BeritaDaerahPemerintahanPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Dibalik Euforia dan Gemerlap Malam Pergantian Tahun, Legislator Rudi Han Ajak Buka Ruang Kesadaran Dan Empati

"Ditengah gemerlap yang lazim menyelimuti malam tahun baru, tidak semua sudut negeri sedang dalam suasana bahagia"

Pacitan,JBM.co.id-Ketika malam pergantian tahun biasanya ditandai dentuman kembang api dan riuh perayaan, Ketua Komisi II DPRD Pacitan, Rudi Handoko, justru mengajak masyarakat untuk sejenak menurunkan volume euforia. Bukan untuk menghapus sukacita, melainkan memberi ruang pada kesadaran dan empati.

Di tengah gemerlap yang lazim menyelimuti malam tahun baru, Rudi Handoko mengingatkan bahwa tidak semua sudut negeri sedang dalam suasana bahagia.

Di Sumatera dan Aceh, ribuan warga masih bergulat dengan luka dan kehilangan akibat bencana alam. Sebuah realitas yang patut menjadi cermin bersama, bahwa pergantian waktu tak selalu datang dengan tawa.

“Pergantian tahun semestinya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,” tutur Rudi, dengan nada yang teduh, Ahad (28/12/2025).

Legislator yang telah lima kali mendapat amanah rakyat ini memandang malam tahun baru bukan sekadar soal hitungan detik menuju angka satu, tetapi kesempatan untuk menata ulang batin.

Dewan keterwakilan daerah pemilihan Kecamatan Tulakan-Kebonagung ini mendorong masyarakat Pacitan mengisi malam pergantian tahun dengan doa, refleksi diri, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Harapan itu sederhana namun dalam, Pacitan yang aman, sentosa, dan masyarakat yang hidup dalam kebahagiaan serta kesejahteraan.

Seiring kian ramainya Pacitan sebagai destinasi wisata unggulan, Rudi Handoko juga menaruh perhatian pada tantangan sosial yang mengiringinya. Arus wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, membawa keberkahan ekonomi sekaligus potensi gesekan nilai.

Di titik inilah, menurutnya, kearifan lokal harus berdiri kokoh sebagai penyangga. Tradisi, norma, dan nilai religius yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat Pacitan, jangan sampai larut oleh budaya asing yang menjauhkan manusia dari kemuliaan akhlak.

“Mabuk-mabukan, narkoba, atau perilaku menyimpang bukan bagian dari jati diri Pacitan,” tegasnya.

Bagi Rudi Handoko, menjaga Pacitan bukan semata urusan kebijakan dan regulasi, tetapi juga soal keteladanan moral. “Malam tahun baru adalah waktu yang tepat untuk mengingat kembali siapa kita dan ke mana arah langkah akan dituju,” tutur politikus Demokrat ini.

Maka, di saat jarum jam perlahan bertemu di titik pergantian, Rudi mengajak masyarakat Pacitan menghiasinya dengan istiqomah, memohon petunjuk, kesehatan, dan keselamatan dari Sang Maha Kuasa. Sebab, dari doa-doa yang lirih itulah, harapan akan tahun yang lebih bermakna dilahirkan.(Red/yun). 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button