mengintensifkan patroli siber, komunikasi, koordinasi dan kolaborasi aktif di bidang pendidikan. Kita juga melakukan langkah represif seperti penegakan hukum dan deradikalisasi terhadap mereka yang terpapar radikalisme, intoleransi hingga jaringan terorisme,” pungkasnya. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button