Desa Penglipuran Fokus Pariwisata Berkualitas 2026, Perkuat Budaya, Lingkungan Hingga Digitalisasi

Jbm.co.id-DENPASAR | Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli memastikan kunjungan wisatawan masih tetap stabil, meski menghadapi berbagai tantangan global, termasuk isu konflik ekonomi global.
Pada tahun 2026, Desa Penglipuran tidak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi lebih fokus meningkatkan kualitas pengalaman wisata.
Ketua Badan Usaha Desa Penglipuran, I Wayan Sumiarsa mengatakan arah pengembangan pariwisata saat ini lebih menekankan pada program kerja berkualitas dengan menjaga tradisi, budaya, lingkungan serta memberikan pengalaman mendalam bagi wisatawan.
“Ketika wisatawan datang ke Desa Penglipuran itu betul-betul mendapatkan sebuah pengalaman yang mendalam tentang tradisi dan budaya yang dimiliki Desa Penglipuran,” kata Ketua Badan Usaha Desa Penglipuran, I Wayan Sumiarsa didampingi Pengamat Ekonomi dan Pariwisata Bali Trisno Nugroho, Humas Bank Indonesia Bali Gede Panca dan Pengamat Kebijakan Publik, Umar Ibnu Alkhatab, saat Simakrama Media bersama Desa Penglipuran Bangli di Tuniang Bali, Jalan Tukad Gangga Nomor 23 B, Denpasar, Senin, 22 Juni 2026.
Menurut Wayan Sumiarsa, konsep pariwisata berkualitas yang dikembangkan Desa Penglipuran mencakup pelayanan terbaik, lingkungan yang tetap bersih serta pelestarian adat istiadat masyarakat setempat.
Salah satu program yang sedang dikerjakan adalah pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) melalui kolaborasi bersama Bank Indonesia. Program tersebut bertujuan memperkuat posisi Desa Penglipuran sebagai salah satu desa wisata yang dikenal bersih dan ramah lingkungan.
“Jadi, Bank Indonesia hadir untuk membantu kami bagaimana Penglipuran ini tetap bersih terkait tata cara pengolahan sampah dengan sebaik-baiknya,” kata Wayan Sumiarsa.
Wayan Sumiarsa menjelaskan, pembangunan TPS3R tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2026. Saat ini progres pengerjaan sudah mendekati 75 persen dan sejumlah mesin pengolahan sampah telah terpasang di Desa Penglipuran.
Selain penguatan lingkungan, Desa Penglipuran juga melakukan peningkatan fasilitas wisata melalui pembangunan relief menuju kawasan hutan bambu. Fasilitas tersebut nantinya menjadi ruang edukasi bagi wisatawan untuk mengenal sejarah dan perjalanan Desa Penglipuran.
Menurutnya, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan kawasan, tetapi juga dapat memahami asal mula Desa Penglipuran hingga berkembang menjadi desa wisata seperti sekarang.
Program lainnya adalah penataan kawasan hutan bambu dengan perbaikan jogging track. Bahkan, Desa Penglipuran telah menggelar Fun Run perdana di kawasan tersebut yang mendapat antusias tinggi dari wisatawan.
Selain infrastruktur, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat lokal juga menjadi perhatian serius.
Melalui berbagai pelatihan bersama Bank Indonesia, warga didorong mampu memberikan pelayanan dan pengalaman wisata yang lebih baik.
Wayan Sumiarsa menegaskan, perkembangan pariwisata harus memberikan dampak langsung kepada masyarakat Desa Penglipuran.
“Salah satunya, kami berikan insentif ke masing-masing warga Penglipuran berupa bantuan sosial. Kami juga menguatkan bangunan-bangunan tradisional yang kita konservasi di Penglipuran,” kata Wayan Sumiarsa.
Wayan Sumiarsa menyebut, Desa Penglipuran memberikan subsidi kepada masyarakat untuk mempertahankan tiga bangunan tradisional yang menjadi ikon desa, yakni angkul-angkul, dapur dan bale saka enem. Bangunan tersebut wajib dipertahankan dengan material bambu sebagai bagian dari konservasi budaya. Pendanaan berasal dari sektor pariwisata sehingga wisatawan secara tidak langsung ikut berkontribusi menjaga tradisi arsitektur Bali.
“Hal itu merupakan suatu hal yang terus kami dorong. Jadi, wisatawan tidak hanya berfoto-foto, tapi mereka bisa ikut berkontribusi didalam menjaga tradisi budaya yang kami punya,” terangnya.
Selain menjaga budaya, Desa Penglipuran juga memperkuat UMKM lokal agar manfaat ekonomi pariwisata semakin dirasakan masyarakat.
Dalam pengelolaan pariwisata, Desa Penglipuran membentuk Badan Usaha Desa Penglipuran sebagai upaya menuju tata kelola yang berkelanjutan, regeneratif, transparan dan akuntabel.
Menurutnya, digitalisasi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan Desa Wisata Penglipuran. Bersama Bank Indonesia, sistem pembayaran digital terus diperkuat melalui penggunaan QRIS, Visa Card dan Master Card.
“Jadi, wisatawan yang datang ke Penglipuran ini sekarang sudah dilayani dengan pelayanan digitalisasi, dimana mereka bisa dilayani QRIS, Visa Card dan Master Card serta semuanya yang sistem pembayaran itu melalui digitalisasi,” kata Wayan Sumiarsa.
Wayan Sumiarsa mengungkapkan, transaksi non tunai di Desa Penglipuran meningkat signifikan hingga mencapai 40 persen dari sebelumnya nol persen.
“Dulunya memang sangat sulit melakukan itu, tapi dengan kita terus melakukan komunikasi dengan Bank Indonesia serta mencari solusi, sehingga sekarang tahun 2026 ini semakin memantapkan diri kita dengan Desa Wisata Digital, salah satunya sistem pembayaran,” ujarnya.
Selain pelayanan digital, wisatawan yang berkunjung ke Desa Penglipuran juga telah mendapatkan perlindungan asuransi sesuai paket yang dibayarkan.
Untuk menjaga keberlanjutan kunjungan wisatawan, Desa Penglipuran juga menggelar Penglipuran Village Festival 2026 yang mengusung tema “Keharmonisan Bumi Penglipuran Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif”. Festival tersebut akan berlangsung pada 9-11 Juli 2026 mendatang.
Wayan Sumiarsa menjelaskan, konsep inklusif dalam festival tersebut melibatkan berbagai unsur mulai dari masyarakat, komunitas, seniman, pemerintah hingga media.
Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, tahun ini Desa Penglipuran memberikan ruang lebih besar bagi penyandang disabilitas untuk tampil dalam kegiatan festival.
“Jadi, nanti pada saat Pembukaan Penglipuran Village Festival, kita akan banyak berikan ruang buat teman-teman dan saudara-saudara kita, khususnya para penyandang disabilitas untuk melakukan pementasan,” kata Wayan Sumiarsa.
Festival tersebut juga menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari budaya, lingkungan hingga kesehatan. Pada hari kedua akan digelar workshop lingkungan yang melibatkan wisatawan secara langsung, sementara kegiatan kesehatan dikemas melalui Yoga Ketawa. “Jadi, semuanya ini akan mencakup tema yang kita tetapkan,” kata Wayan Sumiarsa.
Wayan Sumiarsa menambahkan, konsep regeneratif dalam festival tersebut bertujuan agar wisatawan tidak hanya datang menikmati destinasi, tetapi ikut memberikan manfaat bagi perkembangan Desa Penglipuran.
Melalui konsep Something to Learn, Something to Do, Something to Buy dan Something to See, wisatawan akan mendapatkan pengalaman berbeda, seperti belajar membuat bambu painting, menikmati keindahan tata ruang hutan bambu hingga membeli produk lokal masyarakat.
“Itu secara umum tentang kegiatan Festival Desa Penglipuran dan memang di tahun ini kita lebih banyak mengarah kepada kegiatan berkualitas dan bermanfaat untuk kami di Penglipuran dan juga untuk wisatawan yang nanti berkunjung ke Penglipuran Village Festival ke-13 di tahun 2026,” pungkasnya. (ace).




