Deflasi Pacitan Capai 3,55 Persen pada Minggu Ketiga Juli 2026, Harga Cabai dan Bawang Jadi Pemicu Utama
"Penurunan harga ini terutama dipicu oleh turunnya harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah"

Pacitan,JBM.co.id-Kabupaten Pacitan kembali mencatatkan perkembangan harga yang menggembirakan. Berdasarkan hasil pengolahan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Pacitan pada minggu ketiga Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 3,55 persen.
Penurunan harga ini terutama dipicu oleh turunnya harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah, yang selama beberapa bulan terakhir menjadi komoditas paling berpengaruh terhadap dinamika harga pangan.
Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Ayub Setyo Budi, mengatakan bahwa kondisi tersebut menunjukkan pasokan komoditas hortikultura di daerah relatif terjaga sehingga mampu menekan laju harga di tingkat konsumen.
“Deflasi pada minggu ketiga Juli ini terutama disebabkan oleh penurunan harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah. Kondisi ini menjadi indikator bahwa ketersediaan pasokan cukup baik, sehingga harga komoditas pangan strategis kembali bergerak turun,” ujar Ayub, Senin (20/7/2026).
Secara nasional, IPH Kabupaten Pacitan berada di peringkat ke-329, sementara di tingkat Provinsi Jawa Timur menempati urutan ke-21, dan berada di peringkat ke-69 di Pulau Jawa.
Meski mencatat deflasi mingguan yang cukup dalam, perkembangan harga sepanjang tahun masih berada dalam kondisi yang terkendali. Hingga Juni 2026, inflasi tahunan (year on year/yoy) tercatat sebesar 2,30 persen, inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar -2,13 persen, sedangkan inflasi bulanan (month to month/mtm) Juni berada di angka -1,09 persen.
Data perkembangan IPH juga menunjukkan fluktuasi harga yang dinamis sejak awal tahun. Pada Januari Pacitan mengalami deflasi 5,21 persen, kemudian berbalik inflasi pada Februari sebesar 4,73 persen dan Maret 1,28 persen. Memasuki April kembali terjadi deflasi 2,87 persen, Mei mengalami inflasi tipis 1,03 persen, Juni deflasi 1,09 persen, dan pada minggu ketiga Juli deflasi kembali melebar menjadi 3,55 persen.
Ayub menjelaskan, hampir setiap bulan pergerakan harga di Pacitan masih didominasi oleh komoditas hortikultura, terutama cabai rawit dan cabai merah, yang sangat dipengaruhi musim panen serta distribusi pasokan.
“Cabai rawit hampir selalu menjadi komoditas utama penyumbang inflasi maupun deflasi. Ketika produksi meningkat, harga turun cukup tajam dan berdampak signifikan terhadap IPH. Sebaliknya, saat pasokan berkurang, komoditas ini menjadi penyumbang inflasi terbesar,” jelasnya.
Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Dinas Perdagangan dan Ketenagakerjaan Kabupaten Pacitan, pada minggu ketiga Juli tidak terdapat komoditas yang mengalami kenaikan harga. Sejumlah bahan pokok seperti beras medium, Minyakita, daging sapi, gula pasir, pisang, dan jeruk tercatat stabil.
Sementara itu, beberapa komoditas mengalami penurunan harga dibandingkan rata-rata Juni 2026, yakni minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih.
Di tingkat Provinsi Jawa Timur, Pacitan menjadi salah satu daerah yang mengalami deflasi cukup tinggi. Namun, kondisi tersebut sejalan dengan tren yang juga terjadi di sebagian besar kabupaten dan kota di Jawa Timur, di mana penurunan harga cabai rawit, cabai merah, bawang merah, serta daging ayam ras menjadi faktor utama pembentuk deflasi.
Ayub menambahkan, pemerintah daerah akan terus melakukan pemantauan perkembangan harga melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait agar stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan tetap terjaga.
“Pemerintah Kabupaten Pacitan bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus memonitor perkembangan harga, memastikan distribusi berjalan lancar, dan menjaga kecukupan pasokan. Langkah ini penting agar stabilitas harga tetap terpelihara sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat maupun petani,” pungkasnya.(Red/yun).




