INSTIKI dan HOCA Gelar Program Inovasi Seni Nusantara 2026 Hadirkan Pameran UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable Satukan Seni dan Teknologi Blockchain

Jbm.co.id-DENPASAR | Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) bersama House of Creative Artist (HOCA) menyelenggarakan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia.
Program ini menjadi bagian dari upaya menyatukan seni, pendidikan, teknologi dan perlindungan karya kreatif.
Puncak kegiatan PISN 2026 diwujudkan melalui pameran seni visual “UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable” dibuka secara resmi oleh Dr. I Made Marthana Yusa, S.Ds., M.Ds (Ketua Panitia), Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn (Ketua HOCA), Greatta Agatha (Baliola), Anak Agung Gede Putra Wira Antara (Park23 Creative Hub Manager) dan Perwakilan SMKN 1 Denpasar di Park 23 Creative Hub, Tuban, Bali, pada 7 Agustus 2026.

Pameran ini diselenggarakan oleh INSTIKI dan HOCA dengan dukungan teknologi dari KRAFLAB yang dikembangkan oleh BALIOLA.
Festival Seni Utopia 2026 menjadi ajang kreatif yang mempertemukan beragam talenta dari Bali hingga Makassar.
Tercatat 32 karya mahasiswa dari INSTIKI dan ISI Bali, menampilkan eksplorasi artistik penuh semangat muda. 29 karya siswa dari SMKN 1 Denpasar dan SMK Duta Bangsa Denpasar, menghadirkan ide segar dengan energi generasi baru. Sementara 11 karya seniman dari Bali, Jakarta, dan Makassar, memperkaya pameran dengan perspektif profesional lintas daerah.
Apa yang Diselenggarakan?
PISN 2026 merupakan program yang menggabungkan kegiatan edukasi, pengembangan komunitas seni, pemanfaatan teknologi, serta penguatan pemahaman mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).
Rangkaian program meliputi sosialisasi mengenai pentingnya perlindungan karya cipta kepada siswa SMK dan mahasiswa, workshop penggunaan KRAFLAB, serta pameran seni visual UTOPIA 2026 sebagai kegiatan puncak. Melalui KRAFLAB, peserta mendapatkan pengalaman dalam membuat identitas kreator digital, mengunggah karya, mengikuti proses kurasi, dan memperoleh sertifikat digital berbasis blockchain.
Siapa yang Terlibat?
Program ini melibatkan berbagai pihak, yaitu INSTIKI, HOCA, BALIOLA melalui KRAFLAB, serta Kemendiktisaintek. Pameran juga mempertemukan peserta dari berbagai generasi dan latar belakang.
Peserta berasal dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual dan UKM GRADASI INSTIKI, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI), siswa SMK Negeri 1 Denpasar, siswa SMK Duta Bangsa Denpasar, serta anggota HOCA dan perupa senior. Kegiatan ini juga dikuratori oleh Dr. I Made Marthana Yusa, M.Ds dan Yere Agusto.

Selain itu, HOCA dalam program ini memperkenalkan identitas barunya. Sebelumnya HOCA merupakan singkatan dari House of Cartoon Mania, dan kini menjadi House of Creative Artist. Perubahan tersebut menandai perluasan cakupan komunitas dari seni kartun dan ilustrasi ke bidang seni rupa, desain komunikasi visual, seni digital, dan berbagai bentuk kreativitas lainnya.
Mengapa Program Ini Dilaksanakan?
Program ini dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman para pelaku seni dan generasi muda mengenai pentingnya perlindungan karya kreatif di tengah perkembangan teknologi digital.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), memberikan peluang baru bagi seniman sekaligus menghadirkan tantangan terhadap orisinalitas, kepemilikan, dan perlindungan karya. Karena itu, PISN 2026 tidak hanya berbicara tentang menghasilkan karya seni, tetapi juga bagaimana karya tersebut dapat didokumentasikan dan dilindungi.
Melalui tema “UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable”, pameran mengajak publik melihat kembali hubungan antara manusia, teknologi, dan kehidupan di Bali. Tema tersebut mempertemukan gagasan tentang Utopia sebagai kondisi ideal dengan Distopia sebagai kondisi yang penuh persoalan, khususnya dalam menghadapi perkembangan AI dan perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Bagaimana Program Ini Dilaksanakan?
Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, peserta mendapatkan edukasi mengenai HaKI dan pentingnya melindungi karya. Kedua, peserta mengikuti workshop KRAFLAB untuk mempelajari proses sertifikasi digital berbasis blockchain. Ketiga, karya yang telah melalui proses seleksi dan kurasi ditampilkan dalam pameran UTOPIA 2026.
Teknologi blockchain digunakan untuk membantu menyediakan catatan kepemilikan karya secara digital. Dalam program ini, KRAFLAB menjadi salah satu sarana untuk membantu kreator mendokumentasikan dan memberikan bukti digital terhadap karya yang mereka hasilkan.

Pameran tahun 2026 juga merupakan pengembangan dari penyelenggaraan UTOPIA sebelumnya. Jika UTOPIA 2025 lebih banyak melibatkan perupa senior HOCA, UTOPIA 2026 memperluas keterlibatan dengan menghadirkan mahasiswa, siswa SMK, dan perupa profesional dalam satu ruang pamer.
Membangun Ekosistem Seni dan Teknologi
Melalui PISN 2026, INSTIKI dan HOCA berupaya membangun ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas seni, generasi muda, industri kreatif, dan teknologi.
Program ini juga menargetkan penerbitan sedikitnya 50 sertifikat digital berbasis blockchain bagi karya-karya yang terkurasi serta peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya HaKI dan teknologi blockchain.
Penyelenggaraan PISN 2026 dan pameran UTOPIA 2026 diharapkan dapat menjadi contoh bahwa seni dan teknologi dapat berjalan bersama. Tidak hanya menghasilkan karya visual, program ini juga mendorong generasi muda untuk lebih memahami nilai karya, pentingnya perlindungan hak cipta, serta tantangan kreativitas di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Melalui kolaborasi antara INSTIKI, HOCA, BALIOLA/KRAFLAB, dan Kemendiktisaintek, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem seni dan ekonomi kreatif sekaligus membuka ruang dialog mengenai masa depan manusia, seni, budaya, dan teknologi. (red/tim).




