Arak Keling, Jajanan Tradisional Pacitan yang Menyimpan Filosofi Angka Kesempurnaan. Ini Penjelasan Tokoh Spiritual Amad Taufan
"Angka delapan dimaknai sebagai simbol kesempurnaan. Dalam deret angka 0 sampai 9, delapan menjadi lambang keseimbangan dan keberlanjutan"

Pacitan,JBM.co.id-Arak keling bukan sekadar jajanan tradisional yang akrab di lidah masyarakat Pacitan. Kudapan berbahan dasar tepung tapioka dengan balutan gula pasir ini ternyata menyimpan nilai filosofis mendalam yang diwariskan lintas generasi.
Selama ini, arak keling dikenal sebagai suguhan khas dalam berbagai momen keagamaan dan sosial. Mulai dari berkat tahlilan, kenduri warga, hingga hidangan wajib saat Hari Raya Idul Fitri. Kehadirannya bukan hanya pelengkap meja, tetapi simbol kebersamaan dan keberkahan.
Tokoh spiritual Pacitan, Amad Taufan, mengungkapkan bahwa arak keling hampir selalu dibentuk menyerupai angka delapan. Menurutnya, bentuk tersebut bukan kebetulan, melainkan sarat makna filosofis.
“Angka delapan dimaknai sebagai simbol kesempurnaan. Dalam deret angka 0 sampai 9, delapan menjadi lambang keseimbangan dan keberlanjutan. Dalam pemahaman hongshui maupun pengshui, angka ini juga dipercaya membawa harmoni,” jelas Amad Taufan, Rabu (31/12/2025).
Ia menambahkan, istilah arak merepresentasikan kenikmatan hidup, sementara keling dimaknai sebagai lingkaran yang menyatu dan tidak terpisahkan. Kombinasi keduanya menggambarkan siklus kehidupan yang saling terhubung.
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pacitan itu menegaskan, filosofi arak keling mengajarkan manusia untuk hidup selaras. Menyatu dengan alam, menjaga hubungan dengan sesama, serta senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta.
“Makna angka delapan pada arak keling adalah pesan tentang kehidupan yang utuh, berkesinambungan, dan tidak terputus,” tambah mantan camat di sejumlah wilayah ini.
Arak keling, sambung dia, tidak hanya menjadi jajanan warisan budaya, tetapi juga simbol kearifan lokal Pacitan. Di balik kesederhanaannya, tersimpan nilai kehidupan yang relevan hingga hari ini dan mengajarkan harmoni, kebersamaan, serta makna kesempurnaan hidup.(Red/yun).




